Cursed Crown – 2

Author: Miinalee

Ket:

Hviturland: Tanah Putih. Negeri di utara yang tertutup salju abadi. Hampir seluruh penghuninya merupakan bangsa peri. Dipimpin oleh Ras Snowelf— peri salju.

Radourland: Tanah Merah. Negeri tropis yang menguasai barat dan membelah khatulistiwa, wilayahnya terluas. Penghuninya adalah bangsa peralihan/siluman penjelmaan binatang karnivora. Negeri ini dipimpin oleh Ras Werewolf.

Svarturland: Tanah Hitam. Negeri timur yang terdiri dari rawa, rimba, lembah, gua, gurun pasir, dan gunung berapi. Tanah tandus yang dihuni oleh bangsa Monster; Orc, Troll, Ogre, . Negeri ini dipimpin oleh Ras Ogre.

Graentland: Tanah Hijau. Tanah subur yang menjadi tempat tinggal bagi bangsa peralihan/siluman penjelmaan binatang herbivora dan bangsa manusia yang saling bersandingan. Negeri ini dipimpin oleh Ras manusia.

Blarland: Tanah Biru. Tanah yang sebagian besar terdiri dari perairan. Samudra, laut, danau, sungai, dataran basah, dan tanah di pesisir. Penghuninya adalah seluruh bangsa air. Duyung, kraken, fishman, etc. Negeri ini dipimpin oleh Ras Duyung.

.

.

.

.

.

.

Pulanglah sebelum senja, atau kau akan menyesal. Kau yang akan menyesal, anakku.”

Taehyung mendengus. Merasa kesal pada dirinya sendiri. Padahal ia sudah bertekad untuk mengabaikan bocah Snowelf itu. Mereka baru bertemu hari ini dan Taehyung tidak punya kewajiban apapun terhadapnya. Namun aneh. Ancaman sang ayah terus saja berkelebat dalam benaknya. Sial. Kenapa ia harus peduli?

Taehyung menendang batu kecil di bawah kakinya, bermaksud melampiaskan amarah. Masih tidak percaya kalau dirinya benar-benar terpengaruh. Dan lihat sekarang…

Taehyung berdecih, mengejek dirinya sendiri.

Senja belum tiba dan Taehyung sudah berdiri di depan benteng Istana. Secuil perasaan dalam hatinya terus mendorong Taehyung untuk masuk ke dalam, namun di sisi lain… Ego menahan langkahnya.

“Tidak perlu malu, Tae.”

Taehyung tersentak, kaget mendengar suara yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Tapi tanpa perlu berpaling, ia tahu siapa pemilik suara itu.

“Appa yakin kau sudah gatal ingin melihat calon mate, ne? Masuklah, dia sudah ada di kamarmu.”

Taehyung mendengus, hanya membalas ucapan ayahnya dengan wajah jengkel sembari berlalu, bermaksud menghindari sindiran-sindiran Namjoon lebih lanjut.

Namun tidak semudah itu, Namjoon menyeringai sebelum kembali bicara—

“Kakak-kakakmu sedang memberi salam pada pangeran itu. Bersabarlah sedikit, lima atau sepuluh menit lagi.”

Taehyung terhenyak, melotot, dan dengan cepat berbalik memandang ayahnya. “Kau biarkan noona menemui bocah itu?”

“Huh? Memangnya kenapa?” Namjoon berpura-pura bingung. Meski dalam hati bersorak melihat respon putranya, terlebih saat Taehyung makin melotot –shock.

“Aish—” Taehyung berdecih, sudah tidak bernapsu meladeni ayahnya. Namun entah kenapa dadanya berdegup gugup, meski dengan lihai Taehyung menutupinya dengan memasang ekspresi jijik. “Kenapa harus kamarku? Kalau mereka mengunyah daging bocah itu di atas ranjangku, bagaimana?” ujar Taehyung beralasan sebelum ia berlari menuju kamarnya.

Namjoon tersenyum. Membiarkan putranya berlari masuk ke dalam istana. Namun satu yang tidak diketahui Taehyung. Bahwa Namjoon mengenal putranya lebih dari siapapun. Ia tahu, karena itu Namjoon terkekeh.

“Benarkah kamar dan ranjangmu yang kau khawatirkan, Taehyung-ah?” ujarnya pada diri sendiri. Lalu Namjoon beranjak, mengikuti langkah putranya yang sudah menghilang masuk ke dalam istana.

Namjoon menyeringai lagi. Ia sudah bertekad, rencananya tidak akan menunggu. Semua harus berjalan dimulai sejak malam ini.

.

.

.

.

.

Taehyung membanting pintu kamarnya kuat-kuat. Sebulir keringat mengalir di pelipisnya. Perlahan, bulu-bulu lebat yang memenuhi sekujur tubuhnya menyusut, lalu lenyap. Ia tidak kelelahan meski harus berlari menuju kamarnya yang terletak jauh di dalam istana, tentu kalau ia melakukannya dalam wujud serigala. Dan Taehyung sendiri bingung, kenapa ia harus berubah wujud demi mencapai kamarnya yang dengan lebih cepat dan hanya untuk menemukan—

“Loh?”

Kening Taehyung mengerut. Bingung saat hening kamar menyambutnya, meski samar terdengar suara isak tangis dari ranjang yang tertutup kelambu. Sembari melongok kesana-kemari, mencari tetes darah atau sisa-sisa penyiksaan, Taehyung mendekat. Berjalan menuju ranjangnya.

Dan disana, di sudut ranjang, sosok kecil meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Taehyung menelan ludah. Entah mengapa merasa lega begitu menemukan pangeran Snowelf itu masih bersuara dengan tubuh yang UTUH. Tanpa kehilangan apapun kecuali mantel tebalnya.

Taehyung berdecak, dan tampaknya suaranya barusan mengusik pangeran kecil yang tengah asik menangis itu. Meski bocah itu tidakmengangkat kepalanya sama sekali, Jungkook hanya beringsut mundur dan memeluk dirinya sendiri makin erat.

Sadar bahwa dirinya telah tertipu, Taehyung mendengus. Merasa kesal sekaligus malu. Harusnya ia tahu kalau sang ayah hanya bermaksud untuk memancing reaksinya, dan dengan bodohnya Taehyung terjebak. Meski tidak ingin mengakuinya, Taehyung juga tidak bisa mengingkari desir itu. Desir dan ketakutan yang tiba-tiba muncul saat ia mendengar bahwa bocah ini tengah bersama kakak-kakak perempuannya yang bertangan dingin. Apalagi bayangan tubuh mungil dan wajah cantik itu tercabik, terkoyak, dan di santap secara mengenaskan –Tentu terlahir sebagai bangsa pemakan daging yang berdarah dingin, Taehyung sudah terbiasa dengan semua itu. Tapi untuk kali ini… Urgh. Ia bahkan tidak sanggup memikirkannya.

Dan setelah menemukan bahwa pangeran kecil ini masih utuh dan hidup, meski tampaknya tidak dalam mood yang baik. Taehyung merasa sedikit lega. Ia berbalik, bermaksud untuk meninggalkan ruangan ini.

Biar saja ia tidur di kamar lain, hari ini, atau selanjutnya, atau sampai kapanpun juga. Tapi Taehyung tidak akan menyentuh bocah itu. Tidak meskipun ayahnya kelak menangis darah dan memohon padanya. Lagipula kenapa ayahnya yang bodoh itu tidak bisa memilih calon mate yang lebih tepat untuknya? Setidaknya dengan usia yang layak untuk disetubuhi, mungkin hati Taehyung akan sedikit luluh untuk menuruti keinginan ayahnya yang ingin memiliki cucu laki-laki. Tapi kali ini… Taehyung tidak akan sanggup melakukannya, tidak saat ia membayangkannya melakukan hal itu dengan putrinya sendiri.

Taehyung sudah akan keluar, namun belum sempat saat pintu tiba-tiba ditutup dari luar.

KREK!

Taehyung melotot, makin tercekat lagi saat didengarnya samar suara komat-kamit dari luar kamar. Itu suara cenayang istana. Dan samar Taehyung mendengar suara ayahnya juga yang sibuk menyuruh ini dan itu pada sang cenayang.

“Oh, tidak.” Dengan panik, Taehyung berusaha membuka pintu kamarnya, meski nihil. Pintu itu sama sekali tidak bergeming. Seolah pintu berbahan kayu itu berubah menjadi bongkahan besi, sama sekali tidak bisa digerakkan.

Mencari alternatif lain, Taehyung segera berbalik dan menyeringai saat ditemukannya jendela masih dalam keadaan terbuka. Namun belum lagi ia melangkah setapak pun dan—

BLAM!

Jendela kamar menyusul tertutup secara sendirinya.

“Sial!” Taehyung berseru kesal, refleks dihantamnya pintu dengan sekuat tenaga. Namun tetap saja pintu itu tidak bergeming, justru suara lain yang muncul merespon tindakan Taehyung.

“Uhn!”

Taehyung menghela napas. Diliriknya sosok yang tampak samar dari balik kelambu.

Tubuh itu tampak gemetar, tangisnya menyusut dan berubah menjadi cicit-cicit kecil. Seolah takut orang lain akan mendengar suara tangisnya, seolah takut seseorang akan datang untuknya dan sialnya benar saja—

Taehyung membuka tirai itu, membuat Jungkook tersentak dan refleks menyembunyikan wajahnya. Isak tangisnya kembali terdengar, mengeras tak tertahan. Jungkook meringkuk, berusaha melindungi dirinya sendiri dengan memeluk kedua lengan hingga kuku-kukunya menancap dan meninggalkan luka di kulitnya yang mulus.

“Hah, diamlah. Aku tidak akan memakanmu. Tubuhmu yang kecil itu tidak akan membuatku kenyang.” Taehyung berucap datar, lalu kembali menutup tirai ranjangnya dengan kasar. Bocah ini mengira bahwa Taehyung akan memakannya, Taehyung bisa mencium bau ketakutan yang terasa begitu kental di dalam ruangan ini.

Dan entah kenapa ia merasa kesal saat tahu Jungkook menganggapnya sedemikian buruk. Lebih kesal lagi saat bocah itu terus menunjukkan rasa ketakutan berlebih terhadapnya. Rasa takut yang berbau manis, meski Taehyung dengan mudah mengabaikan insting hewaninya.

Sembari menghela nafas, Taehyung duduk dengan lesu di kursi yang bersebrangan dengan ranjangnya. Dari sini ia bisa melihat jelas siluet tubuh bocah itu meski dihalangi oleh tirai. Begitu kecil, begitu rapuh, dan tampak begitu manis.

Suara tangis lamat-lamat menghilang, berganti dengan kesunyian kamar. Mungkin bocah itu sudah kelelahan, menangis dan gemetaran selama berjam-jam pun pasti menguras energi. Hingga setengah jam berlalu, dan tidak ada suara lain yang terdengar kecuali lolongan anjing dan suara jangkrik. Taehyung tergelitik untuk bangun, entah angin apa yang membawanya mendekat. Seolah ada sesuatu yang menariknya hingga Taehyung berdiri begitu dekat di sisi ranjang, lalu disingkapnya tirai tipis itu…

Tidak ada respon, tidak ada suara tangis, tidak ada bau ketakutan, atau gemertak gigi yang saling beradu. Bocah itu masih pada posisinya semula, meski kini tampak lebih tenang dan tidak bersuara, tertidur dalam posisi duduk meringkuk. Dan hati Taehyung berdesir. Ada gejolak aneh yang menggelitik perasaannya. Rasa rindunya pada sosok khayal seorang anak perempuan yang mungkin jika masih hidup sampai sekarang –pasti telah tumbuh sebesar ini.

Taehyung tersenyum sedih. Lama dipandanginya tubuh yang meringkuk itu dengan senyum lembut mengembang di wajahnya, sebuah senyum kerinduan. Lalu setelah lama berpikir dan memutuskan, Taehyung beringsut naik ke atas ranjang. Mendekati Jungkook dengan hati-hati, berusaha untuk tidak mengusik tidur remaja tanggung itu.

Sembari menahan napas, Taehyung membopong tubuh Jungkook. Berusaha menidurkan tubuh kecil itu di atas ranjang besarnya, memosisikannya senyaman dan seaman mungkin. Taehyung meluruskan kedua kaki pendek itu dan begitu hati-hati saat menarik lengannya dari tengkuk Jungkook. Tak lupa ditariknya selimut untuk melindungi tubuh Jungkook dari hawa dingin malam yang menusuk. Dan kini, pangeran Snowelf itu tertidur nyaman dengan posisi yang layak. Setidaknya ini jauh lebih enak dipandang. Taehyung tersenyum puas.

Sebenarnya Taehyung sudah berniat untuk kembali ke kursi, toh malam ini ia akan tidur disana. –Hanya pembaca cerita ini yang begitu mesum berharap Taehyung akan tidur di atas ranjang bersama Jungkook, tapi maaf saja, cerita masih panjang.— Namun Taehyung membeku di tempatnya bediri begitu ia menatap wajah pulas itu. Taehyung tidak akan berdusta pada dirinya sendiri, ia memang terpesona pada paras cantik seorang pangeran Snowelf yang baru kali ini bisa dilihatnya dalam jarak tak lebih dari satu meter. Siang tadi hanya sekilas ia melirik Jungkook, dan disini, ia bisa melihat dengan jelas. Tidak salah kalau bangsa mereka bernama Snowelf, karena lihat saja makhluk ini… Kulitnya begitu putih dan halus, sekaligus dingin. Seperti bulir salju yang baru saja turun dari langit.

Tapi tetap saja. Taehyung menggeleng. Tetap saja peri salju yang ini terlalu muda untuknya, semakin lama Taehyung menatapnya, semakin jelas ia merasakan gambaran wajah mendiang putrinya.

Lama Taehyung memuaskan diri menikmati pemandangan wajah Jungkook, bernostalgia dan mengandai-andaikan wajah putrinya— sampai ia menyadari sesuatu.

Kening Taehyung mengerut. Ia menunduk, menyibak rambut yang menutupi sebelah telinga Jungkook.

“Eh?” Taehyung terkesiap. Merasa aneh dengan bentuk telinga pangeran Snowelf itu. Kalau tidak salah ingat, hampir semua telinga bangsa peri sedikit meruncing di bagian atasnya. Tapi telinga Jungkook… Tampak biasa. Seperti telinga manusia, seperti telinga bangsa peralihan yang tidak dalam wujud hewani. Telinga mungil itu tidak meruncing di bagian atasnya. Tapi ia berani bersumpah, tidak mungkin insting penciumannya keliru. Ia mencium bau khas bangsa peri menguar dari tubuh Jungkook. Tidak salah lagi, Jungkook memang berasal dari bangsa Peri. Bagaimana mungkin ia bisa diakui sebagai Pangeran Hviturland kalau tidak memiliki darah peri? Atau mungkin ada beberapa orang dari bangsa peri yang tidak memiliki telinga runcing, untuk menandakan sesuatu?

Taehyung mengendikkan bahu, berhenti memusingkannya karena hal itu hanya akan membuatnya semakin bingung saja. Kali ini tanpa berpikir dua kali, sebelum ia kembali tergoda untuk berlama-lama memandangi wajah Jungkook, Taehyung berbalik dan segera kembali duduk di kursinya. Baru Taehyung sadar, kalau meja di hadapannya penuh dengan nampan-nampan makanan yang masih terisi penuh tanpa tersentuh sedikit pun.

Taehyung menghela napas. Ayahnya benar-benar merencanakan semua ini.

.

.

.

.

.

.

Begitu matahari tenggelam, keluarga besar kerajaan Radourland berkumpul di ruang makan yang sangat luas. Ruangan mewah itu didominasi oleh warna merah dengan beberapa sentuhan putih pada taplak meja dan kursinya. Namjoon sang Raja beserta kelima putri dan menantunya, dan juga cucu-cucunya duduk di kursi mereka masing-masing. Tampak sepasang kursi kosong yang ada di ruangan itu; milik Taehyung dan orang yang akan jadi pasangannya.

“Mulai besok, semua makanan harus dalam keadaan matang dan sediakan menu-menu yang disukai bangsa peri.” Namjoon berkata kepada kepala pelayan mereka dengan suara yang cukup keras, sengaja menarik perhatian anak-anak dan menantunya yang hadir di sini. Sang raja memang melakukannya untuk memancing seperti apa respon yang akan diberika oleh anak-menantunya, dan sesuai dugaannya, umumnya mereka berdecih dan mendesah tak senang.

“Appa! Kalau mau menyediakan menu peri, bisa-bisa kita memakan bunga nanti! Aku tidak mau makan bunga!” SeoYoon merespon paling cepat.

“Snowelf makan bunga? Pffft—!” Salah seorang menantu Namjoon kelepasan berkomentar dan disikut oleh istrinya.

“Aku tidak mengatakan bahwa kau harus makan makanan snowelf itu kan, SeoYoon?”

Anak gadisnya itu merajuk.

“Tapi bayangkan saja Appa! Hidangan bunga dan buah di meja ini akan mengganggu selera makan kita dengan bau yang menjijikkan itu! Bisa-bisa makanan kita juga jadi berbau dan terasa seperti itu! Dan dagingnya disajikan dengan matang pula!”

Tidak seorangpun menantunya yang berkomentar, namun Namjoon bisa menebak bahwa mereka juga sependapat dengan SeoYoon.

“Appa, aku mengerti dengan keputusanmu. Tapi kasihan kan anak-anak ini, mereka belum mengerti tentang hal ini.” InYoung mengelus kepala putri bungsunya yang berumur empat tahun dan duduk di sebelahnya. Namjoon menghela nafas dengan sabar.

“Tidak ada pilihan lain, Young-ah. Tidak mungkin kita membiarkan dia makan sendirian di pojok dengan meja terpisah. Sebagai orang tua, kalian harus mencoba menjelaskan kepada anak-anak kalian bahwa calon istri Taehyung itu sedikit berbeda selera dengan kita.” Namjoon bisa melihat SeoYoon yang mencibir dan menggerutu dari sudut matanya.

Huh… bawa sial saja bocah manja itu!’ Gerutu SeoYoon kepada seorang kakak di sebelahnya. Namjoon berdehem untuk mengambil perhatian mereka lagi.

“Aku akan tegaskan lagi kepada kalian bahwa Snowelf yang bernama Jungkook akan segera menjadi bagian dari keluarga besar kita. Tentunya dia tidak akan makan malam semeja dengan kita sebelum Taehyung mengklaim anak itu sebagai pasangannya. Kuharap kalian bisa menerima dia sebagai keluarga kita dengan sikap yang baik tanpa memandang asal-usulnya. Bersikaplah dewasa.” Perintah Namjoon adalah mutlak, mereka semua tahu bahwa dibalik nada bicara yang bijak dan ramah itu tetap ada sosok kuat seorang raja serigala yang tidak suka ditentang.

Meskipun SeoYoon dan anak-anak perempuan yang lainnya terkadang berani berkomentar, tapi mereka tahu hanya sampai sebatas itu. Namjoon tidak mudah dipengaruhi oleh pendapat orang lain, bahkan bujuk rayu manja putri-putri kandungnya sama sekali tidak berefek pada dirinya. Kecuali Taehyung—sang putra mahkota kesayangan Namjoon, hanya kata-kata Taehyung lah yang mungkin akan dipertimbangkan oleh sang raja.

“Jangan lupa, sebagai bagian dari keluarga Radourland dan karena Pangeran Snowelf itu sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga kita, hukuman bagi orang yang mencoba melukai atau mencelakakan Jungkook yang akan menjadi mate putra mahkota—tetap berlaku sebagaimana biasanya.” Namjoon memandang keras kepada keluarga besarnya seolah mengancam.

Hukuman mati.

Mereka semua paham benar soal itu.

Tiba-tiba makanan mereka terasa hambar. Keluarga yang hadir di sana hanya saling melirik satu sama lain tanpa membantah keputusan sang raja. Cucu-cucu raja yang masih kecil dan tidak mengerti apa yang mereka bicarakan melanjutkan makan dan gelak tawa mereka. Suasana tegang yang hanya dirasakan orang dewasa itu mencair ketika Namjoon tiba-tiba tertawa hangat.

“Hahahahaa! Kenapa wajah kalian jadi tegang begitu? Mari lanjutkan makan malam kita.” Namjoon mengangkat gelas wine-nya ke atas. Gerakan dibalas oleh para menantu dan anaknya dengan senyum kaku dan canggung.

.

.

.

.

.

.

.

Taehyung mengerjap, lalu meremas tengkuknya sesaat. Tidak biasanya ia terbangun dengan rasa pegal di sekujur tubuh. Dan yang paling parah, lehernya keram. Setelah beberapa kali mengerjap lagi, Taehyung benar-benar tersadar. Ia beringsut bangkit, baru teringat kalau dirinya semalaman tidur dengan posisi duduk dan hanya bersandarkan kursi.

“Hoahm,” Taehyung menguap, masih sedikit merasa lelah. Ia mengacak rambutnya sendiri, sebelum memutar pandangan. Kamarnya sedikit temaram dengan penerangan cahaya yang semakin lama semakin meredup. Namun Taehyung tahu, dari baunya, ini sudah menjelang pagi. Tapi kenapa jendela masih tertutup? Apa ayahnya belum menyuruh cenayang untuk melepaskan mantra yang mereka pasang semalam?

Taehyung menghela napas. Ia melempar pandangan ke arah tempat tidur. Bocah Snowelf itu masih tergeletak tak bergerak disana. Dan hal itu membuat Taehyung sedikit merasa lega, setidaknya ia tidak harus mendengarkan suara tangis dan mencium bau ketakutan di pagi buta seperti ini.

Awalnya Taehyung sudah malas untuk bangun dari kursi itu. Karena bangun pun ia tidak bisa pergi ke manapun. Pintu dan jendela terkunci. Yeah, sejak semalam dan Taehyung yakin kedua jalan keluar itu masih terkunci sampai sekarang. Tapi entah kenapa pada akhirnya Taehyung bangun juga, ia melangkah lambat mendekati jendela. Iseng mendorongnya dan—

Taehyung melotot kaget.

Jendela itu terbuka!

Sinar matahari pagi langsung saja masuk dan menerangi ruang kamarnya. Taehyung tersenyum senang, lalu menghirup napas sedalam-dalamnya. Ia memang selalu menyukai udara pagi, terangnya pagi hari selalu menyembunyikan kelam kenyataan tanah merah ini saat malam hari menjelang. Lama Taehyung berdiam diri di sana, menikmati kicau burung dan bau rerumputan yang jauh namun tetap tertangkap oleh indera penciumannya. Hingga ia merasakan sesuatu. Taehyung berkedip. Hawa aneh mengganjal dalam batinnya. Sebentar, ia mengendus-endus, lalu saat menyadarinya…

Taehyung buru-buru berbalik, lalu dalam satu kedipan mata, ia sudah berdiri tepat di sisi ranjang.

Kenapa ia tidak menyadarinya sejak tadi?

Taehyung menunduk, ia sempat tertegun memandangi tubuh yang menggigil itu. Kedua mata itu masih terpejam, rautnya pucat dan keringat mengalir deras membasahi sekujur wajah juga leher Jungkook.

Taehyung menelan ludahnya susah payah. Ada desir aneh yang berbisik padanya untuk berjongkok dan memeriksa keadaan bocah itu. Dan tanpa ia sadari, Taehyung tidak melawan desir aneh itu. Dengan gugup, Taehyung meraih tangan Jungkook yang jauh lebih kecil dari tangannya.

Baru jemarinya yang menyentuh kulit telapak tangan Jungkook, dan Taehyung sudah mendelik. Dingin. Tangan ini dingin sekali.

Taehyung memeriksa kening dan leher pemuda itu sebelum berdecih. Panas sekali. Belum lagi racauan tak jelas dari bibir mungil itu yang terus membisikkan kata ‘Eomma’ dengan bibir gemetar.

Taehyung mendengus tidak kuat lalu membaringkan tubuh Jungkook kembali dengan hati-hati. Ia sama sekali tak sadar kalau sejak tadi dirinya menggenggam tangan Jungkook erat. Ada ketakutan aneh yang membuncah di dadanya. Panik bercampur takut. Taehyung tidak ingin mengakuinya sebagai rasa kekhawatiran. Meski pada akhirnya Taehyung benar-benar nekat melakukan apapun demi menolong bocah ini.

“Tunggulah disini bocah.” Taehyung mengusap kening Jungkook sekali lagi, sebelah tangannya menggenggam tangan mungil pangeran Snowelf itu, seolah bermaksud menyalurkan kekuatannya untuk membuat Jungkook bertahan.

Lalu tanpa menyia-nyiakan waktu, Taehyung segera melesat keluar kamar. Mendobrak pintunya tanpa peduli kalau pintu itu memang sudah tidak terkunci lagi.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Tabib!”

Suara Taehyung menggema hingga ke balai istana.

“TABIB!” Taehyung berteriak lagi, hingga ia muncul tepat di tengah balai istana yang ramai dan baru sadar kalau teriakannya menarik perhatian semua orang. Namun Taehyung tidak peduli, ia bahkan tidak peduli kalau dirinya baru saja menyela sebuah pertemuan penting. Dari ibu tiri hingga seluruh saudara kandung dan kakak iparnya bahkan ikut berkumpul. Taehyung tidak lagi sempat bertanya kenapa ia tidak diajak dalam pertemuan yang tampak begitu penting ini, yang terpikirkan di dalam otaknya hanya…

“Appa, aku pinjam satu tabibmu. Bocah itu demam parah! Tubuhnya seperti mendidih!” adu Taehyung panik lalu tersadar kalau ia baru saja berbuat tidak sopan di tengah pertemuan seformal ini. Taehyung membungkuk hormat pada ayahnya yang duduk di atas singgasana sebelum mengulang permintaannya lagi, kali ini dengan nada yang lebih sopan. “Appa, bocah itu demam parah. Izinkan aku meminjam satu tabibmu.”

Namjoon yang awalnya terkejut melihat kedatangan Taehyung yang tiba-tiba dan begitu serabutan, kini hanya mengangguk-angguk mengerti. Tanpa berpikir dua kali Raja itu mengangkat satu tangannya lalu memerintahkan, “Tabib Hong, tolong ikuti putraku sekarang. Sembuhkan pangeran Snowelf itu dengan segenap kemampuanmu.”

Seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang duduk di atas lantai bersama mentri lainnya tiba-tiba berdiri, memenuhi perintah sang raja.

“Baik, yang Mulia. Hamba mohon diri…” Tabib itu membungkuk hormat pada Namjoon. Ia mengisyaratka pada dua asistennya yang berada di belakang untuk turut serta bersamanya, sebelum melangkah mengikuti Taehyung yang lagi-lagi lupa bersikap sopan.

Putra Mahkota Kerajaan Merah itu langsung saja berbalik saat mendapat izin dari ayahnya, mungkin lupa untuk mengucapkan terima kasih. Namun kelalaian Taehyung tidak membuat sang Raja marah. Namjoon justru menyeringai senang. Namun lagi-lagi, satu dua putrinya mengganggu kesenangan Namjoon saat itu.

“Lihat, belum apa-apa pangeran kecil itu sudah merepotkan kita, appa.” Yoona berdecih sinis, lalu InYoung dengan cepat menimpali. “Sudah kubilang Appa salah memilih pasangan untuk Taehyung. Pangeran itu terlalu manja, terlalu lemah. Bagaimana bisa appa memilih mate Taehyung dengan mental yang terbelakang—”

Namjoon mendelik kesal pada keduanya. “Diam kalian!” bentaknya berang, sontak membuat seisi balai yang awalnya saling berbisik-bisik kembali hening. Tak satupun orang berani bersuara setelah itu, semua orang terlalu takut untuk menyela raja yang sedang kesal. Suasana begitu tegang, namun dengan cepat pula Raja mencairkannya dengan terkekeh tiba-tiba.

Namjoon tersenyum secara misterius. Lalu berpaling pada permaisurinya dan berkata, “Sudah lama aku tidak melihat Taehyung yang se-semangat itu…”

.

.

.

.

.

“Cepatlah tabib Hong,” desis Taehyung tidak sabar. Terpaksa ia melambatkan langkahnya untuk mengimbangi langkah tabib Hong.

“M-maaf, tuanku.” bisik tabib paruh baya itu, sedikit takut melihat ekspresi keruh di wajah Pangeran Mahkota. Tapi apa daya, ia mana sanggup menandingi langkah Taehyung dengan tubuhnya yang gemuk dan pendek ini. Tabib Hong hanya mampu melangkah tergopoh-gopoh sembari menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh. Pangeran yang makin tidak sabar kini menggiring punggungnya, menuntut sang tabib untuk melangkah lebih cepat.

Dua orang asisten pria yang berada di belakang pun hanya bisa mengikuti langkah Taehyung dengan gugup, masing-masing mereka membawa satu tas besar berisi obat-obatan dan alat kedokteran.

Sampai di lorong menuju kamarnya, mata Taehyung menyipit. Terheran-heran melihat segerombol pelayan berkerubung di depan pintu kamarnya yang memang tidak tertutup. Mereka berusaha melongok ke dalam meski tidak berani melangkah masuk sejengkal pun, siapapun tidak akan berani kalau tahu itu kamar Taehyung. Namun sesuatu yang berada di dalam kamar seperti tengah memancing mereka untuk berkerumun di sana. Taehyung sempat curiga pada awalnya, namun ada hal yang lebih penting dan membuat Taehyung mengabaikan tingkah aneh para pelayan itu.

“Sedang apa kalian!” hardik Taehyung berang, spontan membuat para pelayan itu tersentak.

Kaget melihat Pangeran besar Radourland berdiri disana dan melotot bengis ke arah mereka, para pelayan itu refleks mundur sembari membungkuk-bungkuk pada Taehyung.

“Cepat minggir!”

Tanpa berpikir lagi, para pelayan itu membungkuk sedalam-dalamnya, ketakutan setengah mati. Tidak ingin berurusan dengan Taehyung yang tengah kesal, mereka langsung berbalik dan pergi dengan terbirit-birit. Bahkan wangi daging yang menguar dari dalam kamar pangeran segera saja terasa hambar, tentu saja nyawa lebih penting daripada sepotong daging yang enak.

Taehyung hanya mendengus, ia melenggang masuk ke dalam kamarnya dengan Tabib Hong dan dua asisten tadi mengikuti dari belakang.

Taehyung menyikap tirai ranjang, lalu mendengus melihat tubuh Jungkook yang kian menggigil. Ia sempat meremas tangan mungil yang dingin itu lalu memeriksa keningnya sekali lagi. Dan Taehyung segera mendesah putus asa.

“Cepat periksa dia, tabib Hong!” titah Taehyung tak sabar. Walau tanpa disuruh pun, tabib Hong sejak tadi sibuk mencari-cari sesuatu di dalam tas obat-obatannya. Taehyung mengawasi tabib paruh baya itu, meski sebagian besar perhatiannya tercurah pada sosok Jungkook yang menggigil di atas tempat tidur.

Taehyung bahkan tidak menyadarinya, saat tabib Hong yang gugup sesekali mencuri pandang ke arah Jungkook. Hidung besarnya samar bergerak-gerik. Tabib Hong menelan ludah, bersusah payah mempertahankan rasa manusiawinya saat berada sedekat ini dengan Jungkook.

Bau daging yang harum menguar dari tubuh bocah Snowelf ini, membuat tabib Hong dengan gugup mengangkat tangan mungil Jungkook, lalu mati-matian menahan hasrat untuk menjilati kulit yang tampak begitu putih dan transparan itu. Tidak ketika Pangeran Mahkota ada disini.

“T-tangannya dingin sekali tuanku!” seru tabib Hong dengan ekspresi yang sebisa mungkin terlihat panik. “Hamba harus menanganinya segera.”

“Tentu. Cepat atasi,” Taehyung mengangguk-angguk. Setia berdiri disana untuk terus mengawasi proses penyembuhan bocah itu. Ia memang berniat untuk menunggui tabib Hong yang akan melaksanakan tugasnya, namun tabib itu menggeleng-geleng gugup.

“B-bisakah tuanku keluar sebentar?” bisik tabib Hong sedikit tidak yakin dengan permintaannya. Baru kali ini ia memerintah seorang pangeran. Lebih-lebih seorang Pangeran Mahkota.

“Kenapa aku harus keluar?” kening Taehyung mengerut, tak rela.

“Maafkan hamba, tuanku. Tapi hamba tidak bisa berkonsentrasi dan melakukan penyembuhan dengan cepat jika diawasi banyak orang.” Kali ini kebohongan itu meluncur makin fasih dari bibir tabib Hong. Taehyung bahkan tidak menyadarinya sama sekali dan hanya mengangguk paham.

Meski sedikit tidak rela, Taehyung memandangi wajah pucat Jungkook sekali lagi.

“Cepat selesaikan tugasmu, aku tunggu di luar.” ujar Taehyung sebelum berbalik dan melangkah keluar. Ia sempat mendengar suara desis tabib Hong yang juga mengusir dua asistennya keluar. Tanpa berpaling, Taehyung hanya melirik dan mengerutkan keningnya, sedikit merasa heran dengan sikap tabib Hong hari ini.

Taehyung mendelik, ia berbalik memandangi pintu kamarnya yang dikunci dari dalam dengan terheran-heran. Kenapa harus dikunci?

“Apa biasanya tabib Hong memang menangani pasien sendirian?” Taehyung beralih pada dua asisten tabib Hong yang berdiri jauh darinya, sepertinya mereka sengaja menjaga jarak.

Awalnya dua pemuda yang ternyata kembar itu saling bertukar pandang gugup, merasa takut saat tiba-tiba diajak bicara oleh Pangeran Mahkota. Hingga akhirnya salah satu dari mereka memutuskan untuk bersua dan menjawab, “T-tidak tuanku. Mungkin sakit yang diderita pasien kali ini lebih parah dari biasanya.”

Taehyung mengangguk-angguk mengerti, meski masih merasa tidak yakin. Entah mungkin rasa tidak sabar dalam hatinya yang membuat Taehyung terus-terusan merasa was-was. Tapi kali ini ia sungguh-sungguh merasa janggal. Taehyung jadi teringat pada gerombolan pelayan yang tadi berkerumun di depan kamarnya.

Apa yang mereka lakukan?

Taehyung mendongak memandangi langit-langit lorong sembari termenung. Rasanya ia familiar dengan kejadian seperti ini. Meski tidak terlalu sama. Tapi rasanya dulu sekali… Ini pernah terjadi. Kalau tidak salah sebelum ia menandai istrinya dulu, banyak pelayan yang mencuri-curi kesempatan untuk mendekati istrinya. Bahkan kakak-kakak perempuan dan saudara iparnya juga melakukan itu. Meski tidak ada kejadian fatal yang terjadi, namun Taehyung ingat. Istrinya mengatakan sesuatu saat itu. Tentang kemungkinan para pelayan dan saudara-saudara Taehyung melakukan hal-hal aneh itu karena istrinya berasal dari ras manusia. Dan hasrat hewani kaum di tanah ini secara refleks mengendus bau mangsa yang menguar dari tubuh Jisoo. Karena Taehyung sendiri tidak merasakannya, ia masih tidak mengerti tentang permasalahan itu sampai sekarang.

Apa hal itu juga berlaku pada Snowelf?

Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dalam benak Taehyung dan seketika…

Taehyung mendelik sadar.

“Oh, sial.” desis Taehyung sembari berbalik. Taehyung menerjang pintu kamarnya hingga benda malang itu mendobrak terbuka.

Tabib Hong tersentak karena keributan yang dibuat Taehyung dan segera berhenti dari aktivitas yang dilakukannya sejak tadi. Namun terlambat, Taehyung terlanjur melihatnya. Saat tabib Hong mengulum telapak tangan Jungkook lamat-lamat dari ujung jarinya hingga ke pangkal lengan, mengecap dan mendesah nikmat…

Rasanya Taehyung sudah lupa kapan terakhir kali ia merasakan amarah. Tapi begitu ia tersadar, tubuh tabib Hong sudah melayang menghantam dinding. Lalu tabib paruh baya itu tersungkur ke lantai. Napas Taehyung menderu mengingat bagaimana bayangan yang baru saja disaksikannya tadi. Tabib tua ini menjilati tangan mungil Jungkook seolah bersiap untuk melahapnya kapan saja…

“Beraninya kau!” raung Taehyung berang, ia mengangkat tubuh tambun itu tinggi-tinggi dengan satu tangan. Kalau ia mau, tubuh gendut ini bisa dengan mudahnya ia cabik dan potong hanya dengan kuku dan giginya.

“Ampun tuanku, ampun! Hamba pantas mati tuanku!” pekik tabib Hong ketakutan, suaranya tercekat karena kerah bajunya dicengkeram begitu erat. Kakinya hanya melayang-layang tanpa mampu menyentuh lantai. Sesaat, tabib tua itu merasa mautnya sudah berada di ujung kepala. Melihat mata merah dan ekspresi geram yang tak pernah ada di wajah pangeran Taehyung. Tabib Hong sudah berkomat-kamit untuk menjemput kematiannya. Namun tiba-tiba tubuhnya melayang lagi, kali ini membentur pintu.

“Aaaah!” tabib Hong meringkuk, merintih kesakitan. Ia yakin sekali tulang punggung dan lengannya patah beberapa. Namun hal itu tidak terlalu penting sekarang.

“Pergi dari sini. Hukumanmu menyusul nanti.” Seru Taehyung sembari menendang tubuh itu tanpa ampun, meski ini masih jauh lebih baik karena Taehyung sudah menahan amarahnya seminim mungkin.

Meski Taehyung sudah muak dan menginginkan sosok tambun itu segera lenyap dari pandangannya, namun tentu tabib Hong tidak bisa pergi begitu saja. Untuk bergerak pun ia kesulitan.

Taehyung mendengus lalu menunjuk dua pemuda kembar yang sejak tadi berdiri ketakutan tanpa berani membantu majikan mereka.

“Kau. Bawa dia pergi dari sini,” tunjuk Taehyung pada salah satunya. “Dan kau. Bawakan aku air hangat dan kain. CEPAT!”

Keduanya membungkuk patuh, lalu dengan gugup menggerakkan tubuh mereka yang gemetaran untuk segera melaksanakan perintah Taehyung.

“Sial,” umpat Taehyung lagi. Ia berbalik untuk mengecek seluruh bagian tubuh Jungkook. Tidak ada yang menghilang kecuali telapak tangan kanannya yang basah oleh liur tabib Hong. Taehyung mendengus jijik begitu hidungnya mengendus aroma liur di tangan mungil itu.

“Kau benar-benar tidak bisa ditinggal sedirian, bocah.” cibirnya sembari merendam telapak tangan Jungkook ke dalam teko yang terisi penuh air. Meski terus mendengus dan mencibir, Taehyung dengan telaten membasuh telapak tangan Jungkook. Membersihkannya hingga aroma tak sedap tadi benar-benar tak terendus lagi.

“T-tuanku…”

Taehyung mendongak. Pemuda yang diperintahnya tadi benar-benar kembali dengan cepat. Membawa sebaskom air hangat dan kain bersih, berdiri di depan pintu dengan kaki yang gemetaran. Baju lusuhnya basah di bagian perut, Taehyung yakin pemuda ini berlari-lari sambil membawa baskom air yang ditumpukan ke tubuhnya.

Taehyung terkekeh, merasa iba pada pemuda yang tidak tahu apa-apa dan harus melihat dirinya dalam mode murka. “Sudah pergi sana.” ujarnya dengan senyum tipis yang dibalas dengan bungkukan dalam oleh pemuda tadi.

Setelah pemuda itu pergi, Taehyung menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam meski hal itu tidak terlalu berpengaruh. Kunci pintu kamar ini sudah rusak karena dobrakan kakinya tadi. Namun Taehyung tetap iseng meletakkan kursi ke belakang pintu, meski sesungguhnya ia yakin tidak akan ada seorangpun yang masuk. Termasuk ayahnya.

Tapi Taehyung hanya ingin memastikan tidak ada seorangpun yang akan masuk kemari, karena ia akan malu sekali jika orang lain melihat hal macam apa yang akan dilakukannya nanti—

Taehyung meletakkan baskom air itu di bawah ranjang. Lalu pangeran bermata coklat itu menanggalkan pakaiannya hingga ia duduk disana dengan bertelanjang dada. Matanya tak lepas memandangi Jungkook yang entah kenapa sama sekali tidak terbangun setelah keributan tadi. Mungki bocah ini benar-benar demam parah sampai-sampai ia tidak mendengar kerusuhan yang begitu memekakkan telinga. Bocah ini benar-benar sakit tapi Taehyung juga sudah tidak percaya lagi untuk menyerahkan bocah ini pada tabib manapun juga.

Tidak ada cara lain. Taehyung menelan ludah. Ia melepas satu demi satu pengait baju Jungkook dari yang terbawah. Perlahan-lahan kulit perut yang putih mulus itu terekspos. Hingga seluruh pakaian atas Jungkook tanggal dan kini mereka berdua sama-sama bertelanjang dada. Bedanya… Tubuh Taehyung jauh lebih berbentuk daripada tubuh Jungkook yang dengan jelas menunjukkan bahwa bocah itu memang masih anak-anak. Mulus, putih, dan ramping.

Taehyung menggeleng dengan mata terpejam. Tidak percaya pada apa yang baru saja melitas di kepalanya. Ia terpaksa melakukan ini. Ya, Taehyuh hanya terpaksa. Tidak ada niat buruk lain.

“Aku terpaksa melakukannya. Kau yang berhutang padaku, bocah.” Taehyung membela dirinya sendiri.

Taehyung memeras kain yang kini basah oleh air hangat, lalu diusapnya lembut kening Jungkook dengan kain itu.

Taehyung melipat kain itu dan meletakkannya di atas kening Jungkook. Hanya hal-hal seperti ini yang ia ketahui tentang bagaimana caranya menangani demam. Ini pun ia pelajari dari mendiang istrinya…

Jisoo…

Taehyung tersenyum sedih, ia membaringkan tubuhnya tepat di sisi Jungkook. Dengan gugup Taehyung beringsut mendekat dan meraih tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Lalu perlahan-lahan, Taehyung mendekap Jungkook makin erat. Mempertemukan dada bidangnya dengan punggung telanjang Jungkook yang panas karena demam. Taehyung mendesis lalu memejamkan matanya.

“Untung kau laki-laki, kalau putriku sendiri mana bisa begini…” cibirnya lagi seraya menahan kain pengompres agar tetap menempel di kening Jungkook.

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Cursed Crown – 2”
Beranda
Cari
Bayar
Order