The Bunny See Everything

Disclaimer

Author tidak sama sekali meromantisasi dan juga mendukung perselingkuhan.

Mohon baca dengan bijak.

Author: Chiika

Jungkook melihat itu setelah pulang kuliah. Pintu kamar kakak nya terbuka memberi celah bagi serentetan suara desahan yang mengundang rasa penasaran menyelinap keluar. Mata bulat itu mendekat, mengintip sedikit kegiatan kakak nya bersama sang tunangan.

Pergelutan panas, kulit berpeluh, hanya beberapa pakaian yang melekat dan bibir terus mendesah mengucap nama pasangan lalu bagaimana sang kakak mulai mencapai klimaks.

Banyak yang bilang Jungkook adalah lelaki lugu yang masih memiliki gigi susu. Tak banyak yang tahu padahal lelaki yang tengah menjalani semester akhir nya itu tidak asing lagi dengan adegan dewasa. Tak akan munafik juga beberapa kali dia menonton film biru atau sekedar mengakses website blokiran. Dia sudah dewasa dan cukup tahu kalau tunangan kakaknya yang memiliki bulu mata lentik itu tak puas di ranjang.

Jungkook tahu..

Jungkook tahu, dan Jungkook penasaran.

Apakah dia bisa membuat pria bernama Kim Taehyung itu mencapai klimaks dengan sentuhannya?

Tapi Kim Taehyung tunangan kakaknya, mereka akan menikah musim gugur nanti. Artinya 4 bulan lagi. Sedangkan si bontot dari keluarga Jeon masih sibuk dengan studinya, judul saja baru ditemukan. Dia tidak akan mempunyai kesempatan apalagi mereka sudah dalam ikatan yang menuju ke pernikahan.

Dari celah kecil di pintu, kedua mata mereka bertemu. Pipi Jungkook merona, harusnya dia pergi tapi kakinya terpaku di lantai apalagi setelah melihat sebuah senyum sarkas dan desahan makin keras yang entah disengaja karena Jungkook melihatnya.

Jungkook mawas diri. Akhirnya dia pergi karena si junior sudah bangkit.

 

“Kamu lihat ya?”

“Hmm?” Kepala bulat Jungkook menengadah dan menemukan pria yang kemarin dia lihat sedang berjibaku di ranjang bersama kakaknya sekarang di hadapannya. Memakai kemeja putih longgar dan juga scarf terlilit di leher—yang sepertinya untuk menutupi jejak panas kemarin. Wajah Jungkook seketika merah padam, apalagi pikirannya kembali pada adegan kemarin dan suara rendah itu kembali menghantui nya padahal semalam sudah dia tuntaskan di kamar mandi.

Taehyung tersenyum, “jadi benar lihat ya, Jungkook polos sekali sampai semua terbaca di wajahnya.” Lelaki itu duduk di sampingnya. Jarak mereka sejengkal dan Jungkook tidak berani melirik lelaki menawan itu karena bisa gila dia.

Di sudut kampus Seoul National University. Angin musim panas berhembus membawa sejuk dari terik matahari, dibawah pohon Jungkook mengutuk kampus yang tiba-tiba lenggang di saat yang tidak tepat. “Ka, ngapain ke sini?”

“Hmm? Saudaraku minta tolong untuk mengantar bekal ke suaminya, dia sedang sibuk jadi aku membantunya, hitung-hitung jalan-jalan juga”

“Kakak Ipar Ka Taehyung kerja di sini?”

“Dosen, Tahu Min Yoongi? Dia kakak ipar ku.”

Mengangguk kecil Jungkook tiba-tiba terkesiap karena baru sadar dari lamunan singkatnya dan langsung melihat wajah sempurna yang bagai pahatan dewa di sampingnya. “Profesor Min maksud kakak?”

Lelaki di sampingnya tersenyum sembari mengangguk, rambut ikalnya bergoyang dan terlihat begitu halus. “Iya, haha dosen mu ya?”

“Iya! Woah tak ku sangka dosen yang tak pernah senyum dan selalu memakai baju hitam itu keluarga ka Taehyung!”

“Iya kah? Kau akan lebih terkejut lagi melihat suaminya, saudara ku! Mereka berdua punya style berbeda bagai bumi dan langit..,” mata itu tiba-tiba bertemu dengan mata bulat Jungkook. Dan saat itu angin berhembus bersama suara gemerisik daun, Jungkook terjebak dalam mata itu.

Ah on second thought, he grateful that’s the park is empty.

Tulang pipi tinggi, hidung mancung, tahi lalat di pipi. Rahang tegas, bibir berwarna merah sedikit kering juga sepasang mata yang selalu berbinar kala menatap dunia. Jungkook anak terakhir dari tiga bersaudara, dia tidak pernah merengek atau iri dengan kakak-kakaknya tapi untuk kali ini…

Jungkook benar-benar iri dengan Jeon Hwan Ju, kakak yang beda 8 tahun. Kakak tertua, kakak paling mapan dan brilian. Jungkook iri karena dijodohkan oleh pria semenawan Kim Taehyung. Benar-benar iri.

“Jungkook, apa kau pernah berciuman?”

Jungkook tersedak—padahal tidak sedang minum apa-apa—dengan ludah nya sendiri. Buku nya jatuh dan matanya membulat sempurna dengan pipi berwarna merah muda menatap pria yang lebih tua yang hanya tersenyum geli dengan sirat mata yang tidak bisa ditebak. “A-apa???”

“Pernah ciuman?”

Kalau Jungkook jawab pernah gimana? Kalau jawab jujur belum pernah?!?

Pilih Jungkook, pilih! Apakah dia harus menjadi lelaki dengan berkata sudah walaupun hanya gimmick? Atau jadi lelaki karena mengakui dia masih perjaka hingga kini.

“G-gak pernah…”

Nafas Jungkook berhenti saat wajah mereka tiba-tiba tinggal seinci. Mata itu berwarna coklat yang saat terkena sinar mentari akan berwarna emas bagai madu. Lalu lengkungan kecil senyum yang membuat Jungkook lupa masih dalam lingkungan kampus. Sialan betul, tuhan memang tidak pernah adil apalagi menciptakan Kim Taehyung hanya sebagai sesuatu yang tidak bisa diraih Jeon Jungkook.

“Mau coba???”

“Eh—?” Kalimat itu tertahan oleh sepasang bibir lembut menempel di bibir Jungkook. Pria 22 tahun itu melepas ciuman pertama nya pada tunangan kakak nya yang bibir nya selembut marshmellow.

Otak lelaki itu berteriak untuk menjauh, memutus perpagutan yang sialnya sangat nikmat hingga tubuh Jungkook kaku. Alasan kalau dia hanya lelaki biasa yang masih punya nafsu itu tidak memang tidak pernah valid karena Jungkook sendiri yang menyerah pada nafsu.

Aroma manis strawberry yang Jungkook kenal dari Vaseline lip therapy rossy lips menambah keberanian yang entah dari mana muncul. Lidah menyelinap masuk ke sela dua bibir manis itu, Jungkook dapat merasakan bagaimana Taehyung terkesiap tapi lelaki itu tidak mundur. Bahkan dia memberikan seluruh akses rongga mulut dan membiarkan Jungkook yang masih hijau itu mencoba bermain di dalam mulutnya.

Dan itu adalah sebuah kesalahan pertama Kim Taehyung.

“….k-kook…” Nafas Taehyung tersengal. Ciuman yang didasari oleh keisengan belaka kini berakhir dalam sebuah cumbuan panas.

Mendengar namanya dipanggil dengan suara serak bercampur erangan kecil itu membuat Jungkook kembali berpijak di tanah. Tautan mereka lepas dengan deru nafas panas. Sudah berapa lama mereka mencumbu karena Jungkook merasa waktu berhenti saat bibir mereka masih bersatu.

Jarak mereka se inci dan Jungkook baru sadar kalau tangan mereka juga saling bertaut. Mata bulat itu kembali menatap sang pria lebih tua yang pipinya merona manis dengan bibir merekah merah. Sial, tunangan kakaknya makin mempesona bahkan setelah sesi cumbuan mereka.

Dari balik bulu mata lentik itu, Taehyung memandang Jungkook yang mimik wajahnya bagai anak kecil yang menyadari bahwa bulan selalu mengikuti mereka setiap malam. Taehyung bisa melihat sebuah hasrat dalam kedua kelereng yang masih menatapnya lugu. Kedua bola yang begitu jernih dan melihatnya dengan damba.

Ah menyenangkan..

Menyenangkan sekali..

Jungkook..

Taehyung…

Mereka ingin lebih…

Tapi mereka tahu kalau ini salah…

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “The Bunny See Everything”
Beranda
Cari
Bayar
Order