4. Mine : Acceptance

NSFW, MATURE, PREGNANT SEX, ORAL

Author: Chiika

Taehyung menatap kulkas dua pintu Jungkook yang penuh. Dari daging, susu, sayu mayur sampai ke bumbu dapur sudah lengkap bagai rak buku. Saking penuhnya, Taehyung sampai bingung akan memasak apa untuk makan malam nanti.

Siang tadi saat dia ingin pergi ke supermarket untuk belanja ada kurir di depan apartemen mereka sudah membawa dua sampai tiga tas besar berisi sembako lengkap. Tak lama, Jungkook menelpon kalau Taehyung tidak perlu lagi belanja karena semua akan dipesan online dan diantar langsung ke depan apartemen. Taehyung kagum dengan perkembangan jaman dan juga teknologi sampai mereka akan membawakan bahan makanan segar sampai ke depan pintu tapi Taehyung juga bimbang.

Biasanya dia akan menentukan menu makan malam selagi belanja dan berjalan-jalan di taman tapi sekarang kulkasnya sendiri sudah selengkap supermarket terdekat. Harusnya sih dia bisa senang, Taehyung tidak perlu panas-panasan keluar rumah apalagi semenjak hamil tubuhnya mudah lelah. Namun Taehyung juga skeptis, apakah ini cara Jungkook mengurungnya di apartemen dan agar dia tidak kabur lagi? Bisa jadi, dan Taehyung tidak menyukainya. Dia mudah bosan di apartemen sendirian soalnya.

“Woah caviar,” Taehyung mengambil sebuah kaleng kecil berwarna hitam dengan lambang ikan gemuk sturgeon. Dia suka makan Caviar, beberapa kali diajak makan bersama dengan Tuan Muda, Taehyung menyukai telur ikan berwarna hitam itu tapi sayang makan makanan mentah katanya tidak baik untuk janin jadi Taehyung menaruh kembali di dalam kulkas. Dia jug melihat sekotak Strawberry besar berwarna merah segar juga berada di kulkas di samping sayur mayur.

Taehyung mengerjap, dia baru sadar kalau isi kulkas Jungkook sekarang nyaris berisi makanan kesukaan Taehyung semua.

Ya mungkin terjebak di apartemen beberapa bulan tak masalah karena ada ice cream, strawberry segar yang siap menemani.

“Kita makan apa ya, Tuan Muda makan apa ya?? Kau ingin makan apa bayi kecil? Hmmm Mie dingin lagi kah? Waktu itu kita sudah masak itu, kalau itu lagi nanti Tuan Muda bisa bosan walaupun dia tidak pernah mengeluh dan akan selalu makan sampai habis sih. Masak apa ya?” Taehyung bergumam dengan diri sendiri seraya menelusuri bahan makanan di kulkas, “bagaimana kalau kalguksu?? Yap kalguksu dengan mandu!” Taehyung bersorak riang sembari mengeluarkan sayuran, daging dan udang kemudian menaruh di atas meja.

Senyum Taehyung berkembang saat membayangkan Jungkook makan dengan lahap kalguksu juga mandu yang dia buat, “bayi kecil semoga kau juga makan lahap seperti ayahmu ya—ah bukan ayah, Tuan Muda, maaf. Tak apa walaupun hanya papa kamu akan lahir dengan penuh cinta jadi jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja,” ucapnya sambil memulai membersihkan sayur dan menghaluskan daging untuk mandu.

[content_control]

“Tahu tidak, Tuan Muda itu makan apapun, dia tidak pemilih. Dia bahkan makan Steak Tartare dengan nikmat hahaha. Tak ada makan yang tidak dia suka,” Taehyung terus bicara sendiri, bicara sendiri dengan bayi mungil di dalam perutnya. “Dan kau tahu, mukanya seperti sedang marah setiap makan makanan enak! Gemas sekali.” Tangan bergerak memotong timun sampai menguleni adonan untuk kulit mandu sambil sesekali berdendang pelan di dalam dapur luas. Tangannya ringan mengangkat pisau dan suasana hatinya luar biasa baik. Menyenangkan sekali mengatahui kalau dia tidak benar-benar sendiri di apartemen ini. “Jadi, papa mau kau juga makan yang banyak dan tidak pemilih seperti Tuan Muda ya—”

“Siapa?”

Taehyung terperanjat, pisau yang dia pegang nyaris jatuh saat suara Jungkook memecah hening saat dia bicara sendiri. Menoleh ke belakang, dia melihat lelaki itu tengah menatapnya bingung karena Taehyung seperti sedang bicara dengan seseorang tapi menemukan dirinya sendirian di dapur.

“Kau bicara dengan siapa?”

Tertangkap basah tengah bicara dengan diri sendiri membuat wajahnya merona karena malu. “Aku hanya melantur!! Lupakan saja! A-anda pulang cepat sekali, aku sampai tidak mendengarmu sampai Tuan Muda.”

“Mungkin karena kau terlalu sibuk memasak sambil mengigau? Aku pikir ada seseorang yang masuk tanpa ijin, aku sudah siap menggorok lehernya saat sampai tapi malah menemukanmu sendiri. Kau tidak membawa seseorang masuk kan?”

“Tuan Muda tidak mungkin! Saya hanya bicara sendiri.” Telinga Taehyung merah, tidak berani menatap sang tuan yang berada di belakang memperhatikan punggungnya lekat-lekat.

Netra Jungkook terlalu fokus pada lekuk tubuh Taehyung yang dia sadari makin berisi dan sintal. Pipinya penuh, chubby menggemaskan lalu pinggul dan pantatnya yang kian bulat. Jungkook menelan ludah dalam diam memperhatikan bokong itu bergerak sana sini dibalik rok hitam panjang. Apa pahanya juga berisi? Sudah seminggu lebih Jungkook tidak melihat paha Taehyung dibalik rok panjang itu dan sekarang dia mulai frustasi.

“Benarkah? Aku mendengar kau menyebut namaku, apa yang kau bicarakan?” Mengambil langkah maju, Jungkook mendekat ke arah Taehyung hingga tepat di belakang punggung Maid itu.

Gerakan tangan Taehyung berhenti, dadanya berdebar saat tahu, Jungkook sudah persis di belakang, “aku… aku hanya…,” Taehyung tergagap, tidak berani bilang kalau dia sebenarnya tangah bicara dengan janin kecil di perutnya.

Dua tangan besar memeluk perutnya dari belakang dan Taehyung merasakan tubuh hangat menempel di punggungnya. “Hanya apa? Aku mendengar ‘papa’, siapa? Aku ingin tahu. Maid.. Kim ..” Jungkook berucap di telinga Taehyung, sengaja meniup nafas panas ke telinga yang sudah merah jambu. Gestur kecil itu segera dibalas dengan tatapan bulat dari dua kelereng biru nan menggemaskan.

“Tuan muda, s-saya sedang masak. M-mohon jangan seperti ini.”

Sudut bibir Jungkook naik, “hmmm, masak tinggal masak Maid Kim, ngomong-ngomong kau belum menjawab pertanyaanku. ‘papa’ siapa yang kau maksud huh??” Jungkook mengusap perut Taehyung, merasakan perut itu terasa keras dan membesar. Alis sempat terangkat sebentar kemudian tangan lain mengangkat rok panjang Taehyung dan mengusap paha mulus dibaliknya.

“Ughh, Tuan Muda tidak begini…” Taehyung terkejut saat merasakan tangan dingin Jungkook berada di pahanya.

“Jawab dulu pertanyaanku, Maid Kim. Siapa ‘papa’ yang kau maksud.” Tangan besar itu kini sudah menangkup satu bongkah daging kenyal milik Taehyung hingga omega itu tak sengaja mendesah kecil. Seringai Jungkook makin lebar, hanya segini sudah bisa mengeluarkan suara seindah itu? Wah.

Menggigit bibir, Taehyung berusaha berucap pelan dengan wajah merona yang membuat Jungkook makin bergairah, “T-tuan tangan anda…”

“Kenapa tanganku? Apa salahnya dengan aku menyentuh milikku? Kau milikku kan? Maid Kim kau bisa lanjut memasak tak usah pedulikan aku disini dan satu lagi jawab pertanyaanku soal…” Jungkook mendekat ke telinga lalu berbisik pelan, “‘papa’ itu?’ suara rendah beberapa oktaf dengan nafas panas.

Taehyung menggigit bibir makin kencang hingga rasanya nyaris berdarah dan memaksa tangan untuk tetap bekerja memotong timun. Sial, timunnya besar, pikirannya mulai berkabut oleh nafsu yang menjalar dari tangan dingin Jungkook di bokongnya.

“Jawab, Maid Kim.” Jungkook kembali berucap di telinga Taehyung dengan tangan itu meremas pantatnya membuat semua semakin sulit.

“A-aku… bicara dengan.. bayiku.. aku.. uhhm.. berharap kalau dia punya nafsu makan seperti Tu—aahn.. uhhm..” kalimatnya disela oleh desahan yang tak sengaja terucap saat satu tangan Jungkook makin kuat meremas pantatnya.

“Bayi? Oh ya, kau hamil ya. Hmmm… Aku baru sadar kau makin berisi saja ya Tae, sangat menggoda. Ada untungnya juga aku membiarkan bayi itu tetap disana karena dia membuat papa nya semakin sekal.” Tangan lain Jungkook mengusap perut Taehyung bersama menahan tubuh itu agar tidak limbung karena tahu kelemahan Taehyung adalah bokongnya.

Taehyung menahan mulutnya sendiri dari suara suara lain yang akan keluar. Ada perasaan senang tersendiri saat salah satu tangan besar Jungkook mengusap perutnya yang sudah mulai membesar tapi pikirannya kembali terkejut saat merasakan sesuatu yang keras di bokongnya. “T-tuan?!”

“Hmmm? Ngomong-ngomong, Tae kau pakai celana dalam apa hari ini?”

“Apa?! Tuan Muda—”

Belum sempat Taehyung menahan, Jungkook sudah menyikap rok itu dan menampilkan bokong hanya dalam balutan panties putih berwarna putih dan renda manis. “Ehh, gemas sekali. Tae suka renda ternyata.” Jungkook menurunkan panties itu kemudian menggigit bokong kenyal Taehyung hingga yang lebih tua memekik keras.

“Tuan?! Saya sedang masak!”

“Masak tinggal masak, Maid Kim dan sudah kubilang, aku disini hanya mengurus urusanku sendiri. Lanjutkan masak, anggap aku tidak ada.”

Bagaimana Taehyung bisa memasak saat Jungkook memakannya dari belakang. Tangannya gemetar memegang pisau dan nyaris kehilangan tenaga untuk memotong timun di atas cutting board. Mulut berusaha mati-matian untuk menahan desahan sampai dia merasakan lidah Jungkook masuk ke dalam lubangnya. “T-tuan!! A-aku sedang hamil…”

Jungkook berhenti dan dia keluar dari Rok Taehyung kemudian membalik tubuh Taehyung agar menghadapnya. “Lalu?”

“D-dokter bilang.. hati-hati,” gumam Taehyung pelan dengan wajah merah merona semerah tomat.

Senyum Jungkook mengembang setelah mendapatkan izin penuh dari omega itu. “Safe words darling. I’m going to eat you up till I’m full.” Jungkook menahan tubuh Taehyung diatas meja, menyingkirkan seluruh benda tajam agar tidak melukai omega cantiknya yang sudah tersaji bagai kudapan manis yang siap Jungkook lahap.

Mengangkat kedua kaki indah itu, Jungkook menciumi lingkar paha dalam sampai akhirnya terus ke dalam. Menjilat bibir sendiri, Jungkook kembali memakan Taehyung hingga lelaki itu mendesah tidak karuan di atas meja makan.

“T-tuan muda! Aah, kumohon!! Tidak disini!”

Rengekan Taehyung tidak terdengar, Jungkook terlalu sibuk menikmati kudapan manis.

“You eat your food in the dining room, am I wrong Mad Kim?”

“But—aahh! Young master Please!! I almost! Young Master!!” Taehyung meraih klimaksnya terlebih dahulu, keluar tanpa izin saat Jungkook masih dibawah sana.

Saat Taehyung sadar apa yang telah dia lakukan, mencapai klimaks lebih dahulu saat sang tuan masih sibuk di sana, Taehyung mencoba bangun, “Tuan! Tuan maafkan aku! Tuan!” Panik karena takut Jungkook marah dan menghukumnya. Dia tak masalah jika keadaannya seperti dulu, masalahnya sekarang ada bayi di dalam perutnya yang sedang Taehyung jaga.

Kepala Jungkook terangkat, berantakan karena hasil klimaks Taehyung di wajahnya dan ekspresi nya bagai sedang marah. Alis menukik, rahang mengeras dan tatapan tajam. Taehyung menelan ludah sampai Jungkook menjilat bibirnya sendiri dan berucap, “hmmm, mashita.”

Taehyung menghembuskan nafasnya, lega juga sedikit terangsang. Wajah marah itu, Jungkook memang akan terlihat marah saat dia memakan sesuatu yang enak. “T-tuan jangan di sini, makanannya bisa kena.” Wajah merah Taehyung mengelap muka Jungkook dengan apron seragamnya.

“Baiklah, kalau gitu mari kita pindah.” Jungkook tiba-tiba menggendong tubuh omega itu bagai koala sambil mencium bibir itu dalam sampai ke kamar sang tuan. Malam itu, cukup berbeda.

Sentuhan Jungkook lebih lembut dari biasanya, lebih sabar dari biasanya, lebih pengertian dari biasanya. Seperti sedang menahan diri untuk tidak menyakiti Taehyung yang sedang mengandung bayi mungil. Perlahan namun pasti, Taehyung belum pernah dipuja sedemikian rupa hingga ia mencapai klimaks berkali-kali sembari menyebut nama Jungkook.

“Aah, Tuan Muda… Tuan Muda.” Taehyung memeluk leher Jungkook yang berada diatasnya.

Jungkook mengecup wajah itu, mulai dari pipi, sudut bibir lalu berlabuh pada bibir yang sudah merah bengkak. Mencumbunya hingga nafas mereka kembali habis dan tersengal. Kedua tangan kokoh mengurungnya di sisi kanan kiri kepalanya berusaha untuk tidak meniban tubuh Taehyung.

Nafas mereka sepenuhnya habis, Jungkook melepas ciumannya dan melihat hasil mahakaryanya di tubuh Taehyung. Wajah berpeluh dengan bekas merah di leher hingga dada. Alpha nya bangga telah membuat tanda merah itu tapi saat matanya sampai ke perut yang sudah jelas terlihat besar itu senyum Jungkook sedikit pudar.

“Tuan Muda? Kenapa?” Taehyung memanggil pelan seraya mengusap kening Jungkook dari helaian rambut basah karena keringat.

Jungkook menggeleng dan mendekat ke ceruk leher Taehyung. Memberi kecupan ringan menggelitik hingga yang lebih tua tertawa geli. Sejujurnya Jungkook masih ingin lagi. Dia masih belum puas, jauh dari kata puas tapi melihat Taehyung yang terlihat kelelahan ditambah mereka belum makan malam, Jungkook harus memberi jeda. Taehyung butuh istirahat apalagi lelah begitu terlihat di wajah manis itu. Taehyung juga harus menyisakan energi untuk masak, atau mungkin mereka pesan antar saja? Tapi makanan sudah tinggal dimasak.

“Tae, ayo kita mandi.” Lagi-lagi Taehyung diangkat dengan mudah oleh yang lebih muda dan kali ini dibawa ke kamar mandi. Terlalu lelah untuk protes jadi omega cantik itu membiarkan Jungkook manhandle dirinya.

Keran air hangat dinyalakan, setengah dari tubuh Taehyung sudah terendam tapi tuan mudanya masih belum ikut masuk ke dalam bath up. Dia malah melihat Jungkook sibuk bolak balik membuka laci dan mengeluarkan peralatan mandi.

“Tuan Muda, bukankah ini terbalik?”

“Apanya?” Jungkook menjawab sambil membaca label shampoo dan conditioner di wastafel. Bertelanjang dada dengan celana training hitam yang entah sejak kapan dia pakai.

“Posisi ini, bukankah aku yang seharusnya menyiapkan bathup dan perlengkapan mandi Tuan?” Taehyung bertanya sembari menekuk lutut dan bersandar di kedua lututnya. Jungkook mendekat ke bath up dan menuangkan minyak esensial ke dalam air. Aroma strawberry dan vanilla tercium memenuhi ruangan seakan ruangan itu penuh dengan shortcake strawberry. Jungkook bukan alpha yang menikmati hal semacam ini tapi minyak esensial ini satu satunya memiliki wangi yang paling mendekati dengan aroma feromon Taehyung.

“Tuan?! Apa ini?”

“Minyak esensial, tutup matamu.” Jungkook duduk di samping bathtub sambil menyiapkan sesuatu.

Taehyung sempat bingung tapi tetap menutup matanya. Dia terkejut saat shower membasahi rambutnya hingga basah kemudian tangan memijat kulit kepalanya lembut hingga Taehyung tak sengaja mendesah. Aroma mawar lembut tercium dan Taehyung mengintip melihat Jungkook tengah membersihkan rambutnya dengan shampoo.

“Tuan, sepertinya ada yang salah.”

“Kau tidak suka shampoo nya? Aku beli ini di Paris.”

Taehyung tertawa pelan, “posisi kita sekarang. Harusnya aku yang melakukan ini tapi kenapa yang dimanja? Kenapa? Apa karena aku sedang hamil?”

Jungkook tak lekas menjawab, dia sibuk membersihkan rambut perak Taehyung dengan busa. “Tutup matamu lagi.” Taehyung kembali menurut dan menutup matanya lagi saat Jungkook membilas shampoo hingga bersih.

Saat merasa shampoo sudah bersih, Taehyung membuka matanya dan menatap Jungkook dari helaian rambut basah, mata biru jernih menatap Jungkook begitu indah dengan beberapa titik air membasahi kelopaknya.

Jungkook terpukau hingga tanpa sadar menghela nafas panjang saat pandang mereka kembali bertemu. Taehyung.. begitu indah—kata cantik rasanya tidak cukup untuk menjelaskan seutuhnya betapa indahnya Omega bermata biru, berambut perak itu.

Menyentuh dagu Taehyung, Jungkook mendekat dan mencium bibir manis itu pelan, lambat dan terasa penuh cinta yang Taehyung jarang rasakan bahkan tiap mereka bercinta.

Ciuman terlepas, mereka saling bertatapan. Mata biru menatap yang coklat. Mata biru tengah mencari sesuatu di kedalaman mata coklat Jungkook. Menelisik jendela jiwa itu, ingin mengintip sedikit, jiwanya. Kendati mata itu menatap nya begitu hangat bagai secangkir cocoa, Taehyung tidak pernah bisa menyelam di kedalaman nya dan sering terbawa arus hingga hanyut dalam tatapan bagai tengah memujanya itu.

“Tuan Muda, kenapa kau tidak menginginkan anak ini? Apa segitu bencinya kau memiliki anak dari omega rendahan?” Tak menemukan apapun omega itu akhirnya memutuskan untuk bertanya langsung.

Tatapan Jungkook berubah sejenak, seperti terkejut dengan setitik kecewa. Tangan besar Jungkook menangkup pipi Taehyung, ibu jari itu mengusap pipinya lembut. “Aku tidak pernah menganggapmu sebagai omega rendahan, Tae. Tidak pernah sekali dalam hidupku aku memikirkan dirimu serendah itu.” Kadang kala, di momen langka, Taehyung bisa membaca Jungkook semudah membaca buku yang tengah terbuka. Saat-saat Jungkook membiarkan pertahanannya runtuh sesaat. Saat mata itu menatapnya lugu, tulus seperti dulu. Hati Taehyung sampai ngilu.

“Kalau… begitu kenapa? Ah—bukan berarti aku, aku ingin kau bertanggung jawab! Hanya… hanya saja aku, aku ingin tahu kenapa kau sangat menginginkan anak ini untuk menghilang.”

Pandangan Jungkook sempat turun, lelaki itu seperti sedang bingung dan berada di pergulatan batin antara memberitahu Taehyung atau membiarkan pertanyaan itu tak terjawab. Membuka mulutnya, Jungkook akhirnya berkata, “aku takut, dia merenggut dirimu nanti.”

Satu alis Taehyung terangkat, “kenapa? Tuan Muda, walaupun bayi ini lahir aku akan tetap bersamamu bahkan sampai nanti. Dia tidak akan mengambilku darimu.”

“Kau tahu tingkat kematian orang tua dan bayi saat melahirkan akhir-akhir ini meningkat drastis?”

“Apa?”

Taehyung bisa melihat ekspresi menyakitkan dari Jungkook, “aku, aku serius takut kehilanganmu nanti. Aku tidak bisa melakukan apapun saat.. saat hari itu datang dan itu membuatku frustasi. Tae aku benar-benar takut kehilangan dirimu.”

“Aww, Jungkook..” Taehyung mendekat dan menangkup kedua pipi Jungkook lembut dengan tangannya yang basah, “aku tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja, percayalah padaku.”

“Mereka bilang melahirkan adalah hidup dan mati, aku lebih memilih kehilangan bayi tanpa nama itu ketimbang dirimu Tae. Aku.. tidak bisa hidup tanpamu.” Taehyung bisa melihat itu sangat jelas mata Jungkook yang selalu terlihat kuat itu kini terasa menyakitkan dan pilu. Jungkook terlihat benar-benar takut kehilangan dirinya, tehyung tahu itu tapi dia merasa ada sesuatu yang lebih dalam lagi soal ketakutan Jungkook.

“Jungkook, jujur padaku.. alasan lain selain kau takut kehilanganku adalah kau takut… kau takut menjadi seperti kakek dan ayahmu kan?” Taehyung bertanya pelan, mencoba selembut mungkin bertanya pada sang tuan.

Jungkook menatapnya dengan dua mata bulat yang kemudian bergerak resah.

“Aku..” mata coklat itu tiba-tiba berkaca-kaca, tapi ekspresi Jungkook masih sama seakan air mata itu menyelinap tanpa ijin saat Taehyun dengan sengaja menyentuh luka Jungkook yang bahkan dirinya tak sadari. “Aku… itu…”

Trauma generasi yang tanpa sadar diwariskan bagai sebuah harta karun turun temurun. Ayah membenci darah dagingnya sendiri karena iri sedangkan kakeknya bertangan besi yang tak segan menyakiti Jungkookie kecil. Semua berhulu dari generasi tertua dan terus mengalir hingga ke hilir generasi termuda. Jungkook mendapatkannya tanpa pengecualian, mungkin yang mendapatkan beban ekspektasi paling berat. Kehilangan ibunya sejak masih belia juga memperdalam luka batin karena Jungkookie tempat mengadu dan berpegangan hilang. Apalagi setelah tahu dalang yang mencabut nyawa ibunya adalah ayahnya sendiri, Jungkook seperti dikhianati.

Dituntut sempurna oleh sang kakek tapi juga dibenci karena sempurna oleh sang ayah.

Lalu sekarang tiba-tiba dia akan menjadi seorang ayah saat seumur hidupnya Jungkook hanya tahu ‘ayah’ itu selalu bajingan. Jungkook belum siap dan takut, takut mengulang kesalahan yang sama, takut mewariskan luka yang sama, takut menjadi monster bagi anaknya.

Takut dengan melahirkan hanya alasan kecil untuk menutupi luka besar di baliknya. kenapa Taehyung tidak segera sadar. “Kookie,” panggil Taehyung lembut seraya mengusap air mata yang sudah jatuh dari pelupuk.

Pandangan Jungkook kembali fokus dan kini kedua mata mereka beradu. Semua terlihat jelas. Lukanya di mata itu terlihat jelas. “Kau akan baik-baik saja.”

“Bagaimana kalau tidak? Tae, aku pernah membunuh seseorang. Tanganku ini bau darah, aku tidak ada bedanya dengan ayahku dan juga kakek tua bangka itu.”

Jungkook membenci kakeknya lebih dari ayahnya sendiri. Terlihat dan terasa setiap Jungkook enggan menyebut Jiwon sebagai kakeknya dan selalu mengutuk lelaki tua itu.

“Kookie, saat anak ini lahir apa kau mau menjadikan sebagai alat bisnis?

Alis Jungkook berkerut, “tidak, aku tidak mau..”

“Kenapa? Apa karena anak ini lahir dari pelayan rendahan?”

“Tae?! Tidak! Bukan karena itu.. tidak… aku juga tidak tahu dan tidak mengerti tapi aku tidak ingin seperti bajingan itu.”

“Kookie, kau berbeda, kau akan memutuskan mata rantai itu.”

“Taehyung aku bahkan tidak tahu aku mencintainya atau tidak, aku bahkan berpikiran ingin menyingkirkannya! Apakah menurutmu aku tetap akan jadi ayah yang baik??”

“Apa kau benar-benar melakukannya?

“T-tidak…” Tatapan Jungkook turun, dia kelihatan bingung.

“Kookie, kau hidup sekali dan kau menjadi ayah pun juga pertama kali, tidak ada yang bisa benar-benar mempersiapkan kita menjadi orang tua tapi kita selalu bisa belajar. Lagi pula dengan kau berpikir seperti itu aku merasa kau sudah berbeda dengan ayahmu dan tuan besar. Jungkook, kau akan memutus rantai kebencian itu. Kau akan menjadi ayah hebat. Aku percaya.” Masih dengan tangan menangkup kedua pipi Jungkook, Taehyung tersadar sesuatu. “Y-yaa! Kalau kau mau maksudku, aku tidak bermaksud untuk memaksamu untuk bertanggung jawab!! Jung-Tuan Muda, aku hanya ingin bayi ini lahir.. itu saja.” Wajah Taehyung merah padam, menggemaskan sekali.

Tangan Jungkook terulur, balas menyentuh pipi Taehyung dan membawa bibir mereka bertemu dalam kecupan ringan. “Asal tidak sendiri.. aku mau.”

Taehyung sempat bingung sampai Jungkook mengeluarkan sebuah cincin dari saku training. Taehyung terkesiap tak percaya. “T-Tuan Muda?!”

“Aku akan bertanggung jawab asal aku tidak sendiri. Aku mau kau mendampingiku, makanya Kim Taehyung, menikah denganku.”

Kali ini mata Taehyung yang berkaca-kaca, “T-tuan muda aku bersumpah, maksudku bukan seperti itu. Aku hanya.. aku hanya anak ini lahir. Aku tidak maksa Anda untuk bertanggung jawab apalagi sampai menikahiku! Aku hanya pelayan biasa!!”

“Ini bukan pertanyaan, ini pernyataan. Aku tidak butuh jawaban, ini perintah.” Jungkook mengambil tangan Taehyung dan menyematkan cincin emas dengan safir biru indah. Sebiru mata Taehyung yang Jungkook pilih spesial. “T-Tuan Muda! Tidak!” Air mata Taehyung meleleh, emosinya campur aduk. Dia senang tapi juga takut, takut apa yang akan dikatakan ibunya dia juga takut apa yang akan dilakukan tuan besar padanya. Rasa bahagia nya berasa seperti tabu. “Aku… aku tidak pantas, Tuan muda! Aku mohon!”

Jungkook mengecup jemari itu kemudian menatapnya serius. “Kau lebih dari pantas.”

“Tapi apa kata ibuku? Bagaimana dengan Tuan Besar?”

“Mereka bisa makan jari tengahku, aku tidak peduli. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Menikah denganku.”

“Tuan Muda… tapi… hiks”

“Tidak ada tapi, menikah denganku.” Jungkook merengkuh tubuh Taehyung, tidak peduli dengan tubuh Taehyung yang basah atau bathup yang jadi pembatas. Jungkook mendekap Taehyung yang menangis tersedu sedan bagai anak kecil. “Tae, aku tidak peduli dengan mereka dan aku tidak peduli pada kata dunia. Maid Kim, aku mencintaimu…”

Air mata Taehyung kian deras mengalir di pipi, emosinya rasanya dikuras habis. Kotak pandoranya terbuka dan dadanya penuh dengan segala macam perasaan yang selama ini dia pendam dalam diam. Dari dulu selalu ingin ia katakan, dari dulu selalu ingin dia ucapkan.

“Jungkook… aku juga mencintaimu.. sangat.. sangat mencintaimu.” Akhirnya terucap juga.

TBC

Masih nyambung gak sih??

Btw cerita ini gratis, tapi kalau mau Trakteer Dimsum buat maid kim boleh banget

[/content_control]

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “4. Mine : Acceptance”
Beranda
Cari
Bayar
Order