Chapter 15

Author: Arjunapisces

 

 

“kenapa ada Seoki Mama disini?” Bisik Salah satu petugas didalam kantor biro kepolisian ketika melirik Jimin yang berdiri sembari menolehkan kepala nya ke segala arah hingga wajah mereka bertemu tatap. Bibir gemuk nya menarik senyum tipis ketika dua petugas itu mendekat dan memberikan hormat padanya

 

“Mama, apa yang membuat anda datang kemari? Atau mungkin anda terpisah dengan rombongan lain nya?”

 

Jimin menggeleng pelan “tidak. Aku datang kemari memang Memiliki suatu tujuan.” Jawab nya dengan nada lembut. Dua petugas dihadapan nya menelan ludah merasakan sesuatu Hal ganjil dari maksud ucapan yang Jimin lontarkan.

 

“Tentang apakah itu Mama?”

 

“Apa kalian menahan seseorang bernama Im yon seo?”

 

Wajah dua petugas itu mendadak memucat Dan Jimin dapat mengetahui jawaban nya tanpa mereka menjawab pertanyaan darinya. Kemudian ia berjalan melangkah maju “bisa kalian antarkan aku padanya?”

 

Keduanya mengangguk pasrah, mereka berjalan terlebih dahulu memimpin Jimin saat memasuki ruang khusus tahanan. Kedua manik indah Jimin membulat sempurna ketika melihat seorang lelaki paruh baya terduduk dibalik penjara dengan keadaan memperhatinkan. Jimin reflek berjongkok hingga membuat dua petugas saling melirik dalam penuh rasa cemas.

 

“Apa anda baik-baik saja?” Suara lembut dengan getaran penuh rasa bercampur satu melihat lebih jelas beberapa Luka lebam yang terdapat pada wajah lelaki paruh baya dihadapan nya. Sedangkan lelaki itu memundurkan tubuh berusaha menjauh dari jangkauan tangan Jimin. Terlihat sangat ketakutan hingga Jimin berdiri dan berbalik menatap tajam pada dua petugas yang sudah resah ditempat.

 

“Kejahatan macam apa yang ia lakukan sehingga diperlakukan seperti ini! Bisakah kalian menjelaskan segalanya lebih detail kejadian yang sebenarnya! Jangan Diam saja atau aku bisa menyuruh para pengawal istana membawa kalian kehadapan Raja sekarang juga” ancam Jimin masih menatap lekat penuh amarah hingga dua petugas itu bersimpuh dibawah kedua kaki nya

 

“Tidak Mama, kami sungguh memohon ampun padamu. Kami hanya menjalankan tugas atas perintah ketua saja”

 

Jimin menghela nafas kasar lalu memundurkan langkah menjauhi kedua petugas itu.

 

“bangun dan keluarkan dia dari penjara. Ini perintah dariku!” Titah nya dengan telak hingga mau tidak Mau kedua nya serempak berdiri dan membuka pintu sel tahanan. Pria paruh baya itu menangis haru melihat sosok sang Selir istana begitu perduli padanya. Ia bersujud mengucapkan terima kasih dengan suara terisak. Jimin memegang pundak pria itu lalu menyuruh nya untuk berdiri agar sejajar dengan nya

 

“Mama bagaimana saya harus membalas segala kebaikan yang anda lakukan kepada hidup saya ini. Anda sangat mulia adil Dan bijaksana sekali.”

 

Jimin menggeleng pelan. Ia tersenyum kecil. “cara terbaik membalas ku  adalah lekaslah  pulih seperti semula dan kembalilah kepada keluarga mu. Jangan khawatir keamanan mu beserta keluarga mu ada ditangan ku. Kau percaya pada ku Tuan?”

 

Pria paruh baya itu lantas menangis haru yang bisa ia lakukan hanya kembali bersujud dan mencium ujung hanbook yang dipakai Jimin. Berucap rasa terima kasih serta doa baik yang terus ia gaungkan bagi selir istana dengan hati mulia.

 

🌺

 

🌺

 

🌺

 

 

“Jeonha ada kabar dari desa itu. Pengawal istana mengirimkan surat dan berisikan tentang Seoki Mama yang telah menyelamatkan seorang pria dari kesalah pahaman, mungkin lebih tepatnya memang sudah direncakan untuk menjebak agar kejahatan lain nya tidak terbongkar”

 

Jeonghyun mengangguk pelan, kedua matanya meneliti isi surat hingga senyum ia ukir tatkala membaca sampai akhir. Ia begitu bangga, tak salah jika dirinya harus mengirim Jimin kesana. Meskipun ia harus menahan rindu tak bertemu sang Selir kesayangan. Ia berbalik dan mulai berjalan meninggalkan pelataran paviliun Jimin.

 

Sementara Jieun terlihat begitu sangat kesal, amarah dihati nya memuncak saat mengetahui bagaimana cara Jimin menangani masalah yang sama sekali ia tak ketahui. Tentu saja itu akan berdampak buruk pada posisinya. Serta keberadaan nya dimata rakyat. Kini ia duduk memandangi langit hitam, menghela nafas panjang. Berusaha untuk meredamkan emosi di pikiran nya, namun sial itu semua tak mempan sedikit pun.

 

Wajah cantik nya menoleh pada orang kepercayaan, mulai berbisik mengatakan suatu hal

 

“Dayang cha, bisakah kau pergi dan bertemu salah satu kepolisian disini? Bawa dia padaku saat ini juga. Aku memerlukan bantuan darinya untuk menyingkirkan hama yang mengganggu”

 

“Baiklah Mama, saya akan lakukan saat ini juga”

 

Sayang itu lalu berjalan cepat meninggalkan Jieun seorang diri disana. Bibir tipisnya mengeluarkan decih. “Kita lihat Jimin, siapa yang akan menolong mu dari maut. Karna disini bukan lah istana, ini adalah neraka yang aku ciptakan untuk kematian mu” Ucap nya disela angin yang berhembus. Jieun memantapkan hati untuk mengambil resiko menyingkirkan Jimin yang jauh dari jangkauan Jeonghyun.

 

🌺

 

🌺

 

🌺

 

Suara derik bersahutan dikala udara dingin yang dirasa. Suasana sunyi senyap begitu teramat mencekam ketika beberapa sosok berpakaian hitam mengendap-endap memasuki pekarangan rumah penginapan tempat Jimin singgah. Ada empat orang penjaga istana yang nampak terjaga. Masih berjalan-jalan kecil sembari terus meneliti sekeliling. Mereka harus memastikan keamanan sang Selir kaisar agar tetap aman.

 

Namun tak lama dua orang dari mereka tumbang dengan anak panah kecil menancap tepat pada leher dan punggung. Anak panah yang sudah diberi racun hingga mematikan sekali menusuk pada tubuh. Racun yang menyebar mampu melumpuhkan keduanya hingga tak mampu berteriak sekali pun. Dua orang keluar dari rerimbunan pohon dengan pedang di tangan . Mereka kompak mengayunkan senjata tajam itu tepat mengenai jantung, hingga darah lantas menyembur keluar deras. Kedua penjaga mati di tempat.

 

Dua orang lain nya pun ikut keluar lalu mulai menyerang para penjaga yang tersisa. Terjadi perlawanan hingga suara gaduh dari luar rumah membuat Jimin terjaga. Pemuda mungil itu perlahan bangun dari tempat tidur . Ia berjalan lambat untuk mendekat pada jendela, hingga ia terkejut melihat kekacauan yang terjadi diluar sana. Ia pun dengan panik mulai berbalik berusaha melarikan diri lewat pintu belakang. Jimin bahkan melupakan alas kakinya. Ia berlari sekuat mungkin tanpa menengok ke arah belakang. Peluh bercucuran mengalir deras tanda bahwa dirinya sedang didalam kekalutan luar biasa.

 

Bibir ranum tanpa henti menggumamkan satu nama.

 

“Hyung, tolong aku”

 

Ringkikan kuda mulai ia dengar dari arah belakang, tanda jika para penjahat sudah mengejarnya. Kembali kaki kaki mungil nya terus berlari sekuat tenaga. Bahkan telapak kaki tak beralas itu sudah terluka akibat menginjak ranting serta batu batu krikil. Pandangan Jimin mulai mengabur akibat air mata yang keluar tanpa henti.

 

“TOLONG, TOLONG AKU!”

 

Teriaknya sekeras mungkin. Namun yang ia dapat adalah kekehan tawa menyeramkan. Jimin kembali menangis. Ketakutan semakin mendominasi dirinya. Perlahan langkah ia hentikan karena melihat jalan didepan nya adalah jurang. Jimin berbalik memegangi sebuah gelang merah begitu kuat. Kepala nya menggeleng memohon untuk dilepas kan

 

“Hiks, jangan kumohon. Aku adalah isteri seorang Raja. Hiks”

 

“Kami tak perduli. Kau harus tiada saat ini juga”

 

Jimin terus memundurkan langkahnya saat salah satu penjahat maju sembari menarik pedang. Hanya tinggal tiga lagi ia akan terjatuh dari tempat nya berdiri. Ia pun menutup mata serta berteriak memanggil nama Jeonghyun sangat keras. Raungan ketakutan nya bahkan menggema dikegelapan malam

 

Splaashhh

 

Satu anak panah berhasil menjatuhkan pedang di tangan penjahat, hingga memunculkan raut kekhawatiran. Jimin membuka mata nya lalu menoleh pada seseorang yang datang dengan mengendarai kuda hitam. Orang itu turun lalu melawan ke empat penjahat seorang diri. Mata indah nya tak mampu melihat siapa yang menolong nya tersebut karna diakibatkan genangan air matanya.

 

“Seoki Mama, anda baik-baik saja?”

 

Suara itu, suara yang sangat Jimin kenali. Labium tebal tersenyum kecil sembari mengangguk lemah.

 

“I-iya Sehza”

 

Jeongguk menoleh sebentar untuk memastikan keamanan bagi isteri ayahanda nya tersebut. Namun justru ia tak menyangka bahwa tindakan kecil itu memancing salah satu penjahat untuk mengambil kesempatan mengayunkan pedang hingga melukai lengan sang Pangeran Mahkota.

 

“Ggukie,,!”

 

Teriakan dari Jimin lantas membuat Jeongguk terdiam. Pangeran mahkota itu menatap dirinya dengan tatapan kebingungan. Bibir tipisnya ingin berucap namun tak sempat karna Jimin menarik nya ketika pedang kembali ingin mengenai tubuh pemuda itu.

 

Jeongguk sontak memeluk Jimin, namun Jimin berbalik dan membiarkan dirinya terkena bilah pedang tajam. Punggung sempit itu mengeluarkan darah akibat sayatan panjang. Jeongguk terkejut hingga ia berteriak memanggil prajuritnya untuk menyerang

 

“SERANG MEREKA!”

 

Ke empat penjaga itu lantas terkejut. Mereka terkepung dengan banyaknya para penjaga istana dengan peralatan lengkap di tangan masing-masing. Tombak panjang sontak mengarah pada keempatnya. Mereka tak bisa melawan karena kalah jumlah hingga akhirnya dapat dilumpuhkan begitu mudah.

 

Tubuh Jimin limbung dalam pelukan Jeongguk.

 

“Mama, kau bisa mendengar ku?”

 

Jimin tak menjawab ia hanya tersenyum tipis. Darah terus keluar. Jeongguk panik hingga ia merobek ujung hanbook tipis yang dikenakan sang Selir. Sayatan memanjang berusaha ia ikat agar rembesan darah tidak terus mengalir. Tangan Jimin terangkat memegangi pipi Jeongguk. Pemuda itu membalas menggenggam erat tangan nya.

 

“A-aku tak tak apa hhh”

 

Jeongguk menggeleng, air matanya keluar. Ia menangis. Namun Jimin kembali tersenyum.

 

“Ggukie, sungguh ak aku tak apa hh. Aku menyelamatkan mu.. Ka kau aman hh Sehza”

 

Nafas Jimin mulai tercekat. Jeongguk kembali terisak.

 

“Diamlah kau akan selamat. Jimin ah.. Jimin hyung ku”

 

Setelah mendengar ucapan itu perlahan mata Jimin menutup. Ia pingsan karna tak kuat dengan kondisi tubuhnya.

 

 

 

Di istana…

 

 

 

“Jimin ah… ”

 

 

Jeonghyun terbangun dengan mimpi buruk yang memperlihatkan tubuh sang Selir berada dikubangan darah. Ia merasakan sesuatu hal yang buruk sedang terjadi pada Cinta nya.

 

Jeonghyun mulai bangun dari tidur nya lalu berjalan keluar kamar. Tampak kasim Lee menatap nya dengan wajah gelisah.

 

“Ada apa? Kenapa wajah mu seperti itu? Apa ada yang ingin kau sampaikan?”

 

“Jeonha, Seoki Mama telah diserang oleh beberapa penjahat. Mama, Mama tidak sadarkan diri Jeonha”

 

Jeonghyun yang terkejut pun hampir terjatuh kebelakang jika kasim Lee tidak sigap memegangi lengan nya. Lelaki penguasa itu memasang wajah penuh amarah.

 

“Siapkan keberangkatan ku sekarang Juga, aku akan membunuh mereka yang telah melukai seoki ku”

 

 

🌺To Be Continued 🌺

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Chapter 15”
Beranda
Cari
Bayar
Order