La Déviation | 001 — Mencoba Menerima Kenyataan Sembari Beradaptasi

Author: moonleav

Setelah tiga hari penuh dengan drama batin, mengelak bahkan takdir Hongjoong adalah masuk ke dalam cerita buatannya sendiri dan bahkan menjadi tokoh antagonisnya, akhirnya ia bisa menerima kenyataan. Namun, setiap Hongjoong melihat pantulannya di kaca, membuatnya menghela napas panjang.

Kalau tahu dirinya berakhir masuk ke cerita buatannya sendiri, setidaknya Hongjoong akan membuat deskripsi dirinya saat masih kecil tidak seperti yang dilihatnya sekarang. Anak berumur 9 tahun—Hongjoong tidak membuat asumsi usianya, tetapi satu pelayan pribadinya yang menjemputnya ke kamar setiap pagi untuk mengomelinya selalu dengan membawa usia—dan tubuhnya terlihat gendut. Bergerak yang seharusnya tidak semelelahkan itu, rasanya membuatnya seperti telah berlari 10.000 meter untuk pelajaran olahraga semasa bersekolah.

Seharusnya Hongjoong membuat deskripsi dirinya sendiri sedikit berisi, bukan gendut. Melihat wajahnya yang bulat karena lemak yang menumpuk membuat Hongjoong rasanya ingin meninju kaca-kaca yang dilihatnya atau melemparkan sesuatu yang berat untuk menghancurkannya. Sekarang Hongjoong mengerti rasanya orang-orang yang merasa tidak percaya diri dengan penampilannya, karena sekarang ia merasakannya sendiri.

Ternyata merasakan kepercayaan diri itu tidaklah semudah dikatakan oleh orang-orang, karena yang tidak mengalami tidak akan mengerti rasanya.

“Pangeran, apa ada yang salah?” Hongjoong menoleh dan melihat pelayan pribadinya yang terlalu banyak memberikan informasi—dan selalu berulang-ulang—tentang dirinya jika memarahinya, tumben sekali terlihat khawatir. “Anda beberapa hari ini selalu melihat cermin dengan tatapan kosong. Apa ada yang menganggu pikiran Anda?”

Ada banyak, Marta. Namun, Hongjoong tahu bahwa memberitahukan pelayannya ini tidaklah bisa mendapatkan solusinya karena pasti perempuan itu tidaklah mengerti. Jadi yang bisa Hongjoong lakukan hanyalah tersenyum dan membuatnya bisa melihat perubahan ekspresi Marta yang terkejut.

Oh benar, Hongjoong di dunia ini memiliki masa kecil yang tidak menyenangkan karena dirundung sehingga membuatnya memiliki kepribadian yang menjengkelkan semua orang. Satu-satunya alasan Hongjoong dibiarkan oleh semua orang adalah karena dia adalah anak dari Raja yang memimpin negaranya dan Marta adalah pengecualian untuk bisa memarahinya lantaran dia merupakan adik tiri Raja.

“Sepertinya aku membuatmu terkejut,” Hongjoong tertawa pelan, “Jadi kapan aku harus menemui Kakak?”

“Pangeran, sudah saya ingatkan kalau Anda harus memanggilnya dengan Putra Mahkota Ian.”

Hongjoong hanya bisa tersenyum meski ingin sekali berkata bahwa Kakaknya itu tidak akan pernah menjadi Raja karena meninggal saat dirinya berusia 16 tahun. Kebiasaan Kakak lelakinya itu yang berbuat semaunya dan membuat banyak orang yang membencinya sehingga salah seorang yang dianggap teman meracuni minumannya, membuat Kakaknya merenggang nyawa.

Meski lebih menyedihkan menjadi Kakak tertuanya, Hera. Hanya karena dia terlahir sebagai perempuan, membuatnya tidak memiliki hak untuk menjadi pemimpin negaranya. Namun, karena dia yang dinikahkan politik oleh Ayah mereka—yang ngomong-ngomong baik Hera, Ian dan Hongjoong berasal dari Ibu yang berbeda—berada di negara lainnya saat pembantaian berdarah untuk merebut kekuasaan yang dilakukan oleh protagonis, Hera menjadi satu-satunya keturunan kerajaan yang selamat.

“Oke … oke, aku minta maaf. Aku tidak akan melupakan hal itu lagi,” Hongjoong menjawab seadanya karena tidak ingin mendengar omelan dan justru mendapatkan kembali ekspresi keterkejutan dari pelayan pribadinya itu. “Jadi, kapan aku harus menemui Putra Mahkota?”

Belum sempat Marta menjawab, pintu kamarnya di buka dengan kasar dan Hongjoong tidak perlu menduga orang yang melakukannya. Orang yang sejak tadi menjadi pembicaraan, masuk ke dalam kamarnya dan bau alkohol yang cukup kencang menguar dari tubuh Kakak lelakinya itu. Rasanya Hongjoong ingin menertawakan kenyataan bahwa lelaki yang sebenarnya tampan itu dan secara penampilan fisik sangatlah layak menjadi Putra Mahkota, tidak lebih dari pecandu alkohol serta maniak seks. Satu-satunya alasan Kakaknya tidak diproses hukum dan berakhir membusuk di penjara adalah karena dia Putra Mahkota.

Memang benar, di dunia mana pun, privilese itu tidaklah bisa hilang.

“Adikku!” Ian yang berjalan dengan terhuyung dan hendak memeluk Hongjoong, tetapi dihalangi oleh Marta. “Kakak merindukanmu!”

“Putra Mahkota, Anda memikirkan apa saat datang dalam keadaan seperti ini?!” Marta dan kebiasaannya yang mengomel, hanya bisa membuat Hongjoong berharap kalau tidak ada hal buruk yang…, “Aaakh … Putra Mahkota!”

Ian dilihat oleh Hongjoong mendorong Marta hingga terjatuh dan dengan sengaja menginjak perut perempuan itu saat berharap tidak ada hal buruk yang terjadi. Kemudian Hongjoong merasa tubuhnya dipeluk dan aroma parfum Ian—yang ternyata persis seperti Versace Eros miliknya di dunianya—yang bercampur dengan aroma alkohol—yang diduganya mungkin gin serta Jack Daniel jika di dunia nyata—membuatnya pusing.

“Astaga, adikku ternyata semakin hari semakin bertambah beratnya,” Ian sudah melepaskan pelukannya dari Hongjoong dan memberikan jarak di antara mereka meski sebelah tangannya masihg melingkar di lehernya, “Benar-benar menggemaskan seperti babi.”

Hongjoong tahu bahwa hubungannya dengan Kakak lelakinya tidak pernah akur. Bahkan saat Kakak lelakinya meninggal saat Hongjoong berusia 16 tahun, dia tertawa hingga perutnya kram karena cara kematiannya yang menurutnya terlalu konyol. Bisa Hongjoong lihat Marta, beberapa pelayan perempuan yang datang ke kamarnya—kemungkinan karena mendengar teriakan Marta—dan kesatria yang selalu mengikuti Kakak lelakinya menatapnya dengan takut, karena biasanya pasti setelah ini dirinya mengamuk dan Ian akan menertawakannya karena menurutnya tengah menonton hiburan.

“Tentu aku menggemaskan seperti babi,” Hongjoong tersenyum sembari menekan kata terakhir, “Tetapi aku jadi terpikirkan, kalau aku babi … Kakak lalu apa?”

Hongjoong bisa melihat perubahan ekspresi semua orang, terutama Ian yang kehilangan senyumannya. Wajah orang-orang dewasa di belakang Ian tampak memucat dan Marta sudah tampak bersiaga untuk menyelamatkan Hongjoong jika Kakak lelakinya itu akan melakukan hal yang tidak pantas.

“Hahaha … pertanyaan bagus!” Tawa Ian jelaslah bukan hal yang dipikirkan semua orang akan menjadi reaksi dari pertanyaan Hongjoong yang sebenarnya jelas-jelas tengah membalas rundungan Putra Mahkota. “Menurutmu aku apa, adikku?”

“Harimau, bagaimana?”

Ian mendengarnya hanya tertawa dan menepuk kepala Hongjoong. Sebenarnya daripada menepuk, rasanya seperti kepalanya dipukuli oleh Kakak lelakinya itu. “Adikku benar-benar tahu caranya menyenangkanku.”

“Kakak apa sudah makan? Kalau belum, apa mau ikut aku makan kudapan di taman?”

“Aww … adikku perhatian sekali kepadaku,” pipi sebelah kanan Hongjoong ditarik dengan kencang dan ia tidak memberikan respon apa pun, “Tapi tidak. Aku mengantuk dan aku mampir kemari hanya untuk menyapamu.”

Setelah mengatakan hal itu, Ian menarik tangannya dari pipi serta leher Hongjoong. Bisa dilihatnya Kakak lelakinya itu terhuyung ke belakang dua langkah dan saat kesatria yang selalu menemaninya menangkap Ian, Hongjoong tidak akan terkejut jika melihat adegan pengulangan seperti Marta. Bedanya kesatria itu memiliki keseimbangan yang lebih bagus sehingga dia tidak terjatuh dan berakhir diinjak perutnya seperti Marta.

“Kakak, Apa boleh aku antarkan ke kamar?” Pertanyaan Hongjoong membuat semua orang menatapnya dengan tidak percaya.

Juga sebenarnya perkataannya tidak ada yang lucu, tetapi Ian tertawa dan membuat Hongjoong bertanya-tanya apakah di dunia ini memang ada manusia selera humornya yang sangat rendah sehingga hal tidak lucu pun ditertawakan?

“Aku tidak tahu apa yang kamu rencanakan, adik kecil,” Ian menatap Hongjoong sembari menekankan dua kata yang merujuruk kepada dirinya, “Tapi aku tidak akan terjatuh ke dalam perangkapmu.”

Seperti kedatangannya yang mendadak serta membuat keributan, kepergian Kakak lelakinya juga sama. Hongjoong akhirnya bisa menghela napas, kemudian menatap Marta yang berjongkok—yang sebelumnya berjalan kepadanya dengan tergopoh-gopoh—di depannya untuk menyentuh pipi sebelah kanannya yang ditarik oleh Ian.

“Pangeran, Anda apa….”

“Marta, sebaiknya kamu menemui dokter untuk memeriksakan perutmu,” Hongjoong memotong perkataan pelayan pribadinya itu, “Juga aku tidak apa-apa. Kamu yang jelas lebih dianiaya olehnya daripada aku.”

Hongjoong bisa melihat semua orang menatapnya tidak percaya, lalu melihat satu sama lain dengan ekspresi seperti ingin segera bergosip untuk mengeluarkan teori satu sama lainnya. Lalu, Hongjoong merasa keningnya disentuh dan ternyata Marta yang melakukannya dan tatapannya terlihat khawatir.

“Anda tidak demam, Pangeran.”

Hongjoong hanya menghela napas sembari tersenyum.

Tentu bisa dimengerti sikapnya yang seperti ini akan memancing pertanyaan karena anomali. Karena Hongjoong yang sekarang adalah orang yang mengetahui semua kisah yang terjadi. Lagipula Hongjoong hanya bersikap seperti dirinya di dunia nyata, bukan mengikuti karakter yang dituliskannya pada cerita ini.

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “La Déviation | 001 — Mencoba Menerima Kenyataan Sembari Beradaptasi”
Beranda
Cari
Bayar
Order