3. Mine : Rejected

Author: Chiika

Jalanan kota Seoul malam ini terlihat berkilauan dari biasanya. Kontras sekali dengan suasana hati Jungkook yang masih berantakan. Berpegang stir, Jungkook melaju mobilnya di jalanan yang masih padat walaupun sudah menyentuh jam 10 malam. Hal yang langka Jungkook lembur sampai melewati jam 10 malam. Biasanya lelaki itu memastikan kembali sebelum makan malam atau lewat sejam sedikit tidak pernah melewati jam 9. Karena jam di atas angka 10 selalu spesial dan Jungkook akan selalu menyempatkan waktu untuk kembali lebih cepat walaupun itu berarti memiliki jadwal penuh sampai sesak saat siang. Selama dia bisa kembali sebelum makan malam, Jungkook tak masalah tak punya waktu bernafas saat matahari masih tinggi.

Namun hari ini dia enggan pulang.

Dia ingin perjalanan nya lebih lama, dia ingin mobilnya terus melaju di jalan tanpa akhir. Gairahnya untuk pulang menghilang walaupun Taehyung sudah ada di sana. Pikirannya sempat kembali ke siang hari, dimana dia membanting stir sampai melewati daerah pejalan kaki saat melihat sosok pemuda bermata biru di warung kaki lima.

Perasaan lega membanjiri saat dia keluar dan memastikan kalau laki-laki itu adalah orang yang dia sayangi hingga tanpa pikir panjang Jungkook melangkah cepat dan mencium bibir manis itu. Rasanya sama, masih manis seperti biasanya.

Semua sudah ia rencanakan, kalau Taehyung tidak mau pulang dia akan menyandera Kim Sunhee di Busan. Oh, tentu Jungkook tega, dia sama sekali tidak segan walaupun itu keluarga Taehyung sendiri. Justru karena tahu Taehyung sangat menyayangi ibunya, Jungkook bisa semakin nekat. Selama itu membawa omeganya pulang, selama itu membuat Taehyung kembali ke pelukannya, Jungkook tidak peduli apapun caranya bahkan jika sampai Taehyung membencinya.

“Saya akan kembali, tapi dengan beberapa syarat.”

Syarat? Pasti melepaskan ibunya. Jungkook tahu ancaman itu pasti berhasil dan kalau Taehyung meminta syarat lain Jungkook tidak akan ragu mengabulkannya bahkan jika itu harus memberikan seluruh dunia pada Omega itu. Jungkook tidak peduli lagi.

“Aku ingin kau tidak menyentuh ibuku, biarkan dia sendiri lalu aku tidak butuh uang.. tapi aku ingin kau berikan dunia, bukan untukku tapi untuknya.”

Kening Jungkook berkerut, tidak terlalu mengerti apa maksud Taehyung sampai omega itu menuntun tangan Jungkook ke arah perutnya yang rata, “aku akan kembali jika kau tidak mengganggu ibu dan sahabatku juga biarkan anak ini hidup.”

Jantung Jungkook nyaris berhenti saat kalimat itu terucap dari mulut Taehyung sendiri dan bagaimana Taehyung menekan tangan Jungkook diperut itu. Seolah tengah menegaskan ada sesuatu yang hidup di sana. Benalu.”Anak apa?”

“Aku hamil dan aku mau anak ini tetap hidup dan lahir.”

Rasanya dunia Jungkook berhenti saat itu. Mata coklat Jungkook mencari kebohongan di wajah manis Taehyung tapi hanya menemukan sepasang mata biru yang menatap nya serius. Jungkook menarik tangannya seolah ia memegang bara api panas. Perasaannya berantakan dan tak terpeta karena pikirannya masih belum bisa percaya kata-kata Taehyung sepenuhnya.

Tidak.

“Tidak! Apa maksudmu Kim Taehyung!!”

“Seperti kata-kata ku, aku hamil dan aku akan mempertahankan anak ini.”

“AKU TIDAK MENGINGINKAN ANAK ITU!!!”

“Aku tahu tapi aku tidak peduli. Aku akan tetap membesarkan anak ini sendiri. Dengan atau tanpa pengakuanmu.”

Ini gila, tidak ada anak. Tidak ada anak dalam masa depan Jungkook bahkan sampai 10 tahun ke depan. Dia tidak butuh makhluk kecil yang akan jadi benalu dan memonopoli Taehyung nya. Tidak, dia tidak butuh. Dia tidak mau ada makhluk tambahan lain dalam kehidupan nya yang sudah sempurna.

“KIM TAEHYUNG SINGKIRKAN MAKHLUK YANG ADA DI PERUT MU SEKARANG!!” Jungkook membentak, tidak peduli dengan orang-orang yang menonton mereka di jalanan bagai sebuah drama korea.

“Kalau begitu aku tidak akan kembali selamanya, Tuan Muda Jeon,” Taehyung mengangkat dagu jumawa, berdiri tegap di depan Jungkook yang sedang murka tanpa gentar.

“BAJINGAN! AKU BUNUH IBUMU SEKARANG!!”

“Kalau begitu, aku semakin tidak mau kembali.”

“BERANINYA!”

“Anak ini hidup dan ibuku aman, lalu aku kembali. Salah satu tidak dipenuhi aku pergi.”

Sial, sial, SIALAN!!

Jungkook murka, ingin sekali menarik tangan itu dan membawanya pulang lalu mengikat Taehyung di ranjang lalu menyingkirkan anak itu dalam sekejap mata. Jungkook berani.

“Jika kau berani menyingkirkan anak ini Tuan Muda Jeon, aku akan bersumpah untuk pergi selamanya dari hidupmu.” Tangan Jungkook berhenti di udara dengan jarak sejengkal dari leher putih mulus milik Taehyung. Mata coklatnya beradu pandang dengan mata biru yang tangah menatapnya tanpa takut. Di bawah cahaya matahari mata itu terlihat bercahaya bagai sebuah safir. Cantik sekali.

Mengepalkan tangannya erat dengan rahang tertahan, Jungkook menunjuk mobil, “masuk ke mobil.”

“Aku tidak akan masuk jika kau tidak mau menyetujui syarat itu, Tuan Muda.”

“MASUK KE DALAM MOBIL KATAKU!!!”

Kedua mata itu beradu, saling keras tidak ada yang mau mengalah. Kedua mata bicara saat kata tak lagi membuat mereka saling mengerti. “Di momen aku masuk ke dalam mobil, kau sudah berjanji menuruti syarat ku,” Taehyung berucap lalu pergi memeluk Jimin yang Jungkook baru sadar masih belum beranjak dari tempatnya.

“Tae, jangan pergi.”

“Gapapa kok, aku akan baik-baik saja. Jaga dirimu Jimin.” Taehyung lalu masuk ke dalam mobil setelah memberikan pelukan hangat terakhir. Jungkook menghela nafas panjang lalu melangkah masuk ke dalam mobil dan tanpa banyak bicara membawa mobil melaju pulang.

Tak ada kata terucap selama perjalanan hanya hening yang menyelimuti mereka berdua. Jungkook sesekali mencuri pandang ke Taehyung di kursi sebelah. Omega itu sedang menatap jalanan dengan tangan memeluk perutnya sendiri dan Jungkook merasa muak.

Di perjalanan pulang dari kantor. Setelah membawa Taehyung kembali, Jungkook segera pergi untuk mengurus apartemen yang sudah disewa Taehyung. Memastikan seluruh barang Taehyung kembali dan apartemen itu bersih agar omega itu tidak lagi mencoba kembali.

Setelah urusan itu sudah selesai sejak siang, Jungkook bisa saja kembali tapi memutuskan ke kantor untuk memberi dirinya sendiri jeda barang bernafas dan juga memikirkan rencana selanjutnya.

Rencananya untuk hidup bersama Taehyung hancur setengah karena kehadiran anak itu. Jika saja Jungkook lebih hati-hati, mungkin Taehyung tidak akan hamil dan dia bisa melanjutkan setiap langkah rencananya dan menikah dengan Taehyung mungkin tahun depan. Namun jika begini semua jadi tidak pasti dan berbahaya. Kakeknya masih mencoba untuk mengendalikan Jungkook kendati Jungkook berada di kantor cabang di Seoul. Orang tua itu masih sibuk mengurusi cucunya yang enggan kembali dan mengambil kursi tertinggi direktur yang sudah disiapkan. Dengan syarat Jungkook mau melepas Taehyung dan menikah dengan omega pilihan kakeknya. Tentu saja, Jungkook tolak mentah-mentah, dia tidak perlu mengikuti kemauan oran tua sudah uzur itu. Dia bisa mendapatkan kursi direktur itu sendiri bahkan tetap bersama Taehyung disampingnya.

Sekarang Taehyung hamil, situasi bisa semakin pelik jika kakek itu tahu Taehyung mengandung keturunan Jeon. Manusia kolot itu pasti akan mencoba mengambil Taehyung nya dengan paksa. Tidak, Jungkook tidak akan membiarkannya.

Mobil Jungkook berhenti di area parkiran apartemen nya. Entah sejak kapan dia sudah berada di sini dan ajaibnya tanpa kecelakaan atau menabrakan diri ke pembatas jalan lagi. Menyeret diri untuk keluar, Jungkook tiba-tiba memukul mobil sebelahnya hingga bagian depannya penyok dan alarm mobil itu melolong keras. Persetan itu mobil orang, amarahnya sudah memuncak dan dia harus mengeluarkan sebelum masuk ke lift.

Apartemen nya berada di lantai teratas dengan rooftop taman hijau cantik dan juga sebuah ayunan kayu. Interior Apartemen Jungkook mewah dan minimali walaupun tiga hari kemarin isinya berantakan dan hancur sebagian karena Jungkook mengamuk saat tahu Taehyung tidak ada di sana. Dan saat Jungkook kembali, apartemen nya kembali rapih seperti sedia kala. Pecahan vas dan beling di lantai sudah bersih di sepanjang koridor. Pakaian kotor yang Jungkook ingat dia biarkan menumpuk di sofa juga sudah tidak ada dan lantai mengkilap seperti baru seakan badai tidak pernah lewat apartemen nya di tiga hari lalu.

Lalu kemana Taehyung? Kenapa tidak menyambut saat dia masuk?

Dadanya berdegup keras dan rasa cemas akan omega itu kembali hilang yang sempat sirna kembali datang. Jungkook hampir berlari lagi keluar sampai dia mendengar suara sesuatu jatuh dari ruang keluarga.

Alpha itu masuk ke dalam dan menemukan Taehyung tengah tidur pulas di sofa. Pakaian seragam maid lengkap dan sebuah pel lantai yang tergeletak di bawah dekat tangannya.

Jungkook menghembuskan nafas yang sedari tadi ditahan tanpa sadar. Lelaki itu mendekat dengan langkah ringan dan sebisa mungkin tidak membangunkan omega yang tengah terlelap. Berjongkok di depan Taehyung, Jungkook diam diam menyingkirkan helaian rambut Taehyung di kening cantik itu. Nafas berhembus teratur, mata terkantup rapat dengan bulu mata lentik. Omega itu terlelap bagai malaikat. Jungkook kadang bertanya, apakah normal ada manusia secantik Taehyung?

Jungkook is A Hopeless Romantic Man.

Pandangannya beralih ke bawah dan mantap perut rata yang ditutupi oleh tangan Taehyung seolah tengah melindungi nyawa itu dari hal buruk. Perasaan tak nyaman itu kembali, rasanya seperti dadanya ngilu bercampur muak. Kenapa anak ini harus hadir? Terlebih lagi sekarang? Diantara alur panjang waktu kenapa memilih sekarang?

Mata coklat Jungkook meredup, tangan besar nya terulur dan hendak menyentuh perut itu, jiwa mungil itu.

“Uhhhmm? Jung—Tuan Muda? Kau sudah kembali, aku menunggumu. Apakah sudah makan malam? Aku membuat Tangsuyuk untuk makan malam.” Tangan Jungkook kembali berhenti dan atensinya beralih pada Taehyung yang menatapnya dengan mata setengah terbuka. Tangannya beralih mengusap rambut pirang itu lembut kemudian tanpa kata menggendong Taehyung di dadanya lalu berjalan ke kamar pribadinya.

“Tuan? Tuan apa yang kau lakukan? Turunkan aku..” Taehyung berujar pelan, suaranya nyaris seperti bisikan. Omega itu terlihat kelelahan, membersihkan apartemen yang bagai diserang badai tentu saja membuat Taehyung kelelahan. Belum lagi, makhluk kecil itu yang malah makin menyusahkan.

“Diam, jangan banyak bicara.” Jungkook masuk ke dalam kamarnya dan menaruh tubuh Taehyung lembut diatas ranjang.

“Tuan ini bukan kamarku.”

“Aku bilang diam dan tidur,” sela Jungkook seraya menyelimuti tubuh Taehyung dengan selimut. Tak butuh waktu lama, Taehyung sudah kembali terlelap dengan nafas teratur. Jungkook bergeming beberapa saat menatap Taehyung yang begitu damai dalam tidurnya.

Tak lama dia beranjak dan mandi kemudian ke ruang makan yang sudah tersaji Tangsuyuk, danmuji dan lauk lain. Rapi tertutup plastik dan ditata rapi juga cantik. Duduk sendiri di meja granit, Jungkook makan semuanya dalam hening sampai habis.

—–

Hari itu hari minggu. Jungkook bangun siang sekitar jam 7 atau 8 dia baru membuka mata. Ranjang sebelahnya sudah kosong dan dingin, Taehyung pasti sudah bangun dari pagi-pagi sekali. Masih menggunakan celana training hitam dengan telanjang dada, Jungkook keluar dari kamar dengan rambut berantakan dan mata setengah terbuka tapi dengan segera terbuka saat melihat Taehyung sudah rapi memakai kemeja putih dan sebuah tas.

Ingatan beberapa jam yang lalu kembali dan Jungkook didera panik, dengan segera dia memegang tangan Taehyung mencoba menahan lelaki itu untuk pergi. “KAU MAU KEMANA?!”

Taehyung terkejut melihat tuannya tiba-tiba menggenggam tangannya dengan kuat, sorot matanya terlihat takut dan cemas Taehyung langsung tahu alasannya. “Tuan?! Aku, aku tidak kemana-mana, aku tidak kemana-mana. Aku hanya ingin pergi ke rumah sakit untuk periksa.”

“Kau sakit?!” Suara Jungkook tidak lagi membentak tapi masih naik beberapa oktaf. Lelaki itu benar-benar takut Taehyung pergi meninggalkannya lagi.

Taehyung mengerjap, “aku ingin cek kandungan.”

Kening Jungkook berkerut segaris, seperti nya masih nyawanya masih terpencar sampai Jungkook lupa hal terpenting, “apa?”

Tawa kecil Taehyung terdengar, genggaman tangan Jungkook melemah, “aku kan hamil tuan, tenang saja aku akan kembali sebelum makan siang. Aku hanya sebentar.”

Tangan Jungkook masih memegang Taehyung, dia masih terlihat sedang mencerna apa yang terjadi, otak jenius itu tengah mengingat kembali 96 jam kebelakang. “Aku ikut.”

“Apa?! Tuan, Tuan muda tidak perlu ikut pergi, saya bisa sendiri! Tuan tidak perlu melakukan nya jika tidak ingin bertanggung jawab..”

Jungkook melepaskan tangannya dan segera masuk ke kamar memakai baju juga cuci muka. “Aku ikut bukan karena anak itu,” Jungkook keluar dari kamarnya dengan kemeja hitam dan rambut sudah disisir rapi ke belakang, “aku ikut untuk memastikan kau tidak kabur. Ayo.” Menyambar kunci mobil di nakas, Jungkook keluar terlebih dahulu meninggalkan Taehyung yang mengekori dengan senyum tipis.

“Selamat siang, Tuan Kim. Ini pemeriksa pertama anda ya, jangan cemas rileks saja terutama suaminya. Mohon jangan tegang dan menatap seperti itu… bayinya.. akan takut..”

Taehyung melirik Jungkook yang ekspresi nya terus masam dengan alis menukik menyeramkan. Berdiri bersedekap dengan pundak lebar dan juga tangan bertato, tentu saja Jungkook akan dikira sebagai preman.

Iya preman yang punya suami cantik dan manis bagai kelopak bunga. Kontras seperti langit dan bumi.

“Uhhm, Tuan Muda kau bisa menunggu di luar jika tidak nyaman. Dan dokter dia bukan suami—”

“Aku disini karena aku suamimu. Sudah lakukan apa tugasmu, anak itu bahkan masih dalam bentuk jaringan dia tidak akan takut padaku,” tegas Jungkook dengan tatapan tajam menatap sang dokter yang tengah ingin membaluri gel ke perut Taehyung yang masih rata.

“B-baiklah..” dokter itu terlihat gugup apalagi saat dia menyentuh perut Taehyung yang segera diberi tatapan sengit seperti ingin diterkam singa oleh sang alpha. Taehyung hanya menghela nafas pasrah, tidak banyak berkomentar karena dia tahu Jungkook memang pembawaannya sudah sangar.

Layar kecil hitam putih dengan gambar abstrak, setelah melakukan banyak settingan dan mencari terlihat bulatan kecil yang membuat Taehyung dan Jungkook sama sama menahan nafas. Jantung mereka berdebar oleh dua alasan yang berbeda saat melihat bulatan mungil itu dilayar. Taehyung menatap layar dengan mata berbinar dadanya penuh dengan rasa bahagia. Kebalikan dengan Jungkook yang terlihat makin masam, rahang lelaki itu mengeras tatapannya begitu sengit.

“Lihat, sekitar 7 minggu selamat ya.”

Sudah 7 minggu dan tidak ada yang sadar? Mereka berdua berpikiran nyaris sama.

“Apa anda mengalami keluhan tuan kim?”

“Hanya lelah dan sering pusing, selebihnya tidak apa-apa.”

“Ah itu wajar, mohon kurangi aktifitas anda ya dan makan makanan bergizi yang mengandung zat besi dan asam folat. Saya akan berikan vitamin tambahan.”

“Baik, terima kasih dokter.”

Jungkook tak mendengarkan pembicaraan mereka, matanya masih fokus pada layar dengan bulatan hitam yang seperti tengah bergerak. Jadi makhluk itu benar-benar ada dan hidup?

“Tuan? Tuan, apa anda memiliki pertanyaan soal suami anda? Tuan?” Dokter itu bergidik ngeri saat Jungkook meliriknya dengan tatapan masih sengit. Jika ia perhatikan, dokter itu pernah melihat Jungkook di tv tapi kapan. Apa dia orang penting?

Sempat berpikir panjang, Jungkook akhirnya membuka mulutnya, “apa aku masih bisa bersenggama dengan suami ku setelah ini?”

——

Agustus terasa panjang dan panas. Rasanya panas sampai menyengat kulit. Taehyung membentangkan sprei putih di atas tali jemuran, memastikan kain itu terbentang licin tanpa lekukan saat menggantung dan berkibar terkena angin. Mengusap peluh di kening, Taehyung hendak mengambil baju lain untuk dijemur sudut matanya menangkap Jungkook di pintu. Pakaian hitam dari atas kepala hingga kaki, alis dan sudut bibir ditindik lalu mata memicing. Bersembunyi di bayangan atap, Jungkook terlihat seperti iblis yang tengah mengawasi korbannya.

“Tuan, anda sudah pulang? Mau…. Makan… siang….. bersa…. ma—” mata Taehyung berkunang-kunang dan tubuhnya seketika lemas. Dunia seperti berputar, pijakannya menghilang, Taehyung pikir dia akan menghantam tanah keras tapi yang dia rasakan justru dua tangan besar merengkuh tubuhnya lalu wangi cendana tercium di udara.

Saat matanya kembali fokus, Taehyung melihat Jungkook dengan raut wajah panik dan cemas. Taehyung tersenyum kecil dan tangan terulur menyentuh pipi Jungkook.

Kookie… Jungkookie.

Taehyung ingat waktu mereka kecil, Jungkook selalu mengikutinya bagai itik. Mata bulat coklat jernih nan lugu. Pipi merona dan penuh. Tubuhnya lebih mungil dari Taehyung dan selalu menangis saat Taehyung tinggal dan enggan berpisah.

Kookie… Jungkookie.

Sinar mata itu sirna saat Jungkookie kecil yang masih berumur lima tahun dipaksa masuk ke ruangan gelap sendirian. Taehyung tidak tahu apa yang terjadi di dalam tapi suara tangis Jungkook yang awalnya nyaring terdengar memohon minta dikeluarkan perlahan padam seiring berjalannya waktu dan digantikan hening. Entah apa yang terjadi di dalam karena keesokan harinya, sinar di mata Jungkook menghilang. Mata coklat Jungkook redup, gelap, kelam. Kookie kecil yang mengikutinya bagai itik menghilang.

“Tae?! Taehyung kau tidak apa-apa!? Taehyung kau pingsan!!” Sayup sayup suara Jungkook terdengar dan saat dia sepenuhnya sadar dirinya sudah berada di kamar sejuk sang tuan.

“Tuan muda?”

“Minum dulu, kau hampir kepanasan dan dehidrasi,” Jungkook berucap sambil memberi air dengan sedotan ke Taehyung dan membantu omega itu untuk duduk dan minum.

Menenggak air dan merasakan air segar mengaliri leher dan dadanya menghembuskan nafas lega, Taehyung rasanya seperti hidup kembali. Diluar memang sedang panas sekali apalagi matahari berada tepat diatas kepala hingga rasanya telur akan matang jika ia ceplok diluar. “Terima kasih, Tuan Muda.”

Jungkook tidak menjawab, dia hanya duduk di pinggir kasur sambil menyingkirkan rambut Taehyung yang basah karena keringat di kening. Sorot matanya terlihat tenang dan sedikit sendu. “Kenapa kau menjemur saat sedang terik-teriknya?”

“Justru karena sedang terik-teriknya aku menjemur agar cepat kering.”

“Kalau gitu besok kau tak perlu menjemur.”

“Lalu bagaimana pakaiannya kering??”

“Aku saja yang menjemur.” Taehyung mengerjap, dia benar-benar tidak menyangka Tuan Muda nya akan menawarkan diri.

“Tuan.”

“Hmmm?” Tangan Jungkook berhenti mengusap rambut Taehyung saat kedua mata biru itu menatapnya dari balik bulu mata lentik dan bibir memberengut maju.

“Jangan ambil pekerjaanku,” rajuk Taehyung dengan wajah memberengut gemas. Jungkook membatu, dia nyaris meraih pipi itu dan menciumnya kasar. Menahan tubuhnya di kasur dengan dua tangan terikat di kepala ranjang. Menyentuh tubuh itu hingga yang lebih tua menyebut namanya seharian tapi nafsu itu harus dia tahan habis-habisan karena dokter menyarankan untuk tidak melakukan kegiatan ranjang di trimester awal dan menyuruh Jungkook untuk menjaga agar tidak terlalu kasar pada tubuh yang makin rapuh itu.

Jungkook meruntuk dalam hati.

Hanya tuhan yang tahu apakah Jungkook berhasil menahan nafsunya sampai 9 bulan nanti.

“Aku mau update terbaru soal kasus itu, Hyung.”

Yoongi membuka ipadnya lalu membuka dokumen yang sudah dia kumpulkan dari hasil investigasi mendalam. “Penyelidikan masih sama tapi ada satu petunjuk di Daegu soal apartemen terbakar 27 tahun yang lalu. Kita juga menemukan mobil yang diduga kuat digunakan Kim Taewoo dulu sayang sudah hancur.”

“Hmmm,” Jungkook hanya bergumam singkat sambil membuka lembaran kertas kerja, “itu sudah cukup bagus, tetap lanjutkan penyelidikan diam-diam.”

“Baik, ngomong-ngomong Jungkook kau mendapat surat dari Jeon Jiwon tadi pagi.”

Kepala Jungkook terangkat, menatap balik Yoongi dengan kerutan di kening dua garis, “surat? Dari pak tua itu? Surat?? Di abad 21?”

Yoongi mengangkat bahu dan menunjukkan amplop surat berwarna hitam dengan embos perak dan juga segel wax berlambang harimau. Kerutan Jungkook bertambah lagi segaris. “Norak sekali, dia kira masih abad pertengahan atau gimana sih? Robek, bakar isinya lalu buang abunya di jalanan. Aku tak peduli.”

Yoongi tetap menaruh surat ‘norak’ itu diatas meja Jungkook. “Lebih baik kau baca terlebih dahulu. Ini undangan.”

“Tch.” Berdecak lidah, Jungkook mengambil surat itu dengan enggan. Kakek itu suka sekali hal norak seperti ini, tak mengenal email atau gimana sih? Amplopnya mewah dan disegel dengan wax perak berlambang harimau yang Jungkook kenal betul itu lambang keluarganya. Tekstur mate dengan embos yang saat terkena cahaya membuatnya berkilauan dan terlihat sebuah inisial J dan K. Perasaan Jungkook tak enak.

Membuka segel itu dan mengeluarkan sepucuk surat dengan kertas hitam senada, Jungkook membaca setiap kata yang dicetak dalam tinta perak mewah dengan darah mendidih dan berdesir. Saat sampai di ujung surat Jungkook membanting surat itu hingga suaranya terdengar nyaring mungkin juga sampai luar. ” BAJINGAN! Apa-apaan tua bangka ini?!”

“Mungkin dia sudah tahu?”

“TIDAK MUNGKIN!!!” Jungkook menyalak, Yoongi masih tenang sudah menduga reaksinya seperti itu, “aku memastikan Taehyung tidak keluar sejak saat itu, seluruh keperluan dipesan secara online sampai dia tak perlu lagi menginjakkan kaki keluar dari pintu! Dokter yang memeriksanya Taehyung pun sudah bersumpah tidak akan membocorkan ini. Yang tahu soal Taehyung hamil hanya kau, kekasihmu sekaligus sahabat Taehyung. Sunhee pun ku jamin tidak tahu soal ini.”

Yoongi mengangkat tangannya, “aku tidak ada urusan dengan ini dan aku berani jamin, Jimin tidak membuka mulutnya pada siapapun.”

“Benci mengatakan ini tapi aku percaya padamu bahkan sahabat Taehyung pun,” rahang Jungkook mengeras, “Jeon Jiwon memang ingin berperang.” Tangan Jungkook memegang erat surat itu hingga remuk.

“Sialan, aku tidak punya pilihan lain.” Jungkook bangkit dari kursinya dan memakai jas hitam nya, “Hyung, aku ingin kau mengurus suatu surat di pencatatan sipil juga carikan gereja dan pendeta, aku mau lusa ini sudah siap.” Langkah jenjangnya tiba-tiba terhenti diambang pintu, “ah hyung, lebih bagus Cartier atau Tiffany and co?”

TBC

A/N

Jadi gini gaes, niatku itu 3 Chapter end, tapi ternyata tidak, emg rasanya naif sekali kurang dari 10K end hhh

Pokoknya yang di lock itu chapter terakhir judulnya ‘OURS’

Oh ya visual Tuan Muda ini JK versi rambut pendek yaaa

Maid Kim (๑♡⌓♡๑)

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “3. Mine : Rejected”
Beranda
Cari
Bayar
Order