Berdua.

Lembutnya cercah cahaya mentari pagi menyeruak memasuki sela jendela kamar Yoongi, membuat sang pria mengerjap beberapa kali sebelum terjaga dari lelapnya.

Ia menengok pada langit-langit kamarnya yang berwarna putih, sempat membuat pandangan kabur akibat silau yang dibiaskan, sebelum ia akhirnya mengalihkan fokus.

Ia merasa sekujur tubuhnya nyeri, kali saja kurang tidur adalah salah satu alasan yang konkret—namun ia memilih abai.

Ia melirik pada jam kukuk tua yang masih nyaring mendentingkan bandulnya delapan kali, pertanda bahwa sudah seharusnya ia memulai kegiatan sejak dua jam lalu.

Ia menekan pundaknya sendiri, anggapnya akan mengurangi derit tulang yang mulai keropos pada usia senjanya. Dengan segera bangkit dari baringnya, meraba pada sprai lembut sewarna anggur merah hingga ia menemukan sosok yang ia cari berada dalam jangkauan.

Ia menggoyangkan daksa itu ringkas, dia kemudian mendapat sebuah keluhan yang berfrasa sebagai jawaban. Namun Yoongi bukannya ikut mengeluh, sang pria sekata menggumamkan balasan sayang.

“Sayang, ayo bangun. Aku akan membuatkanmu panekuk kesukaanmu kalau kamu bangun sekarang.”

Yang lebih muda membuka matanya cepat, sebuah senyum merekah di wajahnya.

Ah, selalu suka. Yoongi akan selalu menyukai wajah cantik itu tersenyum padanya. Walau dengan keriput dan pucat yang bersandar di sana.

“Benar?” Dia bertanya sebelum dengan perlahan berusaha menggerakkan tubuhnya untuk bangkit dari kasur.

“Iya.” Dia mengulurkan tangannya, “Ayo, aku bantu.”

Sosok adirupa itu mencibir pada Yoongi, sang pria sulelah menjelaskan perkara yang palsu di mata sang lawan bicara.

“Ah, aku bisa sendiri, Yoongi! Kamu tidak perlu membantuku berdiri!” Ada tone yang serupa kekesalan terdengar dari suara indahnya, masih nyaring seperti hari-hari lainnya — walau kini terdengar lebih lemah dari seharusnya.

Walau menolak, telapak tangan itu juga ia terima.

Yoongi merasakan telapak tangan itu lembut menggurat di tangannya, namun dingin yang merambat di ujung jari membuat sedikit cercah sedih mencuah pada wajah.

Namun Yoongi menepis pikiran gelapnya sebelum ia pada akhirnya berkata, “Ayo, mandi dulu.”

Sang pria yang menjadi lawan bicara mencebik, “Aku bukan anak kecil, Min Yoongi.”

“Tentu, Min Jimin.”

Yang disebut Jimin memutar bola matanya malas, sebelum ia mengulum senyum dalam diamnya.

Kamar mandi itu tidak jauh, benar-benar hanya di seberang kasur. Namun Yoongi mengambil waktunya untuk menopang Jimin yang berjalan perlahan menuju kamar mandi.

Kakinya melangkah berat, dan Yoongi dapat mendengar rintih pelan dari Jimin setiap ia melangkah.

Jimin duduk pada sebuah kursi mungil di sana, ia menunggu sejenak untuk mengambil napasnya.

“Ayo, aku bantu melepas bajumu.” Yoongi berkata, sebelum membantu Jimin membuka sweater-nya.

Jimin menjawab dengan nada bercandanya, “Tuan Min mesum sekali, membantuku membuka baju setiap hari.”

Yoongi tergelak, “Aku tidak tertarik pada kakek-kakek berusia 73 tahun.”

Yang kini disirami air hangat pada rambutnya ikut tertawa, “Lalu kenapa kamu menikahiku, Pak Tua?”

“Aku tidak sengaja menandatangani kontrak nikah kita.”

Jimin membelokan matanya, “Jahat!”

Yoongi meraih botol shampo yang ada di atas rak sebelum menuangkan sedikit pada puncak kepala sang kekasih, pijatan lembut itu pula perlahan menghasilkan buih — sedikitnya membuat sang empunya terkikik geli.

Karena aku mencintaimu.

Yoongi selalu begitu, ia akan selalu kesulitan mengucapkan rasa cintanya. Entah ia merasa ia bukan hanya mencintai sang kekasih, namun perasaannya melebihi itu semua.

Yoongi akan selalu sama terlena dengan semburat merah cerah pada tulang pipinya, karena setiap kali ia mendelikkan mata, ia akan semakin jatuh cinta.

Yoongi akan selalu sama, mendengar geritu dan cerita kecil yang keluar dari bilah bibir suaminya.

Yoongi akan selalu sama berbunga, setiap memandang pada kekasihnya.

Ia selalu merasa berbahaya melihat Jimin, setiap kali menengok pada wajah indahnya, Yoongi tahu ia akan semakin jatuh cinta.

Jatuh cinta … Ah, benar saja. Ia selalu jatuh cinta. Ia tak tahu ini disebut cinta apa, namun nyatanya akan selalu sama.

Cinta.

Yoongi menyadari bagaimana Jimin melirik padanya, lalu kembali terkikik. Katanya, “Iya, iya … Aku tahu kamu mencintaiku.”

Yang lebih tua memutar bola matanya malas, namun dengan sayang pula ia tetap membilas rambut yang kian memutih itu. Ia memilah helai rambut itu sebelum telapaknya berakhir menangkup wajah Jimin.

Yoongi tersenyum lembut sebelum mendaratkan sebuah kecupan pada pucuk kepala sang suami, membauinya lama, sebelum ia berbisik. “Selalu mencintaimu, kamu tahu?”

Ia tak menunggu jawaban, langsung meraih bathrobe di dekat sana dan melampirkannya pada bahu Jimin, membantunya berjalan keluar dari kamar mandi, dan menyiapkannya dalam setelan semi-formal yang berwarna hitam.

Di atas dining table, Jimin membualkan isi pikirannya sementara Yoongi memenuhi janji untuk membuat panekuk.

Dia menggumam sekejap sebelum berkata, “Ini pertemuan ke berapa, Min? Rasanya aku sudah melakukan treatment ratusan kali, aku sudah bosan.”

“Aku bahkan nyaris lupa tanggal ulang tahunku jika yang lain tidak menghubungi, dan kamu harap aku ingat jumlah treatment yang sudah kamu jalani?” Yoongi membalas santai.

Yang duduk santai mengamati Yoongi itu mendengus, “Kakek tua ini sudah pikun rupanya.”

Ia melihat bagaimana Yoongi mendelik, Jimin pula terkekeh karenanya. Melanjutkan, “Karena saking banyaknya, apa tidak boleh aku bolos sehari?”

“Tidak.”

Jimin merenggut atas kecepatan Yoongi menjawab perkataannya, “Aku ingin menghabiskan sisa masaku denganmu, Tuan Tangan Besar.”

Yoongi tak senang pada kongkong asal itu, tidak akan pernah.

“Aku betulan akan membolos, kamu tahu.”

Mereka hidup bersama, sudah terlalu lama. Yoongi tidak mengerti lagi bagaimana bernyawa jika separuh jiwanya tak lagi ada di sisinya.

Sisa-sisa masa lalu yang mereka katakan bisa terlewati, bagi Yoongi mereka selalu mengintili tepat di balik punggungnya.

Bagaimana kebiasaan Jimin yang dulunya dianggap tidak berbahaya menunjang akibat pada tubuhnya saat ini, membuat Yoongi marah. Namun ia tidak akan pernah bisa menyalahkan siapa pun. Yang bisa mereka berdua lakukan hanyalah terus berjalan, selama yang mereka mampu.

Yoongi menaruh piring berisikan panekuk itu di hadapan Jimin, sebelum kemudian duduk di sisinya. Pula yang wajahnya berseri dengan segera menyauk potongan kue itu masuk ke dalam mulutnya. Ia memejamkan matanya untuk mengenali rasa familier itu sekali lagi, sebelum menggumamkan senangnya perlahan.

Yoongi hanya diam di sana, mengamati bagaimana sang kekasih menyenangi panekuk buatannya. Ia hanya menatap lurus dengan senyumannya yang naik hingga ke mata, merambatkan keriputnya yang nampak semakin memesona.

Jimin mengangkat wajahnya, sebelum ia tersenyum miring. Diangkatnya garpu dengan panekuk itu pada hadapan Yoongi. “Buka mulutmu,” suruhnya.

Tak menolak, potongan kue itu dengan pasti masuk ke dalam mulutnya. Pula aroma kayu manis yang kuat menyengat hidungnya, bersamaan dengan sirup mapel yang bercurah. Dia mendengar bagaimana Jimin tertawa pelan, dan menyisakan Yoongi sebuah kebingungan yang entah bagaimana terasa menyenangkan di dadanya.

“Jimin, aku bersiap dulu, ya?”

Ia berdiri dari duduknya, mengulurkan waktunya untuk mengamat bagaimana Jimin menghabiskan panekuk itu dan menunjuk ke arah luar.

“Boleh aku duduk di luar selagi menunggumu?” Dia bertanya, dan Yoongi merasa tidak ada yang salah dengan permintaan itu. Dia meng-iya-kannya.

Yoongi tahu, Jimin memang suka duduk di luar teras untuk memandang kebun mereka yang hijau dengan tanaman-tanaman yang mengeksploitasi mata. Jimin dulunya yang menanam mereka.

Duduk di sana membuat dirinya sedikit lebih tenang—begitu yang Yoongi pahami.

Jimin menarik ujung kaus Yoongi ketika sang pria baru saja akan beranjak. Matanya menatap dengan gemilap, lurus pada netra Yoongi. Jimin bergeming ketika ia menanyakannya. Pria itu meninggalkan sebuah senyum cantik, ketika lagi ia melepaskan kaitan.

Sesuatu seolah bermekaran lagi di dalam sana, tepat setelah Yoongi memutuskan tindak berikutnya. Ia menangkup wajah itu sebelum meninggalkan kecupan pelan pada kening suaminya, membelai wajah itu lembut.

Ia berbisik, “Aku mencintaimu, Jimin. Semua akan baik-baik saja, okey?”

Setelah ia mendapatkan anggukan, yang akan bersiap meninggalkan titik perpisahan mereka. Membiarkan Jimin merenung pada langit biru pagi, menyongsong waktu untuk persiapan mereka untuk bepergian, bersenandung ringan dari kejauhan.

Je te laisserai des mots
En-dessous de ta porte

Yoongi kadang tidak mengerti bagaimana Tuhan merencanakan sebuah kehidupan. Entah Tuhan hanya bermain-main, ataukah Tuhan menciptakan segala kreasinya dengan kehati-hatian.

Nota yang nyata terbentang sebagai singgahan kekata, mereka menyalahkan daksa lain dan menutupnya dengan hitam. Seolah satu translasi bisa mengartikan bagaimana Tuhan memandang mereka.

Ketika mereka memulai segalanya, ia merasa entah ada saja jalan yang berlubang.

Namun kini, sujelas. Tuhan mencintai apa yang menjadi bagian dari diri-Nya. Kita, sebagai ciptaan pula dikasihi Tuhan dengan limpahan rahmat-Nya. Ada berbagai cara, dan Yoongi rasa ini kebaikan Tuhan bisa terus bersama yang terkasih.

En-dessous de les murs qui chantent
Tout près de la place où tes pieds passent

“Jimin, ayo pergi.”

Namun entah apa, mungkin Tuhan sangat baik. Mungkin Tuhan sangat jahat.

“Sayang? Kamu tidur?”

Karena saat ini, Yoongi rasa kebaikan Tuhan untuknya sudah terkuras habis. Ketika jemari sang pasangan kian memutih, rona di wajah, perlahan tenggelam, dan kelopak mata yang terpejam erat itu menjadi ladang adnyaya buruk.

“Sayang …” Napasnya tersendat, bersamaan dengan nada sumbang yang keluar dari bilah bibirnya yang kian kaku.

Binar di matanya merembes keluar, “Jangan bermain-main, ya? Kumohon …” Jemari saling bertautan, dan ia berada di atas lututnya.

Meremas telapak tangan itu lebih erat.

Cachés dans les trous de ton divan
Et quand tu es seule pendant un instant

“Jangan tinggalkan aku sendiri. Apa saja selain ini.”

Yoongi menarik tangan itu mendekati keningnya, bersimpuh untuk berdoa bahwa mungkin Tuhan masih memiliki sedikit kebaikan—agar ia bisa mengasihi sang terkasih lebih lama.

I want you to bury me, Jimin. Bukan sebaliknya.”

Semakin lama ia melinangi jemari-jemari yang kian membeku itu dengan air mata, semakin nyilu hatinya karena menerima kepergian dia.

Ramasse-moi
Quand tu voudras

Ia meninggalkan sebuah kecupan pada baku jemari Jimin.

“Kumohon …”

Ia kembali mengecupi jemari itu, netra berpindah untuk memandang pada wajah Jimin yang telah kehilangan rona.

Aku tidak akan bisa mengatakan aku mencintaimu lagi.

Yoongi tidak begitu mengenal Tuhan sebagaimana Jimin mengenalnya, tapi dari sudut hatinya, ia mengerti.

Mungkin Tuhan juga merindukan keberadaan Jimin untuk berada di dekatnya.

Ramasse-moi
Quand tu voudras

Sebagaimana Tuhan memberikan kasihnya, sebagaimana ia memberikan kasihnya, dan sebagaimana kasih itu berkitar di udara.

Untuk sekali lagi saja, bisakah ia menyatakan cintanya?

Karena mungkin dengan begitu, Yoongi bisa membuka ruang keikhlasan di hatinya.

Mungkin dengan itu, ia bisa menunggu giliran untuk menyusul Jimin-nya dengan ketenangan di dada.

Mungkin dengan itu, ia bisa berjumpa dengan Jimin melalui mimpinya.

Ramasse-moi
Quand tu voudras

“Aku mencintaimu, Jimin.” Ia kembali bertutur, “Aku mecintaimu.”

Dan mungkin dengan itu, ia bisa kembali mencintai Jiminnya tanpa syarat yang nyata.

Hanya dia dan cintanya pada sang terkasih untuk hidup. Berdua.[]

Leave a Comment

Item added to cart.
0 items - Rp 0
Beranda
Cari
Bayar
Order