YOUR BLOOD

Cinta selalu melekat dengan ketulusan dan pengorbanan. Ada kalanya menemui kerikil tajam, tapi akan menghilang atas nama kepercayaan. Sebuah perpisahan bukan tanda jika romansa berakhir, bisa jadi merupakan bentuk pengorbanan tertinggi bagi yang dikasihi.

 

 

Dalam ruangan kecil temaram, sepasang tangan gemetar tengah menggenggam tangan kekasihnya yang tak berdaya. Bertemankan keheningan dan sepi, isaknya terus menggema di seisi ruangan. Menyiratkan kesedihan yang sangat dalam karena kehilangan kekasih tercinta.

Pipinya yang basah diseka punggung tangannya sendiri. Menelisik jauh ke berbagai sudut ruangan. Mencari benda tajam yang berfungsi menyakiti dirinya sendiri.

“Joo, jangan tinggalin aku!” Genggaman yang gemetar itu tak lagi kuat. Seketika ditarik ketika menemukan satu buah benda tajam tergeletak di atas meja. Menatap cukup lama hingga akhirnya terulur dan digenggam.

Darah miliknya akan menyelamatkan nyawa sang kekasih. Romansa mereka berbeda dari biasanya. Bagai terhipnotis, Donghyun terpesona oleh ketulusan yang diberikan Joochan padanya, padahal mereka tak sejenis. Donghyun adalah seorang manusia, sedangkan Joochan merupakan seorang manusia serigala. Memang benar cinta itu buta, Donghyun merasakannya sendiri.

Masih dengan pergolakan batinnya. Donghyun hanya memberikan tatapan kosong pada sebilah pisau dalam genggamannya. Memejamkan mata sembari membayangkan rasa sakit yang akan dia alami ketika darahnya mengalir. Bukan hanya rasa sakit yang diderita, dia juga akan kehilangan nyawanya.

Dalam kekosongannya, Donghyun melakukan sebuah perjalanan masa lalu. Masa ketika dirinya bertengkar hebat dengan sang kekasih. Perdebatan sengit terjadi sebagai lika-liku kehidupan romansa mereka. Namun, Donghyun tidak membayangkan jika dia akan kehilangan pria terkasihnya.

Pejaman mata dibuat semakin erat. Gejolak kesedihan pun mengundang ribuan air mata membasahi pipinya kembali. Andai saja waktu bisa kembali diputar, dia ingin sekali mempercayai kekasihnya. Memberikan perlindungan sepenuh hati walaupun sampai mempertaruhkan nyawa.


“Jadi apa maksud perkataan Bomin, Joo?” Suara Donghyun terdengar lirih seraya menahan tangis.

“Semua yang dikasih tau Bomin itu gak bener, Hyun. Aku tulus sayang sama kamu.”

Genggaman tangan yang baru saja mendarat dihempaskan dengan kasar, “Kamu cuma pura-pura sayang sama aku biar kakak kamu sembuh, kan? Kamu cuma butuh darah aku, kan? Iya?”

“Hyun, Kak Sungyoon emang lagi sakit. Tapi ada cara lain buat bikin dia sembuh tanpa harus kamu yang berkorban. Aku sayang sama kamu, Hyun. Sayang banget sama kamu.”

Alibi demi alibi diucapkan oleh Joochan. Sayangnya, semua itu tak mampu melunturkan kesalahpahaman yang terjadi. Kemarahannya masih melambung, Joochan merasa harus memberikan ruang bagi kekasihnya. Tak ada sepatah kata pun dilontarkan sebagai pembelaan. Kelak kekasihnya akan mengetahui ketulusan cinta yang diberikan untuknya.

“Gimana caranya aku percaya sama kamu, Joo. Aku liat sendiri warna matanya Bomin itu biru, bahkan gak berubah jadi merah. Itu artinya dia gak bohong, kan?”

Satu tarikan napas dihembuskan dengan kasar. Salah satu permasalahan mencuat ke permukaan, ternyata kekuatan Bomin untuk menyembunyikan warna matanya menjadi pangkal kesalahpahaman yang terjadi.

“Bomin punya kekuatan buat nutupin warna matanya, Hyun. Jangan mau dibohongin sama dia. Liat aku! Liat aku, Hyun! Liat mata aku! Berubah merah, gak?”

“Kamu bisa aja punya kekuatan yang sama kayak Bomin, kan?”

“Engga, Hyun.” lirihnya dengan penuh kepasrahan.

Donghyun memiliki sebuah kekuatan karena tak sengaja meminum mata air suci milik para bangsa serigala. Suatu hari dia pernah mendaki sendirian dan terpaksa meminum air tersebut karena persediaannya habis. Di luar dugaan, mata air suci itu mengering hingga menjadikan dia sebagai orang terakhir yang berinteraksi dengan mata air suci.

Selain dapat membedakan manusia dengan bangsa serigala dari warna bola mata, darah Donghyun juga tercampur khasiat sakti yang dibutuhkan para bangsa serigala untuk mendapatkan kesembuhan. Donghyun mengerti sekali jika bias biru menandakan bahwa makhluk serigala itu tidak memiliki maksud buruk. Sebaliknya, jika berubah merah maka terdapat maksud jahat yang terselubung.

“Hyun, mereka lagi nyari kamu sekarang. Jangan sampe kamu ikut sama saudara aku yang lain. Kamu harus selamat. Ikut aku, ya?”

Langkahnya mundur sekaligus menggeleng. Kepercayaan terhadap kekasihnya luntur karena perkataan Bomin yang menyebutkan bahwa Joochan hanya memanfaatkannya untuk kesembuhan Sungyoon.

“Aku gak mau ikut kamu!”

“Sayang, kalo kamu gak percaya sama aku itu hak kamu. Tapi, tolong ikut aku dulu. Mereka lagi nyari kamu.”

“Kamu mau bawa aku kemana, Joo. Mau ajak aku ketemu Kak Sungyoon?”

Joochan menggeleng, “Engga, Hyun. Aku bahkan udah rutin ngobatin kakak, kok. Dia sebentar lagi pasti pulih tanpa darah kamu, Hyun. Ikut aku, please.”

Tanpa persetujuan kekasihnya, pria manis itu lari sekencang mungkin dan mengurung Joochan di dalam rumahnya. Melarikan diri karena tidak mau menjadi tumbal bagi kesembuhan Sungyoon. Jika sampai darahnya berhasil diambil, nyawa Donghyun pun ikut menjadi taruhannya.

Laju berlari terus dibuat kencang sambil sesekali menoleh ke belakang, khawatir jika Joochan mengejarnya. Tanpa diduga, lajunya dihentikan oleh Jibeom, Jaehyun, dan Seungmin. Mereka bertiga menunjukan taring tajamnya untuk mengintimidasi Donghyun. Ketiga saudara Joochan itu sangat siap menyeret Donghyun menuju kediamannya di pedalaman hutan rimba.

“LEPAS!” Teriakan terdengar lantang seraya cengkraman kuat dari Jibeom.

“Kamu gak bisa lari lagi, Hyun. Ikut!”

Langkahnya terseret. Ketiga makhluk serigala itu semakin brutal karena purnama sedang terlihat. Sekuat tenaga Donghyun menolak, tapi dia sudah terkepung. Dalam kepasrahannya, Donghyun memanjatkan doa agar diberikan sebuah keajaiban untuk terlepas dari serangan tiga serigala di hadapannya.

“KAK!”

Semua menoleh, suara bernada tinggi itu berasal dari Bomin. Setelah membuat para saudaranya terhenti, tangan Donghyun ditarik dan disimpan di belakang tubuh tingginya.

“Jangan ganggu Donghyun, Kak!”

“BOMIN!”

Langkah Seungmin terhenti oleh sergapan Jibeom, “Biarin semuanya Bomin yang urus, Kak!” bisikan Jibeom menurunkan emosi menggebu yang lebih tua. Meninggalkan Bomin bersama dengan Donghyun.

“Kita pulang, ya?”

Belum memberikan tanggapan, Donghyun menelisik dahulu warna yang dibiaskan mata indah makhluk di hadapannya. Setelah menemukan biru, dia menggeleng. “Aku gak mau, di rumah ada Joochan.”

“Kak Joochan?”

Donghyun mengangguk, “Kamu gaakan bawa aku ke kakak kamu kayak mereka, kan?”

Gelengan kepalanya menjadi jawaban peneduh jiwa. Senyuman diberikan ketika mereka bertatapan. Namun, sedetik kemudian bola mata Donghyun terbuka. Dia melihat sendiri pancaran merah dari sorot mata Bomin yang segera berubah kembali menjadi biru. Dia hanya bisa melangkah mundur dan sedikit menjauhi Bomin.

“M-mata kamu… Kenapa…” sahutnya tergagap.

Pikirannya bingung, ternyata selama ini dia mempercayai sosok yang salah. Bomin sama saja seperti saudaranya yang lain, hanya memanfaatkannya demi kesembuhan Sungyoon.

“JOOCHAN!” Teriakannya lantang dan sarat akan ketakutan.

Sayang sekali Bomin mengabaikan teriakan dan permohonan Donghyun. Tangannya terus menyeret tanpa ampun. Bahkan warna matanya tak lagi disembunyikan. Dia bebas memperlihatkan warna kemerahan yang membara. Warna yang sangat menakutkan bagi Donghyun.

“JOOCHAN! TOLONG!”

Teriakan demi teriakan menggema. Bomin terus saja memaksa manusia itu agar mengikuti keinginannya. Tubuh Donghyun terpaksa menyentuh aspal jalanan, namun tetap saja diseret dengan kekuatan penuh oleh serigala tampan tersebut.

Radar permintaan tolong dirasakan dengan kuat. Menggunakan kekuatan teleportasinya, Joochan datang tepat waktu dan langsung menendang adiknya yang sedang menyeret Donghyun dengan kasar. Setelah terlepas, Joochan menyuruh Donghyun bersembunyi di tempat yang aman.

“Maaf, Joo…”

“Kamu gak salah, sayang. Pergi sekarang. PERGI!”

Perbuatan yang dilakukannya penuh dengan kebimbangan. Langkahnya terus melaju tetapi pandangannya melulu menuju kekasihnya. Joochan sedang bertempur dengan saudaranya sendiri.

“Joochan!” Bola matanya membesar ketika menyadari kekasaran Bomin yang kejam. Lajunya dibuat mundur, meraih tubuh sang pacar yang tak berdaya setelah dihempaskan dengan kasar.

“Hyun, pergi! Cari tempat yang aman. Aku gapapa.”

“Mana bisa aku ninggalin kamu, Joo. Maaf… Maaf bikin kamu jadi kayak gini.”

Sekarang bukan waktunya untuk menebar romansa. Melihat kakaknya kesakitan bukan berarti mengurungkan niat si adik bungsu untuk membalaskan rasa sakit hatinya. Menurutnya, Joochan sudah mengkhianati keluarga karena lebih memilih menyembunyikan dan melindungi Donghyun.

“Akh!” Giliran tubuh Donghyun yang terlempar. Kepalanya terbentur hingga menurunkan kesadarannya.

Joochan tidak terima dengan perlakuan adiknya. “Bomin, STOP! Kak Sungyoon pasti sembuh. Dia pasti sembuh tanpa harus ambil darahnya Donghyun!”

Kesabaran Bomin sirna, tangannya dengan kuat mencengkram leher yang lebih tua, “Kak! Dia cuma orang asing! Kak Sungyoon lebih butuh darah dia buat sembuh, Kak!”

“Kita semua sayang sama Kak Sungyoon, tapi… tapi ada cara lain bikin kakak sembuh, Bomin!” suaranya tertahan oleh cengkraman kuat.

“Aarrghhh!!!”

Tubuhnya kembali dilemparkan kasar dengan bekal kekuatan penuh dari purnama. Joochan tidak berdaya. Tubuhnya lemas dan matanya terpejam. Beberapa luka dan lebam pun terlihat di area tubuhnya. Kondisinya sangat mengenaskan. Seringai di manik Bomin terlukis tegas, kemenangan sudah dalam genggamannya.

Kakinya bergerak mendekati Donghyun. Menurunkan tubuh jangkungnya agar setara dengan Donghyun yang terkulai lemas. Tangannya mencengkram kedua pipi Donghyun hingga wajahnya terangkat.

“Kamu gak bisa lari kemana-mana lagi, Hyun. Kak Joochan udah mati!”

Bayangan kesembuhan Sungyoon membuat senyuman Bomin kembali terlihat. Tangannya sudah menggenggam Donghyun dan bersiap menyeretnya dengan kekuatan yang dimiliki. Namun, aktivitasnya terhenti karena kedatangan Jaehyun.

“Tinggalin Donghyun! Kita gak butuh dia lagi!”

Tangan yang lebih tua dihempas kasar, “Maksud kakak apa, sih?”

“Kak Sungyoon sadar! Pulang!”

Terlupa dengan kondisi Joochan, mereka pergi begitu saja. Meninggalkan pasangan kekasih yang terbaring tidak berdaya.


Donghyun kembali dari masa lalu setelah mendengar dentingan benda tajam yang terjatuh dari genggamannya. Sebenarnya dia juga terluka karena serangan Bomin. Selain itu, tenaganya juga terkuras karena membawa Joochan kembali ke rumah.

“Joo, maaf. Maaf kamu jadi kayak gini. Maaf aku malah lebih percaya sama Bomin dibanding kamu. Kamu harus tetap hidup, Joo.”

Donghyun tergeletak sambil meringis. Pisau yang berhasil digenggam kembali telah mengoyak pergelangan tangan sebelah kiri. Darahnya mengalir cukup banyak dan membuat kesadarannya menurun drastis.

Sembari menyeret tubuhnya, tangan kanan menutup darah yang terus mengalir seakan takut kehabisan. Sesekali tubuhnya juga terjatuh karena sudah tak bisa menopang apapun.

“Joo… Aku sayang sama kamu. Sayang banget sama kamu… Joo…”

Tubuh Donghyun ambruk tepat di atas kekasihnya yang juga tak berdaya. Selain luka di pergelangan tangan, bekas serangan Bomin pun cukup parah. Selain itu, tenaganya habis karena membawa Joochan kembali ke rumahnya.

Mereka terpejam dan kehilangan nyawa bersama. Darahnya yang mengalir tak sempat diberikan pada Joochan. Kesadaran sudah habis bersama jiwa yang perlahan tertarik ke alam lain.

Di luar sana, derap langkah tergesa terdengar jelas menuju kediaman Donghyun. Langkahnya terus mendekat hingga masuk ke rumah Donghyun yang sepi. Sungyoon, sosok yang selama ini diperjuangkan oleh Joochan telah sembuh total. Si sulung gemetar dan matanya berkaca, tak sampai hati melihat adiknya tergeletak lemah.

“Joochan?” suaranya gemetar sambil mendekat. Menelisik keadaan adiknya yang sudah tak bernyawa. Keadaan Donghyun pun menjadi pengalih perhatian, terutama pergelangan tangannya yang terluka.

“Kak! Kak Joochan!” lirih suara itu terdengar penuh penyesalan. Bomin yang mengekor di belakang Sungyoon merasa jika perbuatannya salah besar.

Begitu juga dengan Seungmin, Jibeom, dan Jaehyun. Mereka bertiga hanya terdiam ketika menyadari saudaranya terbujur kaku dalam genggaman saudara tertua. Penyesalan juga semakin terasa ketika melihat kondisi Donghyun.

“Kak Joochan, maaf. Bomin gak tau kejadiannya bakal kayak gini. Maaf, Kak.” Isaknya mulai terdengar. Kalapnya sikap Bomin membuat dua nyawa hilang sekaligus.

Selama menyembunyikan Donghyun dari para saudaranya, Joochan juga rajin memberikan berbagai pengobatan pada Sungyoon. Ketulusannya berhasil mentransfer energi positif sampai akhirnya membuat Sungyoon pulih. Semuanya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Joochan sadar jika saudaranya masih terkungkung emosi. Dia berusaha meredakan suasana sambil tetap menjaga serta merawat Sungyoon dan Donghyun.

Namun, perjuangan Joochan sirna. Pertempuran tak dihindarkan bahkan sampai menghilangkan nyawa dirinya sendiri. Pun dengan Donghyun yang merasa bersalah, dia rela memberikan darahnya tetapi terlambat. Romansa mereka berakhir tragis tapi tidak dengan ketulusan yang diberikan Joochan.

Ketulusannya berhasil membuat sang kakak pulih. Dia dapat beraktivitas dengan baik karena berbagai pengobatan yang diberikan. Walaupun terlambat, semua mengetahui jika semua yang dilakukan Joochan tulus. Cintanya bersih dan suci, sama rata diberikan pada Sungyoon, Donghyun, juga saudaranya yang lain. Tak seperti sangkaan buruk pada Joochan selama ini.

Terakhir, walaupun terlambat, akhirnya Donghyun juga menyadari jika semua yang dilakukan Joochan demi keselamatan dirinya. Kisah cinta kasih mereka memang tak nampak lagi di dunia. Namun, mereka bersama kembali di alam lain yang lebih indah tanpa harus merasakan kesakitan lagi.

FIN

Leave a Comment

Item added to cart.
0 items - Rp 0
Beranda
Cari
Bayar
Order