All Night

Juanda datang dengan pakaian bak parlente tak lupa parfum khas lelaki mahal yang entah darimana bisa Ia dapatkan. Membuatku tersenyum bangga ketika semua mata tertuju padanya— lelakiku seorang.

“Ki,” Bisik Juan dan bisa ku ketahui Ia sedang keringat dingin karena menjadi pusat perhatian orang orang di sini.

Mengalungkan tangan di leher Juan, “Ganteng banget pacar aku sekarang.”

Juanda patut dijuluki si kucing peliharaan karena lihat wajahnya sekarang yang berubah memerah dan matanya menjadi sayu karena secuil pujian.

Hari ini adalah hari terpenting dalam hidup, melihat sekarang Arjuna berada di sana dengan mata memicing. Kalah telak.

Dengan langkah tegas dan kebesaran hati, aku menaiki panggung utama di mana Arjuna dan wanita murahan itu disandingkan.

“Selamat atas pertunangan kalian,” Ucapku sembari mengelus lengan Juanda yang gagah itu.

“Siapa Ki?” Tanya wanita yang ternyata masih punya muka untuk berbicara denganku.

“Kenalin, Juanda Wicaksono. Pacar gue.”

Juanda menjabat tangan mereka berdua dan ku lihat wanita itu dengan berani mengedipkan mata genit. Cewek sinting.

“Jaga cewek lo anjing, genit banget!”

Ku tarik Juanda menjauh. Jika diteruskan bisa ku pastikan rambut wanita gila itu rontok di genggamanku.

“Tazkia, kenapa?” Tanya Juanda.

Menghela nafas berat, harusnya masih dijadikan pertanyaan jika sudah jelas pacarnya ini sedang kebakaran jenggot karena wanita lain berusaha menggoda prianya.

“Kamu ga sadar apa emang menikmati digenitin cewek lain?”

“Ha? Gak sadar. Kapan emangnya?”

Wah kesabaranku semakin menipis, terkadang Juanda yang terlalu lambat mencerna sesuatu membuatku jengkel bukan main.

“Gak usah dibahas. Panas ta kamu?” Keringat Juanda benar benar mengucur dari kening hingga leher padahal di sini dingin bukan main.

“E—enggak kok.”

Tanpa basa basi, ku lepaskan tuxedo yang Ia pakai walaupun sedikit tidak rela karena Juanda dengan pakaian ini sungguh sangat memukau. Saat tak sengaja menyentuh bagian kulitnya, Juanda benar benar meremang.

Menarik diri menjauh dari keramaian dan menemukan satu ruangan kecil, cukup sempit tapi sepertinya cukup untuk beberapa menit ke depan.

Ciuman Juanda begitu kasar, sesekali lidahnya keluar tempat. Berantakan. “Dasar, kalau gini aja otaknya cepet banget jalan.”

Juanda mulai melumat habis bibir dan leher. Tangannya dengan lihai menurunkan dress yang mudah robek ini. Benar benar tak sabaran. Nafas saling beradu terdengar menggema begitu keras.

“Ah! Juan hei!’

Gerakannya serampangan, Juanda tak biasanya seperti ini. Kucing peliharaanku berubah menjadi macan menyeramkan.

“Aku cemburu.” Hentakannya semakin dalam. “Ah!”

“Arjuna ngeliatin kamu terus.” Miliknya terlalu besar hingga tersedak. “Juan!”

“Tazkia punya siapa?”

Fuck, di mana Juanda yang selalu penurut dengan mata berbinar bak anak kecil sedang meminta permen kepada ibunya.

“Juan! Juan! Punya Juanda!”

Tepat dengan pelepasan bersama. Juanda mencium keningku, “Juanda juga cuman punyanya Tazkia.”

Menciumi leherku, kembali menjadi kucing peliharaan yang manis nan penurut.

Wah bisa gila lama-lama sama Juanda Wicaksono. Tapi baru sadar gaada rem di hubungan ini, alias terabas terus.

Beranda
Cari
Bayar
Order
Donate
error: Content is protected!!!