Untuk Orang-Orang Terkasih

“Yoo Taeyang-ssi, bisakah kita bicara? Ada yang ingin saya sampaikan.”

“Ada apa, Tuan?”

“Anda sedang senggang, kan?”

“Saya rasa begitu.”

“Kalau begitu, daripada anda menganggur, bagaimana jika anda meluangkan waktu paling berharga dengan melakukan perbuatan baik anda? Perintah baik dari saya.”

***

“Hati-hati! Aku telah bekerja keras saat menyiapkan semua buket bunga!”

Yoo Taeyang hanya mengangguk paham, dengan meyakinkan seorang penjual bunga itu agar benda-benda berharga itu dapat dijaga baik. Menaruh satu kardus kayu, yang berisikan enam buket bunga yang berbeda-beda, sungguh memberatkan, meskipun pada akhirnya dibantu sang penjual bunga. Tidak lupa pemuda berusia 25 tahun itu mengucapkan terima kasih sebelum ia masuk ke dalam mobil sedan hitam.

Sejenak Taeyang mengeluarkan secarik kertas dengan serius. Dalam seharian ini, ia akhirnya bisa berkeliling kota setelah terperangkap di istana yang jauh lebih menyenangkan. Akan lebih berguna lagi jika mematuhi perintah atasannya sekaligus memanfaatkan kesempatan untuk berbuat baik. Dengan mengendarai mobil sedan hitam pun—sebenarnya kendaraan itu juga milik atasannya—akan dimanfaatkan Taeyang dengan baik.

Perintah apa yang akan dilakukannya?

Yaitu, memberikan enam buket bunga pada orang-orang terkasihnya seumur hidup, namun jangan sampai diketahui orang lain.

Memangnya, Yoo Taeyang bisa melakukan demikian?

***

Sepasang orang tua disibukan dengan antrian pelanggan yang mengisi perut mereka, padahal ini masih pagi. Orang-orang lupa pentingnya sarapan, apalagi perut Taeyang sudah keroncongan. Dirinya bodoh karena tidak mengisi perut sebelum mematuhi perintah baik. Setidaknya ia masih bisa menahan lapar dan haus.

Taeyang menyungging kecil bibirnya. Sembari melangkah masuk ke dalam restoran sederhana, pandangannya menangkap meja kecil yang kosong. Seperti yang ia duga, orang-orang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, bahkan tak memedulikan sekitar. Lauk-pauk dan berbagai minuman menjadi prioritas utama dalam mengisi perut.

Maka, ia hanya menaruh sebuket Anyelir berwarna merah muda dan merah. Tidak lupa untuk menyelipkan kartu ucapan di sela-sela tangkai bunga. Berhubung orang-orang masih sibuk individu, Taeyang bergegas pergi tanpa melirik siapapun. Pandangannya tak lepas menyaksikan sepasang orang tua, yang masih sibuk melayani antrian pelanggan.

Kemudian, Yoo Taeyang hanya menunduk kian murung dan merenung.

Orang tua yang selalu kubanggakan dan kusyukuri, selamat hari orang tua. Berbahagialah selalu.

“Tuan Yoo! Nyonya Kim! Ada kiriman buket bunga!”

“Siapa pengirimnya?”

“Saya tidak tahu ini dari siapa. Hanya tertulis, ‘Happy parents day’ secara anonim.”

Melihat wajah orang tuanya yang mulai terharu bercamlur sedih, membuat Taeyang ikut tersenyum. Dirinya bangga menjadi putra kebanggaan orang tuanya, tetapi tetap saja orang tuanya tampak sedih. Dengan berat hari. Mereka langsung menerima buket bunga Anyelir merah muda dan merah serta menaruhnya di vase bunga yang kosong sebagai pajangan.

Tidak lama kemudian, Taeyang berpamitan dan meninggalkan wilayah restoran sederhana.

***

“Taman ini sangat sepi, kecuali Park Seonghwa.”

Orang yang terucap dari bibir Yoo Taeyang, sebenarnya dia teman dekatnya. Jika digali lebih dalam lagi, Park Seonghwa lebih banyak membicarakan orang tercintanya, meskipun mereka masih nyaman berhubungan sebagai sahabat. Taeyang anggap, hubungan mereka sebagai setengah sahabat dan setengah sepasang kekasih. Jika dianggap hubungan mereka menggantung pun akan menimbulkan kesalahpahaman.

Karena nyatanya Park Seonghwa dan Kim Hongjoong sama-sama saling merasa nyaman.

Yoo Taeyang diam-diam menaruh sebuket Krisan berwarna emas dan putih dengan total 13 tangkai di sisi bangku kosong. Seonghwa tak menoleh atau mengitari sekitar, sedangkan Taeyang kian menjauh dan menyaksikan kehadiran sosok pria bertubuh mungil. Kehadirannya yang membuat ekspresi Seonghwa kian cerah, kecuali kehadiran buket bunga Krisan emas dan putih, yang totalnya 13 tangkai.

Begitu juga dengan pemuda bernama Kim Hongjoong, sosok yang selalu diceritakan Seonghwa.

“Kamu membawa bunga?” tanya Hongjoong kebingungan, namun Seonghwa hanya bersikap santai.

“Sepertinya begitu. Mungkin ini seharusnya untukmu, tetapi anggap saja buket bunga ini dariku. Terimalah.”

Hongjoong lantas menerimanya dengan gembira. “Seonghwa-ya, aku merasa tersentuh.”

Itu berarti Park Seonghwa menyadari siapa pengirim buket bunga tersebut.

Pelukan hangat yang dihamburkan Hongjoong telah mengembangkan senyum manis Seonghwa yang terukir. Sebuah pelukan hangat sebagai bentuk terima kasih dan sebuah pengakuan yang menyentuh. Membuktikan bahwa betapa Park Seonghwa mencintai Kim Hongjoong, meskipun ia tidak mengetahui kehadiran buket bunga Krisan emas dan putih.

Aku tidak mengenal siapa pria mungil nan manis itu, tetapi ternyata mereka dipertemukan dengan istimewa. Takdir sungguh baik.

Dari kejauhan, Yoo Taeyang hanya bisa tersenyum sebelum ia kembali meninggalkan sepasang sahabat setengah kekasih itu.

***

“Benarkah ini tempatnya?”

Butuh waktu beberapa menit agar langkah kaki Taeyang telah berpijak di kafe atap. Bukan permasalahan salah alamat atau tersesat, tetapi karena Taeyang melelahkan harus menaiki beberapa anak tangga tinggi untuk sampai ke lokasi. Setelah sampai, ia terpana melihat kafe atap terbuka yang tampak hijau. Terlebih lagi ada banyak karangan bunga yang awet, bukan figuran berbahan plastik.

Taeyang menghampiri desain tempat duduk yang dikhususkan buat sepasang kekasih. Pemuda bersurai hitam-cokelat itu menaruh buket Akasia, meyakinkan diri bahwa ia tidak salah menaruh tempat. Mengetahui ada yang akan menempatkan tempat duduk khusus itu, Taeyang sedikit menjauh, berpura-pura tengah mengobservasi kafe atap berbasis hijau.

Shin Ryujin dan Jeon Heejin, sepasang kekasih yang dimaksud.

“Woah!” Heejin tampak terkejut sekaligus terkagum sebelum dia mengalihkan pandangan pada Ryujin. “Bunga Akasia! Kamu mengirimkan ini untukku?”

Hening menandakan bahwa gadis bernama Shin Ryujin tidak mengetahui kehadiran bunga Akasia itu.

“Ah, aku lupa harus membawakan bunga ini untukmu saat kita memulai kencan pertama, jadi, aku sudah membawakannya. Kuharap kamu menyukai pemberianku.” Ryujin tampak gugup, namun Heejin tak memedulikannya.

“Astaga! Aku harus merawat hadiah pemberian dari kekasihku ini!” balas Heejin kian girang, “Terima kasih, Ryujin!”

Sungguh manis kala mereka terus berbagi tawa dan momen indah, meskipun rasanya canggung aku harus mengirimkan bunga itu. Cinta yang selalu abadi dan akan dikenang selamanya. Semoga mereka tetap abadi selalu.

***

Kang Yeosang

Moon Sua

Di antara para hadirin yang bertepuk tangan, ketika pasangan pengantin itu saling berciuman, hanya Taeyang yang justru datang dengan mengendap-ngendap. Pemuda itu mengambil kursi kosong yang berada di barisan paling belakang, berharap kehadirannya tak diganggu para hadirin. Tak ada yang menyadari kehadirannya karena biasanya ia selalu menuai perhatian dengan bentuk tubuh dan rupawannya seperti musium.

Taeyang hanya bisa bertepuk tangan, membiarkan buket Tulip putih berada di pangkuannya.

“Moon Sua sangat menyukai Tulip, tetapi aku tidak bisa berpikir harus aku taruh mana buket ini.”

Tidak ada meja khusus menaruh hadiah pernikahan, kecuali jika ia menaruhnya di barisan kursi para hadirin. Taeyang masih harus mencoba berpikir, berpikir, dan berpikir, sampai ia menemukan ide cemerlang. Ide cemerlangnya mungkin mustahil, tetapi ia mau tak mau hanya menaruh buket Tulip putih di atas karpet merah—barisan khusus pengantin baru memasuki aula pernikahan.

Setelah itu, Taeyang langsung meninggalkan ruang aula pernikahan sebelum pasangan pengantin baru itu—Kang Yeosang dan Moon Sua—langsung menyapa para hadirin. Perihal nasib buket Tulip putih, Taeyang mengabaikan begitu saja. Hingga ia mendengar seorang pewara menemukan buket bunga pemberiannya, bahkan atensi para hadirin dan pasangan pengantin itu terarah pada buket Tulip putih.

Taeyang mendengarnya dan menoleh ke belakang, lantas buket bunga itu kini tersampaikan pada Moon Sua oleh petugas.

“Sepertinya ini hadiah dari Tuhan, bahwa Moon Sua kini sudah menjadi istri sah Kang Yeosang. Keajaiban Tuhan yang tak terbantahkan, bahwa pasangan pengantin ini benar-benar saling mencintai sepenuh hati. Terima kasih atas keajaiban ini.”

Karena hal ini, Yoo Taeyang kembali menyunggingkan bibirnya dengan bangga, ikut merasakan atmosfer bahagia yang mengalir. Beruntung ia hanya pengantar buket bunga yang tak disadari orang lain. Ia melakukannya secara diam-diam karena semata perintah baik, tetapi dirinya beruntung bisa menghindari sorotan publik.

Akan tetapi, Kang Yeosang langsung menangkap kehadiran Taeyang dari kejauhan, yang berarti kehadirannya diketahui orang lain. Tatapan dan sorotan Yeosang padanya menjadi sulit diartikan. Tak lama kemudian, Yeosang ikut tersenyum kian terharu setelah memandang Taeyang dari kejauhan, seperti ia menemukan kehadiran pemuda berperawakan tinggi itu

Ini membuat Yoo Taeyang gugup, bertanya-tanya arti dari ekspresi tampan Kang Yeosang dari kejauhan.

“Ternyata dia hanya mengitari para hadirin.”

Maka, ia hanya bernapas lega karena tatapan haru Yeosang ke arah para hadirin, juga riang gembira Moon Sua ketika buket Tulip putih kini ada di tangannya.

Apakah kalian mendengar detak jantungku? Itulah perasaan tulusku pada kalian. Iya, pertanda bahwa kalian pantas bahagia.

***

Rumah minimalis cantik terpampang nyata dari pandangan Yoo Taeyang. Sembari menggenggam buket Anyelir putih, merah, dan merah muda, serta beberapa tangkai Baby Breath yang dirangkai dan dipadu menjadi satu, Taeyang menjadi jauh lebih cemas. Pasalnya, sudah lama ia tidak rumah itu dan menjadi terakhir tinggal di sana. Mungkin pemilik rumah itu sudah melupakan kehadirannya.

“Apakah Jane masih tinggal di rumah ini?” tanya Taeyang, lantas membuka pintu pagar kayu seraya mengira-ngira keadaan rumah yang sunyi.

Satu-satunya cara mengetahui rumah sunyi itu adalah menekan bel rumah sebanyak dua kali.

“Siapa di luar?!”

Ternyata, Jane masih menetap di rumah minimalis serba putih itu. Akam tetapi, Taeyang hanya bisa menaruh buket Anyelir tiga warna—merah, putih, dan merah muda—serta beberapa tangkai Baby Breath di karpet kecil. Ia berlari kian menghindar, langsung bersembunyi di luar halaman rumah minimalis itu. Tidak lupa pintu pagar telah ditutup agar tidak menimbulkan curiga.

“Hm? Kenapa hanya ada buket bunga di sini?”

Taeyang memandang Jane yang mengitari sekitar, kemudian berakhir menemukan buket bunga pemberiannya. Gadis bersurai cokelat itu menemukan kartu pengirim, membuat debaran jantung Taeyang kian berdegup. Pemuda itu hanya penasaran terhadap perasaan istrinya, yang telah dinikahinya selama satu tahun.

Dan hari ini merupakan hari pernikahan mereka.

Tiba-tiba, Jane menengadahkan kepala dan menahan butiran air mata yang mungkin akan jatuh. Wanita itu lantas memeluk buket bunga pemberian Taeyang, seperti tengah merindukannya yang benar-benar rindu. Terlihat rapuh raganya, juga tak lagi memiliki raga yang menguatkannya. Sudah cukup dirinya harus melupakan rasa sakit karena Yoo Taeyang.

Jane, aku tidak ingin melihatmu rapuh dalam satu tahun terakhir. Aku mengerti perasaanmu setelah aku meninggalkanmu, tetapi aku tidak mungkin muncul lagi dihadapanmu. Aku hanya ingin membiarkanmu bahagia tanpaku, juga anak kita yang bisa sekuat dirimu.

Sayang, tunggulah kepulanganku. Aku ingin merayakan hari pernikahan kita bersama anak buah hati. Sungguh, akh ingin sekali.

Tidak lama kemudian, Yoo Taeyang ikut merasakan pipinya sembab dan basah. Tindakan baiknya membuat raga dan jiwa Jane ikut melemah, meskipun dia kini hidup bahagia dan membesarkan anak yang masih bayi. Entah mungkin dia merawat anak mereka sendirian atau bersama ibu mertua atau ibu kandungnya, tetap saja bagi Taeyang tidak mungkin bisa bersatu lagi. 

Jane kini jauh lebih kuat daripada sebelumnya, hanya dirinya yang bisa menguatkan.

Maka, Yoo Taeyang meninggalkan istri tercintanya.

***

“Lee Jangjun, aku membawakan kado untukmu, tetapi bukan kado ulang tahun.”

Sejenak Taeyang melirik wajah tenang Lee Jangjun dari pigura foto, sahabat kecilnya, yang kini tak lagi merasa sakit dari luar dan dalam. Kemudian, Taeyang melirik buket Lili putih yang telah tergeletak di atas tanah kuburan, yang dianggap sebagai kado tanpa dalam rangka apapun. Hanya menyerahkan buket bunga itu agar sahabatnya tetap hidup tenang di alam sana.

“Penjual bunga langgananku yang memilih ini karena aku hanya menginginkan bunga yang cantik, seperti kepribadianmu.” Taeyang lantas menyentuh batu nisan yang telah mengukir nama Jangjun beserta tanggal lahir dan tanggal kematiannya.

“Kamu sudah tidak lagi sakit, tetapi harusnya kita akan bertemu di tempat yang sama, bukan? Jadi, bukankah kita bisa makan ayam bersama lagi?” Taeyang lantas tertawa, seperti mengungkapkan frustrasi.

“Aku sampai harus mencari-carimu karena kamu juga satu alam, satu rumah, dan satu istana yang sama denganku. Seharusnya kamu bisa menemuiku setiap hari jika kita berada di alam yang sama. Bagaimana bisa kamu menyombongkan diri seolah rumah dan istana tempat tinggal kita berbeda?”

Sepertinya, giliran Yoo Taeyang yang akan menjadi gila.

Wahai sobatku yang tersayang, kita harus bertemu sekarang. Entah apakah kamu merindukanku atau tidak, aku mengesampingkan itu. Bukankah kita akan sering bertemu di langit?

Ketika Yoo Taeyang bangkit untuk pulang, matanya kembali bertemu dengan sosok yang memerintahnya dengan perintah baik. Kedatangannya mendadak, namun Taeyang sudah mengetahui hal ini setelah mengantarkan buket bunga terakhir. Bukan hanya harus mengembalikan mobil sedan hitam beserta kuncinya, melainkan si pemberi perintah baik itu juga harus menjemput Taeyang di tempat terakhir ia mengantarkan buket bunga.

“Orang-orang terkasih anda menyadari buket bunga pemberian anda. Saya sudah mendengar gerak bibir dan tutur kata mereka, bahwa mereka yang menerima buket bunga itu juga merindukan anda.”

Iya, Yoo Taeyang hanya bisa tersenyum pahit ketika harus mendengar penuturan dari si pemberi perintah baik.

“Itu karena saya juga merindukan mereka yang menyayangiku, meskipun saya harus membatasi jumlah buket bunga yang saya antarkan. Karena perintah dari anda, saya merasakan cinta yang tulus dari orang-orang terkasihku yang pernah hadir dan hidup untukku. Ketika saya mengungkapkan rasa kasih sayang pada mereka, demikian juga mereka membalasnya demikian. Saat itulah saya ingin melakukan sesuatu hingga perintah baik anda menjawab keinginan saya.”

Si pemberi perintah baik itu membalas dengan senyuman.

“Tapi, Pastor Kim Hae Il, bagaimana anda tahu soal ini?” Taeyang bertanya, kemudian menyerahkan kunci mobil pada si pemberi perintah baik, yang namanya disebutkan.

“Anda selalu berada di taman bunga, juga anda pernah menuturkan rasa rindu pada orang-orang terkasih anda. Saya yang menjadi saksinya saat itu,” jawab Pastor Kim seraya tertawa kecil, padahal Taeyang tak membutuhkan tawa itu.

“Bagaimanapun itu, terima kasih banyak.” Yoo Taeyang mengakhiri dengan membungkuk sopan.

“Pulanglah. Anda harus istirahat karena anda lelah menyetir.” Pastor Kim Hae Il menepuk pundak Taeyang.

“Baik, Pastor.”

 

END

Leave a Comment

Item added to cart.
0 items - Rp 0
Beranda
Cari
Bayar
Order