Part. 7: Duel

Author: blacklunalite

Part. 7: Duel

Menjadi putra Hades terdengar begitu keren dan mengagumkan. Bahkan banyak yang mengatakan mereka bersedia menukar apapun dalam hidup mereka hanya untuk merasakan rasanya menjadi putra Hades.

Tapi bagi Namjoon, menjadi putra Hades jauh dari menyenangkan.

Ketika Namjoon lahir, ibunya mengatakan bahwa tubuh Namjoon sepanas lava, suhunya lebih dari 40 derajat Celcius dan semua dokter meyakini kalau Namjoon akan mati. Beragam usaha telah mereka lakukan untuk meredam panas tubuh Namjoon yang kala itu bahkan baru dilahirkan.

Ibunya sendiri tidak bisa melakukan apapun karena memang itu bukanlah sesuatu yang bisa dia atasi sendiri. Ibunya hanya bisa melihat dan memperhatikan para dokter yang panik menangani suhu tubuh Namjoon.

Kemudian, ketika matahari senja perlahan hilang tertelan oleh bumi, seseorang datang ke rumah sakit tempat Namjoon dilahirkan dan dia mengaku sebagai ayah Namjoon. Pria itu tidak mengatakan apapun, dia hanya mengatakan bahwa dia harus melihat putranya, dan bersikeras bahwa dia harus menggendongnya.

Para dokter akhirnya mengizinkan karena pria itu terus bersikeras, dan ketika Namjoon berada di antara lengan pria itu, sesuatu yang aneh terjadi, suhu tubuh Namjoon mendadak turun dan sebuah tanda terbentuk di pinggulnya.

Itu terlihat seperti sebuah tanda lahir, hanya saja dia muncul saat pria itu menyentuhnya, menyentuh kulitnya.

Dan setelah melakukan itu, pria tersebut pergi, setelah memastikan Namjoon aman dalam gendongan ibunya.

Para perawat bergegas mengerubungi ibu Namjoon dan menanyakan siapa kiranya pria tadi, dan saat itu ibu Namjoon hanya menghela napas dan mengatakan.

“Dia ayahnya,”

Namjoon tumbuh dengan kisah itu yang diceritakan oleh ibunya. Karena sesungguhnya, dia tidak pernah sekalipun bertemu dengan ayahnya. Selama ini Namjoon melindungi dirinya dan ibunya dengan menggunakan kekuatannya sendiri, hingga akhirnya di ulang tahunnya yang ketujuh belas, seseorang yang mengaku pelayan ayahnya datang mengantarkan hadiah. Dan itu adalah Pedang Hades, pedang ayahnya.

Pelayan itu juga berpesan pada Namjoon untuk pergi ke akademi yang akan membantu Namjoon melatih kekuatan dewa yang berada di dalam tubuhnya.

Mulanya Namjoon tidak mau, karena dia tidak bisa menjamin siapa kiranya yang akan menjaga ibunya jika dia pergi? Tapi karena ibunya terus meyakinkannya, Namjoon akhirnya menyerah dan pergi.

Selain itu, Namjoon sedikit berharap mungkin saja dia akan bertemu ayahnya jika dia berada di akademi yang dimaksudkan.

*****

Seokjin menatap wajahnya yang terpantul di cermin kamar mandi kamarnya. Setelah sesi latihan bersama Namjoon di Imity Lake, Seokjin bergegas kembali ke kamarnya untuk mandi dan sedikit beristirahat sebelum pergi makan malam.

Dia memiringkan kepalanya, menatap lehernya yang sekarang bersih tanpa amulet Poseidon di sana. Seokjin memutuskan untuk membiarkan Namjoon menyimpan amuletnya karena mungkin saja amulet itu tidak seperti apa yang mereka duga selama ini.

Seokjin menghela napas pelan, dia mengeringkan wajahnya kemudian segera berpakaian, Seokjin kembali ke kamarnya untuk membereskan tasnya kemudian dia tertegun.

Buku teksnya masih berada di tangan Namjoon.

Seokjin menepuk dahinya karena kelalaiannya yang lupa meminta buku teksnya yang tadi dibawakan oleh Namjoon. Dia berdecak pelan sebelum akhirnya meraih sweater dan memakainya lalu berjalan keluar dari kamarnya.

Seokjin berniat untuk menemui Namjoon dan meminta buku teksnya kembali, dia membutuhkan buku itu untuk kelas paginya besok.

Ketika Seokjin masuk ke dalam ruang makan, seisi ruangan langsung meliriknya dengan tatapan penasaran dan penuh selidik. Seokjin berjalan seraya mengerutkan dahinya namun untungnya dia berhasil menemukan meja tempat Sandeul berada.

Seokjin segera duduk di depan Sandeul, “Ada apa dengan pandangan mereka?”

Sandeul mendesah dramatis, dia berdehem dengan gaya berlebihan kemudian mendekatkan tubuhnya ke arah Seokjin. “Jin, kenapa kau tidak mengakui saja kalau kau dan si putra Hades itu berkencan?”

Seokjin mengerjap bingung, “Huh?”

“Seseroang melihat kalian berdua di pinggir danau, dan.. well, aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskan ini tapi katanya dia melihatmu berbaring dan Namjoon membungkuk di atasmu, menciummu.” Sandeul menyeringai menggoda setelah dia membisikkan kata terakhir.

Seokjin menjatuhkan rahangnya, matanya membulat ke ukuran maksimal dan setelahnya dia memukul wajah Sandeul dengan telapak tangannya. “Kau gila!”

“Aduh! Sakit! Seokjin!” Sandeul segera memegangi wajahnya yang baru saja bersentuhan dengan tangan Seokjin.

“Aku dan Namjoon tidak berkencan! Gossip macam apa itu astaga! Dan dia tidak menciumku!” Seokjin menjelaskan dengan panik dan terburu-buru.

“Lalu kau mau bilang informan itu berbohong?”

Seokjin meremas rambutnya, “Astaga, rumor-rumor ini bisa membuatku gila!”

“Kami tidak berkencan,”

Seokjin mendongak saat mendengar suara berat dari sebelahnya dan dia melihat Namjoon sedang berdiri di sebelahnya dengan dahi berkerut tidak suka.

Seokjin ingin membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun Namjoon menyodorkan sesuatu yang dipegangnya ke depan wajah Seokjin.

Itu buku-bukunya.

“Aku lupa mengembalikan ini saat mengantarmu tadi.” Namjoon berujar pendek kemudian dia menatap Sandeul, “Aku dan dia tidak berkencan, dan seharusnya kau adalah orang yang paling tahu hal itu. Kudengar kau bisa mendeteksi perasaan cinta di dalam diri seseorang, dan apakah kau merasakan itu dari kami berdua?”

Sandeul terpaku karena Namjoon mengajaknya bicara. Dia berdehem dan setelahnya menggeleng dengan wajah masih terkejut. “T-tidak ada..”

Namjoon mengangguk puas, “Karena memang tidak. Dan kejadiannya tidak seperti itu,” Namjoon melirik Seokjin, “Aku tidak menciumnya, aku memberikan napas buatan karena Seokjin pingsan di dalam air.”

Seokjin mengerutkan dahinya dan mendongak menatap Namjoon, “Kau memberiku napas buatan.”

“Ya, karena kau menelan terlalu banyak air dan kau tidak bernapas.” Namjoon mendesah malas, “Itu bukan ciuman, pernapasan buatan bukan ciuman, dan lagi, caraku mencium tidak seperti itu.”

Kali ini Seokjin menaikkan sebelah alisnya.

Oke, kalimat dari Namjoon itu terdengar begitu ambigu dan salah di banyak hal.

Sandeul menutup wajahnya dengan sebelah tangan dan merona, dia melirik Seokjin dengan mata berbinar-binar dan Seokjin meringis.

Sandeul sudah resmi menjadi fans seorang Namjoon Kim.

“Baiklah, aku akan kembali ke mejaku.” Namjoon menunduk untuk menatap Seokjin, “Dan Seokjin,”

Seokjin mendongak, “Ya?”

“Besok setelah kelas siang, latihan di Playground. Latihan fisik, kudengar kita akan melakukan duel.”

Seokjin mengeluh keras-keras, “Duel lagi? Aduh aku tidak suka berkelahi..” keluhnya dengan sepenuh hati.

Namjoon tersenyum tipis, “Yah, sampai ketemu besok.” Namjoon berbalik dan berjalan kembali ke mejanya.

Setelah Namjoon pergi, Sandeul segera menarik tangan Seokjin.

“Hei, kalau kau tidak berminat padanya, biarkan dia untukku ya? Demi Zeus, dia tampan sekali, dan dia sangat keren!” Sandeul memekik. “Biarkan dia untukku saja ya?”

Seokjin meringis kemudian dia melempar Sandeul dengan napkin di atas meja. “Kau gila.”

*****

Keesokkan harinya, Seokjin benar-benar bersyukur karena rumor mengenai Namjoon dan dirinya mereda setelah pernyataan Namjoon saat makan malam. Dan ini membuat Seokjin lega karena dia memang benci menjadi pusat perhatian.

Dia berjalan menuju Playground dan dia melihat beberapa Pejuang Titan dan partnernya sudah berada di dalam arena. Dia bisa melihat Jungkook yang kelihatannya sedang berlatih kuda-kuda dengan seorang pengajar, Namjoon yang melakukan pemanasan ringan di pinggir arena, dan juga Taehyung yang sedang sparring dengan Jimin.

Seokjin bergegas mengganti pakaiannya kemudian bergabung bersama yang lainnya di dalam arena latihan. Arena tempat mereka berlatih sangat luas, dengan berbagai senjata untuk berlatih di sisi kanan, arena latihan dengan panah di sisi kiri, arena untuk tanding duel satu lawan satu di bagian tengah, dan sudut untuk istirahat di bagian belakang serta ruang pengajar di bagian depan.

Ini merupakan lantai khusus untuk latihan Titan’s Game yang memang hanya akan dibuka saat Titan’s Game berlangsung. Karena memang lantai ini memiliki fasilitas yang jauh lebih baik dibandingkan dengan gym yang berada di lantai bawahnya.

Seokjin sedang melakukan pemanasan ringan ketika tiba-tiba saja Mr. Krakenshield masuk ke dalam arena mereka. Seokjin menegakkan tubuhnya dan dia melirik Namjoon sekilas saat pria itu bergerak untuk berdiri di sebelahnya.

“Hari ini kami akan melihat performa kalian, kalian dipersilahkan untuk melakukan duel satu lawan satu dengan partner latihan kalian dan nanti..” Mr. Krakenshield tersenyum miring, “Yah, kalian akan tahu apa tahap selanjutnya.”

Seokjin mengerutkan dahinya, itu terdengar mencurigakan untuk banyak hal.

“Sekarang, masuklah ke dalam ‘cubes’ masing-masing.”

Sesuatu yang dimaksud ‘cubes’ adalah sebuah ruang kosong dengan dinding kaca tebal yang akan keluar dari lantai jika tombol pengaturnya ditekan. Ini adalah cara untuk menghindari kerusakan tidak berarti akibat peserta duel yang keluar dari garis batas saat melakukan duel.

Jika dindingnya tidak ada, maka cubes hanya akan terlihat seperti bidang lantai biasa dengan garis pembatas yang membentuk persegi. Di depan setiap cubes terdapat panel yang menunjukkan apakah cubes itu sedang dipakai atau tidak, dan juga apakah cubes itu sudah disewa oleh seseorang atau tidak.

Seokjin berjalan di belakang Namjoon menuju sebuah cubes dengan namanya dan Namjoon di bagian panel. Namjoon mengambil posisi di sisi cubes sedangkan Seokjin mengambil posisi di seberangnya.

Dan ketika mereka berdua sudah berada dalam posisi, dinding kaca cubes langsung naik dan membungkus mereka di dalam kotak kaca itu. Seokjin menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, di hadapannya Namjoon masih melakukan pemanasan ringan.

Namjoon menggerakkan lehernya pelan, “Any last words?”

Seokjin menatap kotak kaca yang mengurung mereka, dia meringis pelan. “Please don’t break my bones.”

Namjoon tertawa geli mendengar ucapan Seokjin yang diucapkan dengan sepenuh hati. “Well,” Namjoon tersenyum tipis, “That can be arranged.”

Seokjin mendesah pelan, “I hate you,”

Namjoon memasang kuda-kudanya, “I know.”

Seokjin menggigit bibirnya, dia menunggu sampai sirene yang menandakan duel dimulai berbunyi, dan ketika sirene itu berbunyi, Seokjin segera memasang pose siaga dan sebelum dia bergerak untuk menyerang, Namjoon sudah bergerak lebih dulu dengan menyerang bagian kiri Seokjin.

Beruntung, Seokjin bisa berkelit dengan cepat dari serangan itu.

“Kau serius?!” seru Seokjin seraya memasang kembali posisinya.

Namjoon memiringkan kepalanya, “Kapan aku pernah tidak serius?”

Oh, sial.

Benar juga.

Di duel pertama mereka, dia menghanguskan kulit Seokjin.

Dan sekarang, walaupun Namjoon tidak memegang pedangnya, pria itu bisa mengeluarkan api dari telapak tangannya.

Yah, mungkin kulit Seokjin akan hangus lagi kali ini.

Namjoon menyerang lagi dan Seokjin lebih fokus untuk mempertahankan dirinya dan berkelit karena serangan Namjoon terlampau cepat dan tegas. Tubuhnya bergerak dengan begitu luwes dan serangan-serangannya nyaris tidak terbaca oleh Seokjin.

Seokjin menggigit bibirnya, dia tidak boleh sampai terkena pukulan Namjoon karena itu akan membuat konsentrasinya buyar. Seokjin terbiasa untuk lebih memikirkan rasa sakit di tubuhnya jika dia diserang.

Kaki Seokjin melompat ke arah kanan ketika Namjoon bergerak untuk menendangnya, tubuh Seokjin membentur dinding kaca dengan keras dan dia meringis kesakitan. Dan karena dia menempel di dinding kaca, Seokjin bisa melihat suasana pertarungan yang lainnya dan dia melihat Jungkook yang sedang bertanding dengan Taehyung.

Putra Aphrodite itu terlihat lebih fokus untuk menghindar namun Taehyung berhasil menemukan celah dari pertahanan Jungkook dan membantingnya ke lantai dengan keras. Seokjin melihat Jungkook terbatuk dan erangan kesakitan itu terdengar begitu saja, Seokjin bahkan bisa melihat bahwa wajah Jungkook menjadi agak pucat dan dia bisa menduga sekeras apa bantingan Taehyung tadi.

Konsentrasi Seokjin terbagi karena dia terpaku melihat keluar sehingga dia melupakan Namjoon, Seokjin menoleh dan wajahnya nyaris saja menjadi sasaran tendangan Namjoon jika dia tidak segera merendahkan tubuhnya kemudian berguling menghindar.

Seokjin melompat untuk berdiri di kakinya sendiri, “Itu mengerikan,”

Namjoon tertawa, “Kau akan melihat sesuatu yang lebih mengerikan jika saja aku mengeluarkan semuanya.”

“Namjoon, tolong..”

“Itu tidak akan membantu dalam pertempuran, Seokjin.”

Dan Namjoon menyerang lagi, dan kali ini dia tidak sempat menghindar ataupun mempertahankan diri. Namjoon berhasil mengangkatnya ke udara dan membantingnya ke lantai dengan keras. Seokjin terjatuh dengan lengan sebelah kiri lebih dulu, bahunya terbentur lantai dengan keras dan Seokjin yakin bahunya terkilir saat ini.

Namjoon sudah bersiap untuk mengangkat tangannya dan memukul Seokjin namun suara sirene membuat Namjoon menghentikan gerakan tangannya. Seokjin menarik napas penuh rasa lega dan Namjoon sendiri melompat untuk menjauh darinya.

Seokjin bergerak bangun dengan perlahan seraya menggerakkan bahunya perlahan dan setelahnya mengerang penuh derita. Dia mendelik ke arah Namjoon, “Sudah kubilang jangan patahkan tulangku.”

Namjoon tersenyum tipis, “Aku tidak mendengar bunyi berderak, jadi kurasa bahumu tidak patah.”

Seokjin mendengus kesal namun dia kembali berdiri dengan kakinya sendiri. Dinding kaca yang mengelilingi mereka turun secara perlahan dan Seokjin melihat Mr. Krakenshield berdiri dengan wajah tidak terbaca.

“Aku akan menukar partner kalian, Yoongi melawan Sam, Jimin melawan Seokjin, Namjoon melawan Rei, kemudian..” Mr. Krakenshield terlihat menimbang sebentar, “Taehyung melawan Christopher. Lalu Jungkook melawan Jodie.” Mr. Krakenshield kembali berpikir kemudian kembali menyebut nama-nama selanjutnya hingga akhirnya semuanya mendapatkan partner duel baru.

Dahi Seokjin berkerut, Mr. Krakenshield baru saja menukar agar partner melawan Pejuang Titan yang lain sementara Pejuang Titan melawan partner milik yang lain. Seokjin menatap Namjoon, namun dia terlihat tidak keberatan, dia justru sibuk menatap Rei, gadis berambut merah terang, salah satu putri Aphrodite yang kebetulan menjadi partner salah satu Pejuang Titan.

“Segera masuk ke cube yang baru bersama lawan tanding kalian yang baru.”

Seokjin mencari dimana cube tempat Jimin berada dan saat dia menemukannya Seokjin segera berjalan ke sana. Bahunya masih terasa nyeri dan Seokjin merasa dia tidak bisa bertarung dengan maksimal jika keadaannya seperti ini.

Terlebih lagi Jimin adalah anak dewa Ares, dia pakarnya dalam duel seperti ini. Seokjin tersenyum tipis pada Jimin sedangkan Jimin hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi.

Kemudian dinding cube naik dan sirene dibunyikan. Seokjin berusaha sekuatnya untuk tidak menunjukkan cedera di bahunya, tapi seperti yang dia duga, Jimin adalah ahlinya duel dengan tangan kosong, setelah mencoba beberapa kali berkelit dan menyerang balik, Jimin berhasil memukul tengkuk Seokjin dengan keras.

Seokjin mengerang, pukulan itu membuat pandangannya kabur dan kepalanya pusing, disaat Seokjin berusaha menemukan fokusnya kembali, Jimin melayangkan tendangan yang mengenai bahu Seokjin yang cedera dengan telak.

Teriakan Seokjin terdengar begitu keras hingga Seokjin bahkan tidak yakin itu suaranya. Dia terjatuh dengan keras ke lantai arena dan dengan kesadaran yang samar, Seokjin bisa melihat Namjoon menatap ke arahnya dari balik dinding cube yang menghalangi.

Seokjin bisa melihat kobaran api di kedua tangan Namjoon dan bagaimana mata itu terlihat memerah dan memancarkan pandangan murka. Dan setelahnya mata Seokjin terpejam.

Sirene dibunyikan karena Seokjin terbaring tidak sadarkan diri di tengah lantai arena dan bahkan sebelum dinding cube turun sepenuhnya, Namjoon sudah melompat keluar dari cubenya untuk menghampiri tubuh Seokjin yang tidak sadarkan diri dan menggendongnya dengan hati-hati.

Jimin terdiam memperhatikan tindakan Namjoon yang menggendong tubuh Seokjin dengan hati-hati, dia membawa putra Athena itu dengan tergesa-gesa keluar dari arena, bahkan dia tidak memperhatikan Jimin yang berdiri diam di dalam cube yang sama.

Jimin mengangkat pandangannya dan dia melihat Taehyung sedang menyeringai menatapnya, dan tanpa disadari oleh semua orang yang berada di arena, Taehyung mengacungkan ibu jarinya kepada Jimin.

Jimin tersenyum miring, sekarang dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan di Titan’s Game kali ini.

To Be Continued

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Part. 7: Duel”
Beranda
Cari
Bayar
Order