Keeping You Close

Sudah enam bulan Seonghwa bekerja sebagai salah satu perawat di pelayanan home care satu-satunya di Covington, sebuah kota kecil di Georgia, Amerika Serikat. Pekerjaan ini sejujurnya sangat menyenangkan. Dari kolega hingga pasien lansia, mereka memberi kesan yang baik untuknya, meskipun ini adalah pengalaman kerja pertama yang didapatkan setelah lulus dari sekolah keperawatan satu tahun lalu. Seharusnya, tidak ada masalah dengan lingkungan kerja yang semenyenangkan ini.

Seharusnya.

Sampai di suatu siang yang cerah dimana ia tengah menikmati waktunya bersama dengan koleganya, sebuah teriakan nyaring dari ruangan supervisor mereka menarik perhatian para pekerja. “Ini sudah keempat kalinya, Tuan Wilson! Keempat kalinya!” Itu suara Mrs. Beth, supervisor yang terkenal akan sifatnya yang tegas dan galak minta ampun.

Teriakan yang begitu menarik perhatian itu disusul dengan suara memelas dari balik pintu itu. “Saya mohon! Hanya tempat ini satu-satunya layanan home care yang bisa kami dapatkan di Covington!” Meskipun suaranya terdengar lebih kecil dari Mrs. Beth,  Seonghwa dapat mendengarkannya dengan baik. Bisik-bisik mulai terdengar dari koleganya, mengatakan bahwa sekeras apapun orang itu memohon, tidak akan mampu ia meluluhkan hati seorang Bethany Pattison.

Teriakan itu terus berlangsung hingga jam makan siang berakhir. Para pegawai sudah harus kembali ke tempatnya masing-masing, termasuk dengan Seonghwa. Lelaki itu kini tengah membawa Mr. Johnson, seorang lansia yang dirawat disana, untuk berjalan-jalan dengan kursi rodanya. Menikmati taman yang ditanami hortensia sembari mendengarkan Mr. Johnson bercerita.

Tak lama berselang, kawannya tergopoh-gopoh berlari ke arah Seonghwa. Belum ia sempat bertanya, rekan kerjanya itu sudah keburu menyela. “Kau dipanggil Mrs. Beth,” Ia mengambil alih kursi roda Mr. Johnson sementara  Seonghwa hanya mematung bingung, membuat koleganya melotot ke arahnya. “Apa yang kau tunggu? Mrs. Beth menunggumu!”

#

Di hadapannya, terdapat sebuah rumah bergaya cape cod yang terlihat sangat nyaman untuk ditinggali saat Seonghwa menginjakkan kakinya di halamannya. Cat rumah itu berwarna abu-abu terang dengan garis putih dan semak coneflower yang memeluk setiap sisi rumah tersebut. Bunga-bunganya mekar begitu sempurna seolah tengah menyambut kedatangan pria berdarah Korea itu.

Sehari sebelumnya, Mrs. Beth menjabarkan kontrak kerjanya bersama dengan Tuan Wilson—yang akrab disapa Edward. Semuanya terjadi begitu tiba-tiba, namun Seonghwa pun tidak punya kuasa untuk menolak pekerjaannya. Setelah diskusi yang memakan waktu, akhirnya Seonghwa sepakat untuk menjadi caregiver untuk kakek dari Edward—yang dikenal sebagai Vincent. Dalam perjanjian tersebut, dikatakan bahwa Seonghwa akan mendapatkan asuransi kesehatan dan diperlakukan layaknya anggota keluarga, yang justru dicibir oleh Mrs. Beth.

Edward mempersilakan Seonghwa untuk masuk ke dalam rumahnya. Begitu ia masuk, Seonghwa tidak dapat menyembunyikan kekagumannya tentang seberapa rapinya rumah yang Edward tinggali. Pot-pot tanaman hias di ruang tamu, gramofon tua di ruang tengah, dan sebuah lemari penuh dengan buku. Edward memperkenalkan setiap sudut rumahnya, termasuk dengan kamar milik sang Kakek.

“Kakek sedang berada di halaman belakang,” Edward menatap ke luar jendela, menampakkan sosok pria tua yang berdiri di bawah sebuah pohon sycamore besar yang tampak begitu mendominasi tanah lapang hijau di belakang rumahnya. Seonghwa mau tidak mau juga terpikat pada pohon sycamore yang berdiri kokoh disana. Seolah menghipnotisnya untuk terus menatap pohon rindang itu sebelum akhirnya pandangan Seonghwa jatuh pada lelaki tua yang disapa Vincent itu.

Tiba-tiba, pria tua itu menoleh, menatap Edward dan Seonghwa dengan tatapannya yang sinis, seolah ia tidak menyukai keberadaan Seonghwa di rumahnya. Sesaat kemudian, ia kembali mengalihkan pandangannya, melengos, seolah-olah menunjukkan pada Seonghwa bahwa ia tidak menyukai kehadirannya. Melihat hal tersebut, Seonghwa meringis. Bertanya-tanya apakah Vincent tidak menyukainya? Namun, ia dengan cepat mengusir pikiran itu dari benaknya.

Di sampingnya, Edward menghela napas panjang. “Dia seperti itu setelah kematian nenek satu tahun lalu,” tutur Edward pasrah, membawa sebuah topik sensitif yang Seonghwa tidak paham datangnya darimana. Sejujurnya, jika boleh, ia ingin sekali menghindari pembicaraan itu. Namun sepertinya, Edward juga enggan untuk menjabarkan detailnya hingga keduanya larut dalam diam.

Edward mencondongkan tubuhnya menghadap Seonghwa. “Kedepannya, kau bisa memanggilku dengan namaku saja, agar tidak terlalu canggung,” Seonghwa sendiri tidak paham bagaimana Edward membawa pembicaraan mereka sehingga tidak terlalu canggung untuk didengar. Namun, Seonghwa hanya mengangguk pelan sebagai tanda bahwa ia mengerti.

Setelah tur selesai, Seonghwa masuk ke dalam kamar kosong, yang Edward bilang, bisa ia gunakan untuk beristirahat atau menginap jika perlu. Selama berada di dalam kamar, Seonghwa bertanya-tanya apa keputusan yang ia buat adalah sebuah keputusan yang tepat. Sikap yang diberikan Vincent tadi mengingatkannya pada Mrs. Karlson beberapa waktu lalu sebelum ia meninggal dalam tidurnya. Sikap Mrs. Karlson yang selalu mencaci koleganya membuat para pegawai sangat menghindari waktu-waktu bersamanya.

Tapi, ini belum satu hari. Hal buruk apa, sih, yang akan terjadi padanya?

#

Sepertinya, segala hal yang terlintas di kepalanya justru melangkah ke sesuatu yang lebih buruk.

Sudah dua minggu sejak Seonghwa bekerja sebagai caregiver Vincent, yang dimana dirinya tidak hanya bekerja sebagai seorang caregiver, tetapi juga harus mengurus pekerjaan rumah lainnya. Pekerjaan ini tidaklah mudah. Terlebih saat Vincent terus mencaci dan mengusirnya dengan begitu kasar. Bukan satu dua kali pula Vincent melewatkan obatnya dengan makanannya yang juga tidak habis. Namun, bukan berarti Seonghwa patah semangat.

Seperti hari ini. Seonghwa menemukan obat milik Vincent masih utuh di atas nampan. Edward sudah mengatakan padanya untuk memaksa Vincent mengonsumsi obat yang sudah diberikan dokter. Namun, setiap kali Seonghwa berusaha untuk membujuk Vincent, pria itu justru meneriakinya. “Kau tuli atau buta, hah? Berhenti memaksaku dan enyahlah!” Kemudian meninggalkan Seonghwa sendirian yang hanya bisa menghela napas panjang dan kembali ke dapur untuk membereskan alat makan Vincent.

Pikiran Seonghwa mulai melayang ke saat seniornya mengatakan bahwa mengurus seorang lansia adalah sebuah tantangan besar. Masuk ke ranah pekerjaan seperti ini, kau harus ekstra bersabar dengan kepala orang-orang tua yang keras seperti batu. Namun, seniornya berkata, mereka juga bisa menjadi teman yang baik. Seorang teman yang kita tak tahu bahwa kita membutuhkannya dalam hidup kita.

Seonghwa meletakkan alat makan yang sudah kering ke dalam kabinet dan mengelap tangannya yang basah. Matanya berpendar ke arah halaman belakang yang bisa dilihat dari jendela dapur. Menangkap sosok Vincent yang tengah berdiri di bawah pohon sycamore seperti hari-hari lainnya. Awalnya, Seonghwa ragu untuk mendatanginya. Namun akhirnya, ia beranjak untuk menemui Vincent.

Seonghwa menutup pintu teras dan berjalan menuruni tangga, membuat bahu Vincent menegak. Pria tua itu mendengus keras dan melirik ke arah bahunya untuk berteriak, “Bisakah kau berhenti menggangguku?!” Suaranya nyaring terdengar, seolah ia membiarkan seluruh dunia untuk mendengar teriakannya.

Langkah kaki Seonghwa lantas terhenti begitu mendengar teriakan Vincent. Namun, perlahan Seonghwa mulai melangkah lagi. Sungguh, kepalanya juga sama batunya dengan Vincent tua. “Aku hanya ingin menemanimu,” Seonghwa berucap dengan suaranya yang lembut. Namun tampaknya, Vincent tetap tidak tertarik akan kegigihan anak muda itu.

Tidak berminat untuk balas kalimat Seonghwa, Vincent hanya terdiam. Matanya kembali memandang pohon sycamore dan berharap agar Seonghwa menyerah dan meninggalkannya sendirian. Dan tentu saja, Vincent mampu untuk membuat Seonghwa paham. Lelaki itu menghela napas dan berkata, “Aku hanya berusaha untuk membantu,” sebelum akhirnya pria muda itu beranjak meninggalkan Vincent yang melirik bahunya dan menggeleng.

#

“Maaf soal Kakek.”

Seonghwa mengangkat kepalanya, menatap Edward yang tengah mengeringkan piring-piring yang telah Seonghwa bilas. Mendengar hal tersebut, Seonghwa hanya tersenyum tipis, kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaan mencuci piringnya. “Tidak apa-apa,” Pria bermarga Park itu menjawab, menggelengkan kepalanya seolah itu bukan masalah besar.

Untuk sesaat, mereka larut dalam pikiran masing-masing. Hanya suara denting alat makan dan air yang mengalir menjadi pemecah keheningan di antara keduanya. Seonghwa bingung ingin membicarakan apa, sementara Edward pun merasa tidak enak karena perlakuan kakeknya yang begitu tidak mengenakkan.

Tidak nyaman akan keheningan yang menari di antara mereka, Edward menurunkan piringnya dan menghela napas. “Kakek dan nenek merawatku sejak sepuluh tahun lalu saat orang tuaku meninggal,” Lagi dan lagi, Edward mengangkat sebuah topik sensitif yang membuat Seonghwa meringis, meminta maaf atas apa yang terjadi. Namun, Edward menggeleng pelan seolah itu bukan sebuah masalah besar.

Edward menyandarkan tubuhnya di kabinet setelah meletakkan piring terakhirnya. Seonghwa mulai membereskan alat-alat makan tersebut, meletakkannya di dalam kabinet dengan rapi sementara Edward melanjutkan kalimatnya, “Ia memang berubah. Tapi sebenarnya, ia hanyalah pria tua yang kesepian,” Kalimat itu membuat Seonghwa menghentikan kegiatannya sejenak, sebelum kembali melanjutkannya.

“Seonghwa,” panggil Edward dengan suara serak. Mendengar namanya disebut, Seonghwa berbalik hingga ia berhadapan dengan Edward. Lelaki itu tengah menggigit bibir bawahnya sementara ia memalingkan wajahnya, menghindar dari tatapan Seonghwa.

“Terima kasih karena sudah bersedia untuk datang kemari,” bisiknya samar. Terbawa angin yang menyelinap masuk dari celah jendela.

#

Pembicaraan malam itu membuat Seonghwa merasa ia harus melakukan hal yang cukup sulit untuk ia jalankan; merobohkan dinding tinggi di antara dirinya dan Vincent. Dengan bantuan Edward, Seonghwa mendapatkan bocoran mengenai hal-hal yang disenangi oleh Vincent, yang mungkin nantinya bisa Seonghwa gunakan untuk mendekatkan dirinya dengan pria tua itu. Maka dari itu, operasi mendekati Vincent pun dimulai.

Edward bilang, Vincent sangat suka mengisi teka-teki silang untuk menghabiskan waktunya. Karenanya, Seonghwa menyisihkan sedikit waktunya untuk mencari teka-teki silang saat ia pulang ke rumah. Terima kasih kepada Edward yang dengan baik hati menawarkan dirinya untuk mengantar Seonghwa pulang setiap hari, mereka dapat mencari buku teka-teki silang yang Seonghwa maksud di salah satu toko buku kecil di kota itu. Keesokan harinya, Seonghwa meletakkan buku itu di atas meja ruang tengah. Siapa tahu Vincent menemukannya saat ia ingin menonton televisi?

Dan benar saja, Seonghwa menangkap sosok Vincent yang tengah sibuk berkutat dengan buku teka-teki silang keesokan harinya. Begitu fokus sampai-sampai Seonghwa tidak dapat mengalihkan pandangannya dari Vincent. Sebuah senyum pun terukir di bibirnya, merasa bahwa rencananya berhasil. Ketika Vincent tersadar bahwa dirinya tengah diperhatikan, matanya tajam menatap Seonghwa. “Kau kira aku sebuah tontonan, hah? Enyah dari sini!” usir Vincent, sebelum akhirnya ia kembali mengerjakan teka-teki silang itu. Akhirnya, Seonghwa meninggalkan ruangan tersebut sembali terkikik geli.

Edward juga mengatakan, cara paling ampuh untuk menarik hati Vincent adalah satu loyang pai apel. Edward bercerita bahwa dulu, sebelum mendiang neneknya meninggalkan mereka, beliau hampir setiap minggu membuatkan seloyang pai apel untuk mereka santap di bawah pohon sycamore di halaman belakang. Sebuah piknik kecil-kecilan yang sangat menghibur Edward kecil.

Mendengar hal tersebut, Seonghwa sempat merasa ragu. Ia memang bisa memasak, namun bukan berarti ia pandai dalam membuat kue. Namun, Edward hanya tersenyum ketika Seonghwa menyatakan perasaannya soal gagasan pai apel ini. Lelaki itu mengusap kepala Seonghwa dan berkata, “Aku percaya padamu,” sembari menyerahkan resep milik sang Nenek yang dicatat dalam sebuah buku.

Edward sudah meluangkan waktunya untuk membeli bahan-bahan untuk memanggang pai apel itu satu hari sebelumnya. Mengejutkan Seonghwa di keesokan hari begitu pria itu datang ke rumahnya untuk melakukan pekerjaannya seperti biasa. Mata Seonghwa membulat lucu, mengundang sebuah kekehan dari Edward. “Kuharap kau berhasil, Seonghwa,” Suara Edward begitu tulus, membangkitkan sebuah semangat di dalam diri Seonghwa.

Sepeninggal Edward, Seonghwa mulai melakukan eksperimennya di dapur. Mencampur bahan, mengaduk, memanggang. Sangat sulit bagi siapapun untuk melewatkan wangi pai apel yang menggoda. Mungkin saja dapat mengundang para tetangga yang tinggal di sekitar rumah, jika saja Vincent tidak terlalu galak untuk buru-buru mengusir mereka. Memikirkan itu saja cukup membuat dada Seonghwa terasa sesak.

Vincent hanyalah seorang pria tua kesepian yang ingin dipahami keadaannya. Dalam waktu-waktu senggangnya dimana ia bisa mengobrol dengan Edward, cucu Vincent itu bercerita bahwa kakeknya didiagnosis sebagai pengidap depresi. Meskipun Vincent tidak terlihat seperti tengah menyakiti diri sendiri, dirinya yang menjauhkan diri dari komunitas dan mulai berhenti mengonsumsi obat-obatannya merupakan salah dua pertanda.

Vincent merasa, hilangnya sang Kekasih Hati merupakan akhir bagi dunianya. Kebahagiaannya direnggut, menyisakan sebuah luka menganga yang berjalan bersamanya di setiap langkah yang ia ambil.

Oven itu berdenting nyaring seiring dengan matangnya pai apel yang Seonghwa buat dengan sepenuh hatinya. Batinnya yang menginginkan perhatian dari Vincent kini berubah, menjadi sebuah rasa ingin mengobati rasa rindu Vincent terhadap mendiang istrinya. Bagi Seonghwa, meskipun sikap Vincent sangat tidak mengenakkan, kebahagiaan adalah hak semua orang.

Wangi pai itu mulai mengisi seluruh rumah, membuat Vincent yang tengah berjalan masuk ke dalam rumah tertegun akan wangi familiar itu. Namun, bukannya merasa senang, sebuah sesuatu meledak di dalam dadanya. Dengan sedikit terburu-buru, ia berjalan masuk untuk menemukan pelakunya yang tengah berdiri di tengah dapur dengan loyang berisi pai apel di tangannya. Senyum merekah Seonghwa menyambut kedatangan Vincent. Namun, senyum itu justru membuat Vincent meledak.

“Kau pikir kau sedang apa?!” Vincent berteriak dengan suaranya yang serak. Meluruhkan semangat Seonghwa yang perlahan merayap turun dan bersembunyi di setiap celah di dapur.

Dengan gugup, Seonghwa menjawab, “Aaku hanya…” Kini rasa takut merayap ke seluruh tubuhnya. Bagaimana jika ia justru membuat kesalahan fatal? Bagaimana jika Vincent justru berubah menjadi sangat membencinya karena percobaan bodoh yang ia lakukan itu? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Seonghwa menjadi sangat kalut.

Namun, suara erang kesakitan membuat Seonghwa tertegun. Tatapannya naik menuju Vincent yang tengah meremas dada kirinya, terlihat seperti tengah menahan rasa sakit yang luar biasa. “Tuan Wilson!” Seonghwa berteriak saat tongkat Vincent terjatuh, membuat suara nyaring seiring dengan Vincent yang kini tangannya mencengkram kursi meja makan untuk menumpu tubuhnya, yang justru tidak membantu banyak karena Vincent kini merosot turun ke lantai. Rasa panik mulai menjalari tubuh Seonghwa, menggantikan semangatnya yang sudah luruh dan telah pergi entah kemana.

Terburu-buru lelaki itu meletakkan painya dan menghampiri Vincent untuk menopang tubuh pria itu. Satu tangannya merogoh saku celana untuk menghubungi layanan darurat. Giginya terus menggigit bibir bawahnya sembari dirinya menunggu panggilan tersebut diangkat.

“Kami membutuhkan ambulans untuk menjemput kami! Kakekku sepertinya terkena serangan jantungastaga! Tuan Wilson! Kumohon, cepat datang!”

#

Dengan sinar matahari yang memaksa masuk, Vincent perlahan membuka matanya, mencoba untuk membiasakan dirinya dengan cahaya yang menyerbu. Ia mengerang, merasakan rasa sakit di tubuhnya. Sudah berapa lama dirinya tertidur? Ia sendiri tidak tahu.

“Tuan Wilson? Kau sudah sadar?” Suara familiar yang dibencinya setengah mati itu sukses membuatnya menoleh. Mendapati seorang pria dengan paras manis tengah berjalan menghampirinya. Pria itu duduk di sampingnya dengan wajahnya yang tenang. “Bagaimana perasaanmu, Tuan Wilson?”

Awalnya, Vincent enggan untuk menjawab. Namun, matanya tak kunjung lepas dari lelaki yang terus ia kasari selama dua bulan terakhir. “Kenapa kau tidak pernah menyerah, bahkan saat aku terus menyakitimu?” Suara Vincent terdengar serak, menuntut sebuah jawaban dari mulut pria muda itu.

Seonghwapria ituhanya tersenyum akan pertanyaan yang keluar dari bibir lelaki yang umurnya hampir menginjak 80 tahun itu. “Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan, Tuan Wilson,” Diraihnya tangan keriput Vincent sementara Seonghwa menatapnya begitu tulus. “Dan aku percaya, setiap orang berhak untuk bahagia. Bahkan di masa-masa sulit mereka.”

Ruangan itu diisi hening.

Air mata mulai menuruni pipi Vincent. Suara tangisannya pilu seolah ia tengah mengeluarkan segalanya, ingin seluruh dunia tahu seberapa buruknya ia selama ini. “Oh, Elena! Dia pasti membenciku!” Vincent meraung, meremas tangan Seonghwa sebagai rasa bersalahnya pada dunia. “Aku sudah menyakiti mereka! Aku menyakitimu, menyakiti Edward! Dan aku menyakiti Elena, istri tercintaku…” Vincent terus meraung pilu.

Seonghwa beranjak dari kursinya, merengkuh pria tua itu ke dalam pelukannya. Tangannya menepuk-nepuk punggung Vincent dengan penuh kasih sayang sementara ia berbisik, “Tidak, Tuan Wilson,” katanya. “Nyonya Wilson akan terus mencintaimu, bahkan pada titik terendahmu,” Seonghwa tersenyum, membiarkan Vincent terus mengeluarkan emosi yang dipendamnya sejak lama.

Di luar kamar, Edward bersandar di dinding rumah sakit yang dingin, enggan untuk menginterupsi keduanya. Air matanya mengalir dalam diam. Perasaannya begitu bercampur aduk. Ia merindukan sang Nenek. Dan ia rindu akan orang tuanya. “Nenek,” Edward berbisik di sela tangisnya.

“Terima kasih. Kau sudah mengirim seorang malaikat di antara kami.”

Leave a Comment

Item added to cart.
0 items - Rp 0
Beranda
Cari
Bayar
Order